Teori Strategi Bertahan Hidup James Scott

Teori Strategi bertahan hidup atau mekanisme survival merupakan teori dari james scott yang mengulas tentang bagaimana petani bertahan hidup dalam kondisi sulit. Bagaimana petani bertahan hidup dalam situasi yang terbatas, hasil panen tidak mencukupi terutama buruh tani yang memiliki ikatan patron klien dengan tuan tanah atau orang kaya didesanya.

Kenapa butuh strategi bertahan hidup?

Dalam uraian ini, mengambil setting contoh aktornya adalah Janda Buri (Buruh pencari ikan) di daerah gresik jawa timur. Untuk menjelaskan bagaimana mereka bertahan hidup dalam situasi sulit, uraian ini meminjam teori strategi bertahan hidup dari james C scott.

Dalam pemenuhan kebutuhan hidup yang sifatnya primer sangat memerlukan peran aktif dari tindakan nyata seseorang demi dapat bertahan hidup serta dapat memenuhi berbagai bentuk kebutuhan yang lainya yang sekunder dan tersier. Upaya tersebut merupakan konsikuensi logis dalam kehidupan, memerlukan peran dan fungsi dalam bertindak untuk memenuhi kebutuhan.

Snel dan Staring yang menyatakan strategi bertahan hidup sebagai rangkaian tindakan yang dipilih secara sadar oleh individu dan rumah tangga yang miskin secara sosial ekonomi. (Setia, 2005)

Teori Strategi bertahan hidup

Strategi bertahan hidup dipilih oleh individu dan rumah tangga pada aspek sosial ekonominya dengan menjalankan strategi seperti seorang bisa berusaha untuk menambah penghasilan lewat pemanfaatan sumber-sumber lain ataupun mengurangi pengeluaran lewat pengurangan kuantitas dan kualitas barang atau jasa, sedangkan cara dalam menyusun strategi sangat erat kaitan dengan potensi wilayah ataupun daerah yang menjadi domisili masyarakat serta struktur masyarakat.

Terdapat beragam cara dalam pemenuhan kebutuhan dalam rangka bertahan hidupnya atau disebut dengan istilah (coping strategie) merupakan cara untuk mengatasi kesulitan hidup. Setiap masyrakat yang hidup secara alamiah tidak akan pernah terlepas dengan kebutuhan sehingga mereka berkompetensi dalam rangka pemenuhanya kebutuhan demi dapat bertahan, karna masa sulit dapat dirasakan siapa saja yang hidup, utamanya masyarakat di pedesaan yang mayoritas penduduknya para petani.

Cara masyarakat dalam mengantisipasi keterpurukan ekonomi sangat ditentukan oleh posisi individu atau kelompok dalam struktur masyarakat, kepercayaan, dan jaringan sosial yang tersedia dan juga keahlian dalam memobilisasi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan, keterampilan, aset, ketersediaan pekerjaan, dan dorongan dalam dirinya yang kuat. (Setia, 2005)

Setiap masyarakat memiliki strategi yang berbeda dalam bertahan termasuk janda yang bekerja sebagai buri. Dalam menyusun strategi, individu yang secara khusus penyandang status janda tidak menjalankan satu jenis strategi melainkan mereka menggunakan strategi dengan melakukan pekerjaan sebagai buruh pencari ikan ditambak demi untuk mempertahankan hidupnya, sehingga muncul istilah multi (survival).

Artinya mereka menjalankan strateginya demi menambah penghasilan untuk menutupi kebutuhanya. Dalam hal ini Snel dan Starring mengartikan hal ini sebagai kecenderungan pelaku-pelaku atau rumah tangga untuk memiliki pemaasukan dari berbagai sumber daya yang berbeda lantaran dengan strategi tunggal tungal tidak dapat memenuhi ataupun menutupi segala kebutuhan hidupnya. (Setia, 2005).

Scott (1980), menjelaskan upaya yang dilakukan kelompok miskin guna mempertahankan hidupnya adalah: pertama, mereka dapat mengikat sabuk lebih kencang dengan mengurangi frekuensi makan dan beralih ke makanan yang mutuhnya lebih rendah.

Kedua, menggunakan alternatif subsistem yaitu swadaya yang mencakup kegiatan-kegiatan seperti berjualan kecil-kecilan, bekerja sebagai tukang, buruh lepas atau berimigrasi. Ketiga, menggunakan jaringan sosial yang berfungsi sebagai peredang kejut selama masa krisis ekonomi (Khotijah, 2014).

baca juga: penulisan daftar pustaka

Makna Mekanisme Survival atau strategi bertahan hidup

James C. Scott (1976:238-243), melihat bahwasanya individu ataupun kelompok memiliki kecenderungan untuk bertahan dari kondisi ataupun situasi yang tidak menguntungkan dengan cara melakukan bentuk mekanisme survival atau strategi bertahan hidup. Yang dimaksut Scott dengan kondisi, adalah  sebuah situasi yang lebih difokuskan terhadap kemiskinan yang melanda suatu individu ataupun kelompok. Teori Scoot menjelaskan secara nyata bahwa masyarakat miskin mempunyai beberapa indikator sebagai upaya menerapkan mekanisme survival dalam  kehidupan. Berikut ini makna dari Mekanisme Survival

BACA JUGA  Satuan-satuan dalam matematika yang sering digunakan

Bagaimana  masyarakat bisa survive dengan kebutuhan pangan yang ada.

Indikator  pertama memfokuskan pada strategi bertahan hidup masyarakat dengan cara mengurangi frekuensi konsumsi makanan setiap harinya. Karena dalam  konteks ini keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat tersebut harus diimbangi dengan membatasi terhadap pola-pola konsumtif dan  hedonistik. Pembatasan tersebut harus dimulai dari membangun kesadaran  kolektif  agar melaksanakan strategi bertahan hidup sesuai dengan caranya.

Konteks bertahan hidup yang disampaikan oleh James C.Scot secara prinsipil berupaya menegaskan pentingnya startegi dan inovasi yang disesuaikan dengan keadaan yang dialami oleh seseorang disuatu wilayah. Apabila dikorelasikan dengan strategi bertahan hidup petani ketika kesediaan beras semakin berkurang maka terjadi peralihan atau transisi konsumtif dari makanan biasanya kepada makanan yang lebih murah, contohnya seperti jagung, kentang, dan umbi-umbian yang lainnya. Secara berangsur-angsur muncul gejala-gejala lainnya seperti kelaparan. Orang-orang kaum proletar atau kaum miskin terpaksa mencari umbi-umbi liar kehutan sebagai sumber makanan.

Artinya strategi bertahan hidup seperti ini sejatinya dapat diterapkan dalam dimensi kehidupan yang lain seperti halnya ketika terjadi bencana, yang mana masyarakat mengalami krisis finansial dan ekonomi yang secara tidak langsung memaksa mereka agaar senantiasa mempertahankan hidupnya dengan cara sedemikian rupa.

Tentu persediaan makanan menjadi sangat terbatas ketika bencana terjadi. maka masyarakat perlu mengandalkan transisi dari perilaku konsumtif yang berlebihan menuju kehidupan yang sederhana. Banyak sisi yang dapat dilihat sebagai bagian yang tidak mungkin terpisahkan dari konsumtif, salah satunya dengan membeli makanan yang lebih murah dipasar-pasar tradisional maupun memanfaatkan sumber makanan yang disediakan oleh alam untuk bertahan hidup.

Gejala-gejala kelaparan berupa buruknya kondisi jasmani semakin meluas dikalangan penduduk pedesaan karena dampak dari bencana. Seorang pejabat Vietnam menerangkan bahwa 90 dari 100 penduduk desa di Nam Dan (Nghe-An) menderita lapar. Memang kelaparan bukan merupakan suatu yang asing bagi masyarakat pedesaan Annam, lapar merupakan hal yang normal bagi banyak orang dalam bulan-bulan menjelang panen berikutnya. akan tetapi lapar yang sekarang berbeda dengan yang biasanya terjadi (Scott, 1976:73).

baca juga: struktur politik

Kelaparan pada realitasnya lumrah terjadi bukan hanya kepada petani melainkan kepada masyarakat secara umum yang mengalami kondisi krisis seperti halnya bencana. Tentu setiap masyarakat memiliki ciri khas dalam bertahan hidup yang tidak jauh berbeda dengan kondisi yang disampaikan James C. Scott (1976:255). Mengingat bencana merupakan tantangan kolektif yang dihadapi bukan hanya oleh individu atau satu profesi yaitu petani melainkan dialami oleh beberapa bagian dari masyarakat yang terkena bencana atau masalah pekerjaan dari berbagai profesi.

Salah satu contoh di Desa Xuan-Nguyen didistrik Yen Thanh, di Nghe-An (Vietnam) seorang perawat memberikan pertolongan kepada seseorang yang menderita penyakit dan mencatatat bahwa 100 penduduk desa membutuhkan makanan sedangkan 40 orang lainnya mati menderita kelaparan.

Di desa yang sama, orang-orang miskin telah menjual harta benda mereka, seperti kerbau, rumah, sawah, dan harta benda lainnya. Hal ini dilakukan untuk bertahan hidup karena pada hakikatnya kondisi memungkinkan untuk melakukan tindakan yang demikian. Bencana sebenarnya juga memberikan indikator keterdesakan masyarakat untuk bertindak demi mempertahankan hidupnya ditengah paceklik. Pasalnya bencana memberikan dampak signifikan berupa berkurangnya penghasilan dari pekerjaan yang dimiliki atau bahkan menjadi tidak berpenghasilan sama sekali (Scott,1976:209).

Memanfaatkan pola Pertemanan atau jaringan sosial sebagai sarana untuk menanggulangi kemiskinan yang  telah dialami.

Indikator  kedua  lebih menekankan pada pola jaringan sosial dan pertemanan. Yang artinya, strategi bertahan hidup mengarah pada hubungan sosial antara  individu dengan individu lainnya maupun dengan masyarakat.  Hubungan tersebut bisa berupa hubungan kekeluargaan atau hubungan pertemanan dengan status sosial yang sama, sehingga mampu menciptakan  keamanan dan ketenangan dalam suatu masyarakat. Prinsip moral tentang resiprositas mempengaruhi kehidupan petani dan mungkin kehidupan sosial pada umumnya.

BACA JUGA  Teori kebenaran dalam perspektif Filsafat, 2022

Prinsip demikian berdasarkan pada gagasan yang sederhana, yakni bahwa orang harus membantu mereka terutama bagi mereka yang pernah membantunya, atau setidak-tidaknya tidak merugikan mereka. Lebih khusus lagi, prinsip itu mengandung arti bahwa satu hadiah atau jasa yang diterima menciptakan, bagi penerima satu kewajiban timbal balik untuk membalas dengan hadiah atau jasa yang sebanding.

Menurut Durkhaem, faham tentang pertukaran yang sepadan ini merupakan  prinsip moral umum yang terdapat pada semua kebudayaan. Banyak ahli antropologi, termasuk Malinowski dan Mauss, menemukan bahwa resiprositas berfungsi sebagai landasan bagi struktur persahabatan dan persekutuan dalam masyarakat-masyarakat tradisional.

Dalam perekonomian desa di Asia Tenggara prinsip resiprositas terdapat dalam banyak hal kegiatan. Bentuk saling membantu berupa gotong royong di Jawa merupakan contoh yang sangat terkenal dari resiprositas secara teratur dan bentuk saling bantu itu secara ritual diperkuat oleh slametan, suatu acara makan bersama yang dihadiri oleh kalangan tetangga, berkenaan dengan peristiwa-pweristiwa penting dalam kehidupan rumah tangga petani. Resiprositas kelihatan sebagai prinsip moral yang pokok dan mendasari kegiatan sosial didesa-desa Muangthai, baik didalam lingkungan keluarga maupun hubungan antar keluarga.

Untuk tujuan ini sangatlah penting dipahami bahwa kewajiban untuk membalas budi merupakan salah satu prinsip moral yang paling utama dan berlaku bagi hubungan baik antara pihak-pihak yang sederajat maupun antar pihak yang tidak sederajat. Didalam masyarakat petani yang belum mengenal pemisahan antar kelas, tata hubungan itu biasanya berbentuk ikatan antara patron dan klien. Kepustakaan antropologi yang sangat luas mengenai ikatan-ikatan sosial yang khas ini anatar kaum elit dan klien mereka menekankan ide moral dari resiprositas, hak dan kewajiban timbal balik, yng memberikan ikatan sosial pada sebuah ikatan yang terbentuk (Scott, 1976 : 255-257).

Kemampuan melihat keadaan  subsisten di  sekitar

Indikator  ketiga  pada prinsipnya dapat menganalisis suatu keadaan  atau sistem lingkungan sehingga menemukan kegiatan-kegiatan maupun pekerjaan yang sebelumnya belum atau tidak pernah dilakukan. Jenis kegiatan atau  pekerjaan tidak harus mengikuti hal-hal yang biasa dilakukan melainkan mengandalkan kreatifitas, inovasi dan usaha lainnya.

Strategi bertahan hidup yang ketiga ini menekankan pada aspek pencarian yang sifatnya responsif terhadap keadaan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Alternatif ini diusahakan untuk menemukan pola atau kegiatan yang sifatnya progresif James C. Scott mengenalnya sebagai menyerbu ekonomi uang.

Ciri khas dari pola ini adalah semakin tergantungnya penduduk desa kepada kemungkinan-kemungkinan marginal atau scavenging (mencari-cari sisa makanan) dalam perekonomian diluar desa. Yang terjadi bukanlah migrasi yang sesungguhnya yang mana orang bersangkutan lantas diserap sepenuhnya oleh sektor modern, melainkan pada umumnya suatu usaha perseorangan untuk menutup kekurangan didalam sumber subsitensi setempat. Unsur-usur yang pokok dari proses ini sudah sejak lama berada didaerah-daerah tertentu.

Salah satu contoh adalah mengalirnya pendatang-pendatang musiman dari Muangthai Timurlaut ke Bangkok untuk menjadi pengemudi pedicap (becak) atau mengisi lowongan-lowongan marginal lainnya dalam apa yang oleh ahli ekonomi dinamakan sektor tersier. Bagi banyak desa sekitar daerah Jakarta, pekerjaan sementara sebagai pengemudi becak, atau sebagai tukang mempunyai fungsi yang sama. Seorang penulis, yang melukiskan pola itu di Luzon Tengah, menamakannya circommuting.

Jaringan-jaringan migrasi yang serupa menghubungkan bagian-bagian terbesar kota-kota provinsi dan kota pelabuhan di Asia Tenggara dengan desa-desa yang ada disekitarnya. Ada kemungkinan bahwa tekanan-tekanan demografis dan perubahan struktural didalam pertanian akan menjadikan pola ini bukan sekedar satu pendahuluan bagi industrialisasi dan urbanisasi, melainkan suatu corak yang boleh dikatakan peemanen dari timbal desa atas masalah-masalah subsistensi.

Beberapa konsekuensi yang cukup jelas bahwa peranan yang bertambah besar dari mata pencaharian diluar desa mempunyai efek memperlemah kerjasama ekonomi politik ditingkat desa., dari segi keuangan ikatan yang paling penting sekarang adalah ikatan dengan pihak luar, sehingga hubungan antara tekanan sosial setempat dan keharusan-keharusan ekonomi yang mempersatukan desa berorientasikan subsistensi dengan sendirinya akan menjadi lemah. Disorganisasi sosial yang diakibatkannya kiranya tidak akan memungkinkan dipertahankan prinsip saling bantu dan senasib sepenanggungan yang merupakan ciri khas dari infolusi, sebagai gantinya akan melahirkan satu pola saling bermusuhan dan darwinisme sosial (Scott, 1976 : 326-328).

BACA JUGA  Dunia lierasi : dialektika peradaban manusia masa lalu menuju modern

Poposisi Teori

Teori mekanisme survival yang dipopulerkan oleh James C Scott teori tersebut memandang bahwa dua tiga cara yang dilakukan masyarakat miskin untuk bertahan hidup yaitu:

  1. Mengurangi pengeluaran untuk pangan dengan menjalan pola makan hanya sekali dalam sehari dan beralih kemakanan yang mutuhnya lebih rendah.
  2. Menggunakan alternatif subsistensi yaitu swadaya yang mencakup kegiatan seperti berjualan kecil-kecilan, bekerja sebagai tukang, sebgai buruh lepas, atau melakukan migrasi untuk mencari pekerjaan. Cara ini dapat melibatkan seluruh sumber daya yang ada di dalam rumah tangga miskin, terutama istri sebagai pencari nafkah tambahan bagi suami.
  3. Meminta bantuan dari jaringan sosial seperti sanak saudara, kawan-kawan sedesa, atau memanfaatkan hubungan dengan pelindungnya (patron). (Khodijah, 2014)

Definisi mekanisme survival yang lebih memiliki kedekatan dengan konteks penelitian yakni survival didefinisikan sebagai sebuah upaya yang dilakukan untuk tetap bertahan hidup dalam kondisi yang minimal atau buruk sekalipun. Hal tersebut berarti pula sebagai jupaya untuk menghadapi kondisi-kondisi terburuk dimasa yang akan datang.

Gambaran dari James C Scott yang menyatakan bahwa rentanya masyarakat miskin, ia menggambarkan bahwa setiap kebijakan makro yang terkena pada keluarga miskin seperti ombak yang ,menerjang orang yang tenggelam sebatas hidung. Sekali ombak datang maka tenggelam pula orang tersebut.

Oleh karenanya kelompok miskin menggunakan prinsip “dahulukan selamat”. Selagi meski terbatas, masyarakat desa memiliki masih memiliki pilihan yang lebih luas daripada masyarakat kota. Ada ketersediaan bahan pangan yang masih melimpah tidaklan terlalu menyulitkan masyarakat perdesaan dalam bertahan hidup (Nugraha, 2015).

Upaya dapat bertahan hidup dalam situasi yang kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan anak-anaknya banyak dirasakan oleh sebagian besar masyarakat yang berstatus janda yang telah memnuhi kebutuhan hidupnya dengan cara melakukan pekerjaan sebagai buruh pencari ikan di tambak dengan adanya tindakan janda menjadi buri, pekerjaan tersebut bertujuan untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Terutama dalam pembiayaan anak-anaknya dalam sekolah dan kebutuhan primer yang lainya.

baca juga: New: Peran Ganda Perempuan Desa Dalam Perekonomian Keluarga

Menurut Witoro dalam makalahnya yang berjudul “Menemukan Kembali dan Memperkuat Sistem Pangan Lokal” ada lima sumber kehidupan yang dimiliki oleh setiap individu atau unit sosial yang lebih tinggi dalam upaya mempertahankan kehidupan yaitu:

  • Human capital, yakni modal yang dimiliki berupa keterampilan, pengetahuan, tenaga kerja serta kesehatan.
  • Sosial capital, yakni kekayaan sosial yang dimiliki masyarakat berupa jaringan.
  • Natural Capital, yakni persediaan sumber daya alam berupah tanah, hutan, air, keaneragaman hayati dan lainya.
  • Physical capital, yakni infrastruktur dasar jalan, saluran irigasi, sarana komunikasi, dan lain sebagainya.
  • Financial capital, yakni sumber-sumber keuangan yang digunakan oleh masyarakat untuk mencapai tujuan kehidupanya. Berupa uang tunai, persediaan dan peredaran uang reguler.

Maka dapat disimpulkan bahwa mekanisme survival lebih memiliki kedekatan dengan konteks penelitian yakni survival yang didefinisikan sebagai sebuah upaya yang dilakukan untuk tetap bertahan hidup dalam kondisi yang buruk. Hal tersebut sebagai upaya untuk menghadapi kondisi terburuk dimasa yang akan mendatang.

Penelitian Scott menjelaskan bagaimana individu mampu bertahan hidup (survive) pada kondisi yang sulit, khususnya pada kelompok petani. Melihat lebih jauh kondisi sulit semacam itu dialami oleh wanita buruh pencari ikan yang harus bertahan hidup dengan cara yang berbeda untuk dilakukan oleh orang lainya yang memiliki persyaratan dalam bekerja di tempat lain.

Leave a Reply