Teori kebenaran dalam perspektif Filsafat, 2022

  • March 7, 2022
  • 266 Views
Teori kebenaran

Kebenaran Mutlak VS Kebenaran Relatif

Perdebatan mengenai kebenaran memang relatif menguras energi, terlebih jika tidak menggunakan kesepakatan pemahaman bersama. Untuk itu dibutuhkan satu perspektif teori kebenaran sebagai tolak ukurnya. Sebagian berpendapat bahwa kebenaran haruslah bersifat mutlak, sebagian lagi berpendapat bahwa kebenaran bersifat relatif.

Menjembatani dua perbedaan diatas, terdapat satu pemahaman menarik, kita dapat melihatnya berdasarkan substansi dan aksidensi dari objek. Sebagaimana kita pahami, bahwa unsur objek adalah substansi dan aksidensi. Unsur substansi mewakili kebenaran mutlak, sementara unsur aksidensi adalah mewakili kebenaran relatif.

Untuk memudahkan pemahaman ini marilah kita buat analogi. Sebagai contoh adalah Kursi, by default kursi adalah rangkaian dari papan (sebagai alas duduk) dan di topang oleh 4 penyangga. Sementara pada kenyataannya, banyak sekali kursi yang berbeda dengan definisi diatas. Ada kursi yang memiliki 3 kali penyangga, 5, 6 bahkan 10 kaki. Kemudian ada yang memiliki sandaran punggung, ada yang bisa bergoyang dan lain sebagainya. Disinilah peran unsur substansi dan aksidensi.

Definisi minimal dari kursi adalah unsur substantif dari kursi. Dimana andaikan tidak ada kaki penyangganya, maka tidak disebut kursi, hanya disebut papan atau alas duduk saja. Kesimpulannya, unsur substansi adalah unsur yang harus ada pada objek yang didiskusikan. Artinya, siapapun yang menilai dan berpendapat, unsur substantif ini dianggap sebagai kebenaran mutlak yang diakui oleh siapapun. Sementara itu, unsur aksidensi adalah unsur pelengkap atau mungkin bisa disebut aksesoris, yang tidak harus ada pada objek. Karena sifatnya yang “tidak wajib ada” maka unsur ini mewakili kebenaran relatif.

BACA JUGA  Jurnal Internasional - Pengertian, fungsi dan Manfaat

Itulah sedikit pengantar terkait dengan teori kebenaran. Nah kini akan kita bahas tentang tentang teori kebenaran. Berikut uraiannya:

Teori kebenaran

teori kebenaran
Coherence Theory of Truth

Sebelumnya telah kita bahas mengenai logika, bahasa dan penemuan kebenaran, yang berkaitan dengan pembahasan kali ini.

Dalam pemikiran filsafat pembahasan masalah kebenaran sudah lama diperdebatkan. Plato memulai pencarian kebenaran dengan metode dialog. Sejak masa itulah teori tentang kebenaran terus mendapatkan penyempurnaan.

Untuk mengetahui sebuah pengetahuan mempunyai nilai kebenaran atau tidak, hal ini berkaitan dengan sikap dan metode epistemologi untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Pada umumnya teori-teori kebenaran yang sering digunakan adalah:

Teori kebenaran saling berhubungan (Coherence Theory of Truth)

Teory kebenaran ini dibangun oleh para rasionalis, seperti Leibniz, Spinoza, Hegel dan Bradley. Teori ini berkembang hingga saat ini, Louis Katsoff (1986) menjelaskan “…Suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan proposisi lain yang benar. Atau jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita. Pembuktian kebenaran proposisi didasarkan pada jenisnya, apabila merupakan proposisi sejarah maka pembuktiannya harus dengan fakta sejarah,apabila berupa proposisi logis maka pembuktiannya juga melalui logika. Misalnya pengetahuan tentang Abad pertengahan, dalam hal ini pembuktian kebenarannya tidak mungkin secara langsung dari sisi pengetahuan tersebut, melainkan melalui proposisi-proposisi terdahulu yang sudah diakui kebenarannya.

Teori kebenaran saling berkesesuaian (correspondence Theory of truth)

Teori kebenaran ini merupakan teori kebenaran yang paling tua, menurut teori ini pengetahuan mengandung nilai kebenaran apabila sesuai dengan dunia kenyataan (terbukti secara empiris). Misalnya pengetahuan tentang besi yang dipanaskan dalam suhu 1000 derajat akan melebur. Pengetahuan tersebut dibuktikan dengan memanaskan besi sampai 1000 derajat. Apabila besi tersebut melebur maka pengetahuan tersebut mengandung kebenaran, apabila tidak melebur berarti pengetahuan tersebut tidak mengandung kebenaran.

BACA JUGA  The Best 5 Program dan Aplikasi Matematika

Teori kebenaran Inherensi (inherent Theory of truth)

Menurut teori ini suatu proposisi mempunyai nilai kebenaran apabila mempunyai nilai guna atau manfaat. Teori ini sebenarnya merupakan teori pragmatis. Kattsof menjelaskan teori ini memposisikan kebenaran dalam salah satu konsekuensi. Atau sebagai sebuah pemecahan yang memuaskan atas situasi yang problematis. Misalnya, ketika mau turun dari bis, oleh kernet dianjurkan untuk mendahukan kaki kiri, tujuannya agar penumpang tidak terjatuh dan selamat dari bahaya. Kemudian penumpang menurutinya dan selamat tidak terjatuh. Dalam contoh tersebut kebenaran bukanlah turun dengan mendahulukan kaki kiri, akan tetapi keselamatan karena mendahulukan kaki kiri.

Teori kebenaran berdasarkan arti (semantic Teori of truth)

Dalam teori ini kebenaran diukur dari referensi yang mendasari proposisi yang diajukan. Teori ini dianut oleh para tokoh filsafat analitika bahasa. Misalnya pengertian Sosiologi dari dua kata socio dan logos, Socio berarti berkawan (berinteraksi) dan logos berarti ilmu. Proposisi ini dianggap benar apabila secara etimologi mempunyai referensi yang jelas. Apabila tidak ada referensi yang jelas maka pengertian tersebut adalah salah.

Teori kebenaran sintaksis

Teori ini melihat kebenaran dari sisi gramatika yang dipakai dalam sebuah proposisi atau pernyataan. Pernyataan atau proposisi mempunyai nilai benar apabila mengikuti aturan-aturan sintaksis yang baku. Misalnya sebuah kalimat minimal harus ada Subyek-predikat. Apabila sebuah pernyataan atau proposisi tidak memenuhi kaidah-kaidah sintaksis maka pernyataan atau proposisi tersebut dianggap tidak mengandung nilai kebenaran. Teori ini dianut diantara filsuf analisis bahasa.

Teori kebenaran Nondeskripsi

Teori memandang suatu pernyataan mempunyai nilai kebenaran apabila mempunyai fungsi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Teori ini dianut oleh para fungsionalis, karena kebenaran didasarkan pada peran dan fungsi dari pernyataan tersebut (Surajiyo, 2008: 104-107 dan Lorenz Bagus, 2005: 412-416).

Leave a Reply

Your email address will not be published.

x