Teori Interaksionisme Simbolik (G. Herbert Mead)

  • June 5, 2022
  • 25 Views
teori interaksionisme simbolik

Teori interaksionisme simbolik – Merupakan perspektif sosiologis yang menjelaskan perilaku individu dan membuat keputusan berdasarkan pada lingkungan sosialnya (individu lain, adat istiadat dan lain sebagainya). dalam klasifikasi teori sosiologi, teori ini termasuk dalam perspektif teori sosiologi mikro

Dalam masyarakat tertentu bentuk penghormatan kepada orang lain bisa saja berbeda bentuknya, simbol penghormatan yang berbeda ini kemudian berpengaruh pada perilaku individu dalam interaksinya. Dengan memahami hal ini, seseorang akan mengerti bagaimana harus berperilaku dan mengambil keputusan ketika berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Teori ini selaras dengan pemikiran Max Weber tentang tindakan sosial, dimana seseorang dalam bertindak dibedakan menjadi tindakan sosial tradisonal, rasional instrumental, tindakan sosial Afektif dan tindakan sosial orientasi nilai. Intinya tindakan individu secara subyektif ditujukan kepada individu lain.

Untuk mendapatkan update dan memudahkan membaca artikel dari web ini tanpa membuka browser internet, anda dapat mengunduh Aplikasi dunialiterasi.com di Play Store.

Teori Interaksionisme Simbolik (Herbert Mead)

Dalam salah satu karya Mead yaitu dalam buku Mind, Self, dan Society. Mead menguraikan bahwa proses taham pengembangan diri (Self) manusia. Sejak lahir manusia mengalami perkembangan secara bertahap melalui interaksi dengan individu atau anggota masyarakat lain (Sunaryo, 2004).

Karakteristik substantif Interaksionisme simbolik

Menurut Blumer (Ritzer, 1985) istilah interaksionisme simbolik menunjukan sikap interaksi antar manusia. Kekhasannya adalah bahwa manusia saling menafsirkan dan saling mendefinisikan tindakan yang dilakukan. Bukan hanya sekedar reaksi belaka dari tindakan seseorang terhadap orang lain.

Tanggapan seseorang tidak dibuat secara langsung terhadap tindakan orang lain, tetapi didasari atas makna atau stimuli yang diberikan terhadap tindakan yang dilakukan. Setiap tindakan individu, diatur oleh simbol-simbol, interpretasi atau saling berusaha untuk memahami maksud dari tindakan masing-masing. Sehingga dalam proses interaksi manusia itu bukan suatu proses saat adanya stimulus secara otomatis dan langsung menimbulkan respon atau tanggapan.

Tetapi antar stimulus yang diterima dan respon yang terjadi sesudahnya di proses interpretasi diantarannya oleh si aktor atau individu (Soge, 2019).

Menurut pandangan Mead, tindakan sebagai unit primitif dalam teorinya, dalam menganalisis tindakan, pendekatan Mead hampir sama dengan pendekatan behavioris dan memusatkan perhatian pada rangsangan (stimulus) dan tanggapan (response). Seperti yang dikatakan Mead, kita membayangkan stimulus sebagai sebuah kesempatan atau peluang untuk bertindak, bukan suatu paksaan atau perintah.

4 tahapan basic interaksi

teori interaksionisme simbolik - tahapan interaksi

Mead mengidentifikasi empat basis dan tahapan tindakan yang saling berhubungan (Schmitt dan Schmitt, 1996). Keempat tahapan itu mencerminkan satu kesatuan organik (dengan kata lain keempatnya saling berhubungan secara dealektis (Ritzer, 2014).

  1. Impuls

Tahapan yang pertama adalah dorongan hati atau implus (impulse) yang meliputi stimulasi atau rangsangan spotan yang berhubungan dengan alat indera dan reaksi aktor terhadap rangsangan, kebutuhan untuk melakukan sesuatu terhadap rangsangan itu.

Aktor (baik binatang atau manusia) secara sepontan dan tanpa berfikir memberikan reaksi atas implus, tetapi aktor manusia lebih besar kemungkinannya akan memikirkan reaksi yang tepat.

Seorang aktor atau masyarakat betindak melakukan sesuatu karena suatu kebutuhan dorongan dari luar dirinya yang melibatkan individu bertindak, dan juga masyarakat memikirkan tindakan atau reaksi yang tepat terhadap situasi kondisi dalam masyarakat.

Dalam berfikir tentang reaksi, manusia tidak hanya mempertimbangkan pengalaman situasi kini, tetapi juga pengalaman masa lalu dan mengantisipasi akibat dari tindakan di masa depan. Secara menyeluruh, implus, seperti semua unsur teori Mead, melibatkan aktor atau masyarakat dan lingkungan.

  • Persepsi.

Tahapan kedua adalah persepsi (perception). Aktor menyelidik dan bereaksi terhadap rangsangan yang berhubungan dengan implus. Manusia memiliki kapasitas untuk merasakan dan memahami stimuli pendengaran, senyuman, rasa, dan sebagainya.

Persepsi melibatkan rangsangan yang baru masuk maupun citra mental yang ditimbulkannya. Aktor tidak secara spontan menanggapi stimuli dari luar, tetapi memikirkan sebentar dan menilainya melalui banyangan mental.

Manusia tidak hanya tunduk pada rangsangan dari luar, mereka juga secara aktif memiliki ciri-ciri rangsangan dan memilih di antara sekumpulan rangsangan. Artinya sebuah rangsangan mungkin mempunyai beberapa dimensi dan aktor mampu memilih di antaranya.

Aktor biasa berhadapan dengan banyak rangsangan yang berbeda dan mereka mempunyai kemampuan untuk memilih yang sekirannya perlu diperhatikan dan yang mana perlu diabaikan. Mereka menolak untuk memisahkan orang dari objek yang mereka pahami. Tindakan memahami objek itulah yang menyebabkan sesuatu itu menjadi objek bagi seseorang. Pemahaman dan objek tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

  • Manipulasi.

Tahap ketiga adalah manipulasi (manipulation). Segera setelah implus menyatakan dirinya sendiri dan objek telah dipahami, langkah selanjutnya adalah manipulasi objek atau mengambil tindakan berkenaan dengan objek itu. Tahapan manipulasi merupakan tahap jeda yang penting dalam proses tindakan agar tanggapan tidak terwujud secara spontan, meberi sela waktu dengan memperlakukan, memungkinkan manusia merenungkan berbaga macam tanggapan.

Seorang aktor akan bertindak mencari tahu serta memikirkan reaksi setelah melalui beberapa proses berfikir yang lama, setiap tindakan yang dilakukan aktor mempertimbangan dengan pengalaman masa lalu, sehingga aktor tidak melakukan suatu reaksi dengan spontan, tetapi melalui tahapan serta proses eksperimen di mana aktor secara mental menguji berbagai macam hipotesis tentang apakah yang akan terjadi bila tindakan dilakukan.

  • Konsumsi.

Berdasarkan pertimbangan ini, aktor mungkin memutuskan untuk memakan cendawa (atau tidak) dan ini merupakan tahapan keempat tindakan, yakni tahapan pelaksanaan/konsumsi (consummation), atau mengambil tindakan yang memuaskan dorongan hati yang sebenarnya.

Manusia bertindakan dengan kemampuannya untuk memanipulasi suatu tindakan atau reaksi dengan memikirkan impilkasi dari tindakan yang dilakukan, aktor melakukan suatu tindakan dengan proses berfikir melalui tindakan yang dilakukannya, dengan dorongan internal aktor malakukan tindak yang memberikan kepuasan pada dirinya dan meminimalisir impilkasi dari tindakan tersebut.

Semisal manipulasi makanan mungkin menimbulkan dorongan rasa lapar individu dan persepsi bahawa orang itu lapar dan bahwa makanan tersedia untuk memenuhi kebutuhan (Ritzer, 2014).

Interaksionisme Simbolik dalam Praktik

Menurut Mead manusia memnpunyai sejumlah kemungkinan tindakan dalam pemikirannya sebelum ia memulai tindakan yang sebenarnya. Sebelum melakukan tindakan yang sebenarnya, seseorang mencoba terlebih dahulu berbagai alternative tindakan melalui pertimbangan proses berfikir.

Karena itu, dalam proses tindakan manusia terdapat suatu proses mental yang tertutup yang mendahului proses tindakan yang sebenarnya. Mead melihat bahwa persepsi tentang dunia luar dan kesadaran subyektif saling memiliki ketergantungan, pikiran merupakan suatu proses, dengan proses itu individu atau masyarakat menyesuaika diri dengan suatu lingkungan, dan kemudian pikiran atau kesadaran muncul dalam bentuk proses tindakan atau reaksi (Wirawan, 2012).

Konsep teori Interkasionisme simbolik, menurut pandangan Mead, tindakan sebagai unit primitif dalam teorinya, dalam menganalisis tindakan, pendekatan Mead hampir sama dengan pendekatan behavioris dan memusatkan perhatian pada rangsangan (stimulus) dan tanggapan (response).

Manusia menyatu dalam tindakan sosial. Tahapan tindakan itu meliputi, implus, persepsi, manipulasi, dan konsumsi atau pemenuhan. Manusia bertindak melibatkan refleksi dan mengasumsikan adanya suatu kualitas yang baru, dorongan ini dipancarkan melalui tindakan yang terjadi.

sederhana persepsi masyarakat muncul sebab di pengaruhi oleh lingkungan dan kelompok masyarakat yang melalui tahapan berfikir. Dalam berfikir reaksi atau respon, individu tidak hanya mempertimbangkan situasi saat ini tetapi melihat pengalaman masa lalu dan mengantisipasi akibat dari tindakannya. melalui tahap dan proses pengalaman masa yang dipengaruhin sehingga muncul sebuah reaksi atau stigma.

Menurut Baron & Byrne mengemukakan bahwa persepsi sosial (Social Perception) adalah proses untuk mencobak mengetahui dan memahami orang lain. Melalui persepsi seseorang berusaha mencari tahu dan mengerti orang lain (Mawardi, 2013).

Secara senderhana dapat kita pahami bahwa persepsi atau stigma masyarakat dalam penelitian ini merupakan kesan yang diungkapkan masyarakat setelah melihat tindakan obyek, atau berinteraksi dengan obyek yaitu pandangan terhadap kiai yang ikut serta dalam konstestasi politik di Desa Jungkat Kecamatan Raas Kabupaten sumenep. Kesan tersebut bisa berupa pandangan positif atau negatif.

Masyarakat melakukan suatu tindakan sosial atau reaksi karena suatu kebutuhan yang didorong dari luar dirinya, yang melibatkan individu untuk bertindak serta memikirkan tindakan yang tepat. Contoh: Tindakan masyarakat dalam merespon keikut sertaan ulama atau kiai dalam panggung politik memiliki respon yang bervariasi, bahkan ada yang begitu antusias serta seringkali melakukan kampanye dengan mengkaitkan acara keagamaan dan politik seperti pengajian, sholawatan, dan yasinan bersama yang langsung di hadiri kiai serta paslon yang sedang diusungnya.

Selain itu, ada masyarakat yang bersikap apatis atau tidak menyatakan sikap apapun terhadap kiai yang berpolitik. Sebaliknya ada yang memiliki interpretasi negatif, karena lingkungannya memberikan pemahaman bahwa kiai tugasnya adalah dalam urusan agama bukan pada persoalan politik.

By Ahmad Yani

Leave a Reply