Reog Ponorogo: Wisata Budaya yang mendunia

  • February 20, 2022
  • 123 Views
reog Ponorogo e1645351244668

Reog ponorogo merupakan kesenian khas ponorogo yang telah mendunia. Bahkan pernah di Claim negara tetangga. Hal ini karena Reog Ponorogo memang menarik, unik dan layak menjadi Ikon wisata.

Daftar Isi

Lokalitas sebagai modal pembangunan

Lokalitas dan pembangunan infrastruktur yang ada di wilayah Indonesia adalah dua hal yang saling berkaitan maupun menegasi antara satu sama lain. Pada salah satu sisi, lokalitas berkaitan dengan masyarakat lokal tentang bagaimana individu dan sistem merespon alam dan individu lain dalam kebudayaan (Kusumo dalam Susiana, 2015).

Dengan rasionalitasnya sendiri, masyarakat lokal berinteraksi baik secara homogen maupun secara heterogen. Di sisi homogen ditunjukkan dengan definisi identitas bersama sebagai sistem yang tetap bagi masyarakat terbatas tersebut.

Sedangkan di Sisi heterogen lebih cair dengan interaksi antar individu dalam menanggapi sistem melalui konstruksi makna yang terus- menerus terjadi dalam perilakunya. Lokalitas sendiri tidak hanya definitif namun juga menghargai perbedaan melalui tradisi interaksi yang telah terbangun sebelumnya (Smith dan Riley 2004:225).

Hal ini dikarenakan individu sendiri yang memiliki konstruksi sosial yang berbeda dan sistem yang menghargai tradisi historis dengan baik pula. Bukan terbelakang atau primitif, lokalitas memiliki kekayaannya tersendiri terhadap bagaimana manusia hidup dalam berbagai kemungkinan dan perbedaan.

Lokalitas dapat berkelindan dengan modernitas layaknya persinggungan hermeneutis antar horizon tradisi. Pengembangan lokalitas dan pembangunan komunitas merupakan salah satu metode yang dapat digunakan oleh pekerja sosial dalam revitalisasi kondisi masyarakat. Metode ini pada dasarnya merupakan strategi dalam perubahan sosial yang direncanakan secara profesional untuk mengatasi masalah atau memenuhi kebutuhan di masyarakat, meskipun terkadang juga didasari oleh masalah atau kebutuhan individu atau kelompok.

Pengembangan lokalitas dan pengembangan komunitas dapat dikembangkan dalam berbagai metode sesuai dengan kebutuhan yang ada di masyarakat atau berdasar masalah yang ingin diselesaikan dalam masyarakat. Untuk dapat membantu memahami pembentukan lokalitas dan pembangunan komunitas.

Lokalitas : Reog Ponorogo

Dalam konteks Indonesia, lokalitas adalah Khasanah kebudayaan daerah dengan sistem tradisi tertentu. Baik dalam perilaku sosial maupun terhadap alam, lokalitas adalah akar dari setiap kebudayaan di Indonesia baik kaum urban maupun pedesaan. Mulai dari kesukuan hingga keagamaan di Sumatra hingga Papua memiliki karakteristik berbeda dan memperkaya lokalitas Indonesia sekaligus. Pada sisi pembangunan infrastruktur, modernitas selalu menjadi asas dan tujuan. Yang modern adalah yang mengutamakan kemajuan bagi individu di dalam sistem sehingga sistem tersebut dapat maju dengan baik pula.

BACA JUGA  Sinergi Masyarakat Dalam Pembangunan Pariwisata

Seperti suatu contoh adalah lokalitas pembangunan wisata budaya yang ada di Kabupaten Ponorogo. “Ponorogo Kota Reog” sebutan itulah yang sering kita dengar ketika orang luar daerah Ponorogo menyebut Kota Ponorogo, daerah yang terletak di barat daya Provinsi Jawa Timur ini merupakan salah satu pusat kebudayaan asli Indonesia dan memiliki bergam keindahan yang menarik didalamnya, salah satunya adalah kesenian Reog Ponorogo.

Ponorongo dianggap sebagai kota asal reog yang merupakan kesenian warisan leluhur Indonesia, yang sampai sekarang masih aktif dan dikenal oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan wisatawan mancanegara. Tidak luput pula pintu masuk Kota Ponorogo yang berada di perbatasan Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Trenggalek dihiasai oleh patung reog lengkap dengan pemain gamelannya.

Reog adalah budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal ­– hal yang berbau mistik, ilmu kebatinan dan kekuatan supranatural lainnya. Salah satu pertunjukan yang ada pada kesenian reog yakni memper totonkan keperkasaan pembarong dalam mengangkat dadak merak seberat 50 – 60 kg yang digigit sepanjang pertunjukan berlangsung. Tak hanya itu, seni reog Ponorogo juga diiringi beberapa gamelan seperti, kempul, ketuk, kenong, ketipung, terompet, angklung, dan lain sebagainya.

Di dalam kesenian reog juga terdapat warok tua, warok muda, jathil, pembarong, bujangganong dan klono sewandono. Jumlah anggota grup reog Ponorogo sekitar 20 – 30an orang, sedangkan peran utamanya ada pada warok dan pembarongnya. Reog dimanfaatkan sebagai sarana mengumpulkan masa dan merupakan saluran komunikasi yang efektif bagi penguasa pada waktu itu.

Selanjutnya, kesenian reog terus berkembag seiring dengan perkembangan zaman. Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa perristiwa seperti, pernikahan, khitanan, dan hari – hari besar nasional. Dalam pementasan kesenian reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2-3 tarian pembukanya.

Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6 – 8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam dan muka dipolesi warna merah. Setelah tarian pembuka selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung pada kondisi dimana kesenian reog tersebut ditampilkan. Jika berhubung dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan, sedangkan untuk acara hajatan dan pernikahan biasanya yang ditampilkan adalah cerita pendekar. Adegan terakhir adalah singa barong dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50 – 60 kg, topeng yang berat ini dibawa penarinya dengan gigi kemampuan untuk membawa topeng ini selain diperoleh dengan latihan berat, juga dipercaya diperoleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan bertapa/semedi.

BACA JUGA  New: Pariwisata Berkelanjutan Berbasis lokalitas 2022

baca juga: New: Pariwisata Berkelanjutan Berbasis lokalitas 2022

Wisata Budaya Ponorogo

reog ponorogo

Ponorogo juga mempunyai tradisi yang dimiliki oleh Daerah IstimewaYogyakarta yaitu grebek suro. Bedanya dengan yang ada di Yogyakarta, grebek suro di Ponorogo adalah acara tradisi kultural dalam wujud pesta rakyat. Seni dan tradisi yang ditampilkan salah satunya adalah  Festifal Nasional Reog Ponorogo (FNRP).

FNRP dilaksanakan dengan jangka waktu tertentu dengan masa final dilaksanakan pada malam puncak rangkaian acara grebek suro. Pada rangkaian acara grebek suro, final FNRP dilaksanakan pada malam 1 Muharram yang biasa disebut dengan 1 Suro pada kalender Jawa. Peserta FNRP berasal dari daerah – daerah seluruh Indonesia seperti, Jakarta, Yogyakarta, Kalimantan, Malang, Madiun, dan Ponorogo sendiri.

Bahkan belakangan ini FNRP sudah mulai merambah ke kancah internasional dengan diikuti oleh peserta dari luar negeri. Alun – alun Ponorogo selalu menjadi tempat dilaksanakannya pertunjukan FNRP. Tempat ini juga didominasi dengan berbagai monument dan patung yang melambangkan tradisi reog dan berbagai legendanya. Tapi, sayangnya tahun ini pandemi Covid – 19 membuat tiga agenda besar di Kabupaten Ponorogo bakal ditiadakan. Salah satunya adalah FNRP, hal ini guna meminimalisir penularan Covid – 19 pasalnya agenda besar tersebut akan menarik antusiasme puluhan ribu penonton dari dalam maupun luar ponorogo yang ingin menyaksikannya.

Hal ini disampaikan langsung oleh Bupati Ponorogo aktif saat itu yaitu H. Ipong Muchlissoni kepada media Ponorogo. Meskipun FNRP ditiadakan, tetapi untuk pertunjukan reog malam bulan purnama maupun reog tanggal 11 disetiap bulannya akan dinormalkan kembali, dengan mematuhi protokol kesehatan. Khusus untuk reog tanggal 11 akan diselenggarakan pada 307 desa dan kelurahan diseluruh Kabupaten Ponorogo. Hal ini sesuai perintah bupati Ponorogo H. Ipong muchlissoni yang mewajibkan setiap desa dan kelurahan di  Kabupaten Ponorogo untuk menyelenggarakan kesenian reog.

Kebijakan ini sudah mulai diterapkan mulai bulan Juli 2019 lalu dan keaktifan desa yang menggelar reog rutin akan mendapat penilain dan menunjukkan kinerja yang baik. Ini yang akan membedakan penilaian kinerja satu desa dengan desa lainnya. Diterapkannya kebijakan ini supaya meningkatkan gairah pelestarian kesenian reog di Ponorogo yang menjadi tempat kelahiran  kesenian tradisional ini serta agar kesenian reog tidak kehilangan eksistensinya.

BACA JUGA  Gili Iyang Pulau Awet muda: Surga pariwisata madura

 Lebih dari itu, sebenarnya kesenian reog Ponorogo sudah pernah didaftarkan ke United Nations Education, Scientific Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2010, tetapi belum ditanggapi. Akhirnya didaftarkan kembal ipada tahun 2016 dan ditanggapi pada tahun 2017. Menurut rencana UNESCO akan menggelar pleno pada tahun 2020 ini, untuk memutuskan apakah permohonan Indonesia disetujui atau tidak. Untuk mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi reog Ponorogo.

Antara lain, pelestarian reog obyok yang merupakan seni pertunjukan reog yang tidak terikat aturan atau pakem (masih asli), berbeda dengan reog garapan yang ditujukan untuk panggung festifal. Syarat lainnya adalah  reog harus dapat dimainkan dan dinikmati di 10 negara. Saat ini reog sudah dimainkan di Malaysia, Suriname, dan Australia. Sehingga, masih perlu setidaknya tujuh negara lagi untuk memenuhi kriteria tersebut.

Selain berupaya mendapat pengakuan dari dunia internasioal melalui UNESCO, kesenian reog Ponorogo juga sudah dipatenkan di dalam negeri melalui Kementrian Kehakiman sejak tahun 1997. Seharsnya, kita patut berbangga memiliki kesenian reog yang akan dijadikan warisan kebudayaan dunia yang berasal dari Indonesia.

Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda harus melestarikan budaya – budaya daerah warisan leluhur yang syarat akan nilai – nilai kearifan lokalnya dengan ikut berpartisipasi didalamya maupun ikut mensosialisasikan kepada adik – adik kita akan kebudayaan dan sejarah daerah kita masing – masing supaya nilai – nilai kearifan lokal ini tetap tertanam pada generasi muda mendatang, serta kesenian seperti ini bisa menjadi ujung tombak pembanguanan wisata budaya di daerah kita dan juga dapat membuat daerah kita lebih dikenal oleh masyarakat dunia.  

Sehingga budaya asli kita tidak luntur seiring perkembanga zaman yang pesat pada era globalisasi ini. Lebih ironisnya lagi, jangan sampai budaya kita diakui oleh negara lain akibat dari generasi mudanya yang tidak melestarikan budaya bahkan tidak mengetahui akan budaya daerah warisan leluhurnya sendiri.

By: Tedy Kurniawan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

x