Pemberdayaan Masyarakat Desa (Masa Pandemi Covid – 19)

  • June 14, 2022
  • 28 Views
Pemberdayaan masyarakat

Pemberdayaan masyarakat adalah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai – nilai masyarakat untuk membangun paradigma baru dalam pembangunan yang bersifat people – centered, participatory dan suistanable (Chamber, 1995 dalam Noor, 2011).

Pemberdayaan Masyarakat : pengertian dan tujuan

Pemberdayaan merupakan bagian dari strategi pembangunan yang menekankan pada aspek partisipasi dan lokalitas. Strategi ini meniscayakan pelibatan masyarakat sebagai subyek pembangunan dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia.

Pemberdayaan sebagai proses pembangunan bertujuan menciptakan kemandirian masyarakat dalam mengelola, memanfaatkan potensi untuk memperbaiki kondisi. Endingnya adalah terciptanya masyarakat yang berdaya, mandiri baik dalam ekonomi, politik maupun sosial.

Pemberdayaan secara Etimiologis berasal dari kata “daya” – Power, daya merupakan kekuatan atau kemampuan komprehensif yang mencakup berbagai aspek. Berdasarkan pengertian ini, pemberdayaan ini dapat diartikan sebagai proses untuk menjadi berdaya, mempunyai kekuatan dan kemampuan.

Pemberdayaan juga diartikan sebagai proses pemberian daya, kekuatan atau kemampuan oleh pihak yang berdaya kepada kelompok/golongan yang tidak atau belum berdaya.

Secara kronologis, pemberdayaan sebagai proses mengacu kepada rangkaian tindakan sistematis untuk melakukan perubahan pada masyarakat yang kurang atau belum berdaya menjadi masyarakat yang berdaya.

Aspek kondisi masyarakat yang menjadi sasaran setidaknya mencakup perubahan bertahap dalam Knowledge, Attitude, dan practice (KAP). 

Kondisi masyarakat yang kurang berdaya dalam hal pengetahuan, kesadaran perilaku – sikap serta keterampilan secara bertahap di berdayakan dalam tiga aspek tersebut melalui tahapan dan langkah-langkah sistematis.

Pemberdayaan masyarakat

Kajian dalam memahami Aspek Pemberdayaan

Dalam kerangka ini upaya untuk memberdayakan masyarakat (empowering) dapat dikaji dari tiga aspek yaitu:

  • Enabling adalah menciptakan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat dapat berkembang.
  • Empowering yaitu memperkuat potensi yang dimiliki masyarakat melalui langkah – langkah nyata yang menyangkut penyediaan berbagai input dan pembukaan dalam berbagai peluang yang akan membuat masyarakat semakin berdaya.
  • Protecting yaitu melindungi dan membela kepentingan masyarakat lemah (Noor, 2001).

Masih banyak masyarakat pedesaan yang belum bisa memberdayakan potensi maupun masyarakat secara maksimal. Dikarenakan banyak kendala yang dikeluhkan oleh masyarakat baik kendala dari factor eksternal maupun internal.

Dengan mengelola sumber daya lingkungannya dan membuat kreatifitasnya merupakan bagian dari strategi Pembangunan bottom up dengan memanfaatkan Kearifan lokal. kearifan lokal merupakan potensi yang harus digali dan diselaraskan dengan aspek-aspek pembangunan yang ada di desa.

Karena ciri khas pembangunan terletak dari kearifan lokal yang sudah ada. Dalam prosesnya, “pemberdayaan mempunyai tiga tahapan yaitu penyadaran, peningkatan kapasitas, dan pendayaan” (Wrihatnolo dan Dwijowijoto, 2007). Dan dalam Pemberdayaan perlu dilakukan secara berkesinambungan melalui tahapan – tahapan sistematis dalam mengubah perilaku dan kebiasaan masyarakat kea rah yang lebih baik (Anwas dalam Hamid. H, 2018).

Pemberdayaan Masyarakat Desa (Masa Pandemi Covid – 19)

Pemberdayaan masyarakat sangatlah penting dikarenakan pendekatan pemberdayaan pada intinya memberikan tekanan pada otonomi pengambilan keputusan dari kelompok masyarakat yang berlandaskan pada sumberdaya pribadi, langsung, demokratis dan pembelajaran sosial.

Pemberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat bawah (grass root) yang dengan segala keterbatasan belum mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, sehingga pemberdayaan masyarakat tidak hanya penguatan individu tetapi juga pranata – pranata sosial yang ada (Noor, 2011).

Dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat diperlukannya strategi serta upaya agar pemberdayaan yang diharapkan dapat tercapai dengan maksimal. Dan pandemi covid – 19 juga sangat berpengaruh terhadap pemberdayaan dalam masyarakat. Dimana sangat mempengaruhi system perekonomian masyarakat, terutama masyarakat bawah atau grassroot.

Oleh karena itu diperlukannya pemberdayaan masyarakat agar dapat mengatasi masalah perekonomian dalam masyarakat terutama masyarakat bawah. Dalam pemberdayaan masyarakat adapun strategi – strategi yang dilakukan menurut Mark G. Hanna dan Buddy Robinson (1994), dalam Hany Hikmat dalam Martua Hasiholan Bancin, 2011 menyatakan pada dasarnya ada tiga strategi utama dalam masyarakat terkait praktek perubahan sosial yaitu, tradisisonal, direc action atau aksi langsung, dan transformasi.

Strategi tradisional menyarankan agar mengetahui dan memilih kepentingan secara bebas dalam berbagai keadaan, sementara strategi direct – action membutuhkan dominasi kepentingan yang terlibat, di pandang dari sudut perubahan yang mungkin terjadi.

Di pihak lain strategi transformasi menunjukkan bahwa pendidikan masyarakat dalam jangka panjang dibutuhkan sebelum pengidentifikasian kepentingan itu sendiri. Agar tercapainya pemberdayaan yang maksimal juga diperlukan kontribusi dari masyarakat sekitar maupun dari pihak pemerintah.

Saya pernah menjumpai sebuah desa dimana desa tersebut memiliki banyak potensi baik dari sumberdaya alam maupun manusia. Namun kurangnya pemanfaatan yang baik oleh masyarakat setempat mengakibatkan masyarakatnya kurang sejahtera dan masih banyak yang tergolong belum mampu atau masyarakat bawah.

Dalam bidang sumberdaya alam desa tersebut mempunyai lahan persawahan yang luas dan ladang jagung yang luas. Serta ada beberapa tempat yang berpotensi sebagai area racing dan tempat ziarah dikarenakan tempatnya yang masih pedesaan. Namun pemanfaatan dari masyarakat yang kurang maksimal dan efisien sehingga belum tercapainya kesejahteraan dalam seluruh lapisan masyarakat.

Dalam mengelola sumber daya lingkungannya dan membuat kreatifitasnya merupakan bagian dari strategi bottom up. Kearifan lokal merupakan potensi yang harus digali dan diselaraskan dengan aspek-aspek pembangunan yang ada di desa. Karena ciri khas pembangunan terletak dari kearifan lokal yang sudah ada.

Menggaunggkan kembali nafas lokalitas bukan merarti menolak mentah-mentah modernitas. Jadi disamping masyarakat bisa menerima hal baru atau modernitas, tapi disamping itu tradisi lama haruslah tetap dijaga dan dipertahankan. Sehingga perpaduan kedua hal tersebut akan membuat suatu hal baru yang lebih indah.

Peran dari lembaga pemberdayaan masyarakat yang ada di desa juga penting, karena dari sanalah swadaya masyarakat dalam menjalankan program pembangunan secara partisipatif bisa lebih meningkat. Karena didalamnya akan terjadi aktivitas dalam merencanakan dan mengawasi pelaksanaan pembangunan desa yang lebih intensif.

Disamping itu, lembaga pemberdayaan masyarakat juga ikut dalam membantu membuat masyarakat ikut berpartisispasi dalam perencanaan, pelaksanaan, pembangunan serta pemberdayaan di desa serta meningkatkan sumber daya manusia yang ada di desa tersebut, bahkan juga berpartisipasi dalam meningkatkan perekonomian rakyat dalam menanggulangi laju kemiskinan serta mewujudkan kesejahteraan.

Pemuda dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa

Selanjutnya, pemberdayaan masyarakat juga tergantung dari pemuda yang ada di desa tersebut. Peran pemuda disini adalah mengenali dan memahami apa itu pemberdayaan masyarakat, lalu selanjutnya yaitu ikut berpartisipasi dalam aksi bersama menyikapi berbagai bentuk permasalahan yang ada disana.

Keterlibatan para pemuda ini tentunya akan membuat jalannya pemberdayaan masyarakat desa semakin optimal. Namun kebanyakan pemuda saat ini lebih mementingkan trend dan gengsi sehingga kurang optimalnya pemberdayaan masyarakat melalui pemuda yang ada di desa. Serta kurangnya kesadaran dari para remaja akan pentingnya menjaga potensi yang ada serta melestarikannya.

Kembali ke pembahasan awal mengenai konsep dari pemberdayaan masyarakat itu sendiri yang bisa dibilang hasil dari kegagalan dan harapan dari msyarakat. Maksud dari kegagalan disini yaitu model dari berbagai pembangunan ekonomi yang diusung pemerintaah telah gagal dalam menanggulangi masalah lingkungan serta kemiskinan yang terus berlanjut.

 Sedangkan maksud harapan disini adalah pemberdayaan masyarakat ini membawa sebuah alternatif pembangunan masyarakat yang mengusung nilai-nilai dan rancangan yang sesuai dengan keadaan masyarakat setempat. Ini juga merupakan sebuah upaya yang dilakukan untuk membuat keadaan lapisan masyarakat menjadi lebih baik, serta bisa terlepas dari perangkap keterbelakangan.

Hal ini juga bisa dibilang sebagai upaya memampukan dan memandirikan masyarakat. Lalu selanjutnya, jika ingin mengetahui seberapa jauh pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan berhasil, maka haruslah selalu dilakukan yang namanya pemantauan serta penetapan sasaran sejauh itu bisa diukur dan bisa juga dibandingkan.

Penguatan UMKM sebagai pemberdayaan masayarakat desa

Di bagian selanjutnya dalam pemberdayaan masyarakat yaitu UMKM. Yang mana cara ini bisa dibilang merupakan aksi lanjutan dari penanganan sumberdaya yang dimiliki oleh masyarakat desa. Dan juga ini merupakan aksi berkelanjutan yang harus selalu dijaga serta dijalankan.

Pemberdayaan ini dimulai dari mengidentifikasi sumber daya apa saja  yang ada didesa, merencanakan model dan bentuk UMKM apa yang sesuai dengan keadaan tersebut, dan mulai mengeksekusi rancangan yang telah disepakati bersama tadi sehingga bisa segera di kembangkan menjadi lebih terstruktur dan juga kinerja yang dijlankan menjadi semakin terarah sehingga hasilnya menjadi lebih layak.

Dengan cara melakukan sosialisasi serta seminar mengenai kewirausahaan . Sehinggga dapat menciptakan masyarakat yang mandiri dan menciptakan serta memanfaatkan peluang yang ada.

Dalam prosesnya, diperlukan dukungan penuh dari para stakeholder yang mana perannya sebagai instrumen penggeraak serta sebagai salah satu bagian dari pemangku kepentingan yang juga perlu mempertimbangkan perannya dalam rangka menjamin keberlangsungan usaha UMKM. Selain itu, dengan kapasitasnya serta juga bisa melakukan upaya nyata untuk bersinergi satu sama lain antar masyarakat sehingga bisa memberiakan sumbangsih yang optimal, konsisten bahkan bisa berkelanjutan.

Dengan demikian akan tercipta kesejahteraan masyarakat dari segala bidang dan keahliannya masing – masing. Dan sebenarnya setiap daerah mempunyai otoniminya masing – masing sehingga stakeholder dan masyarakat setempat yang mengetahui potensi yang ada pada daerahnya.

Misalnya jika daerah tersebut mempunyai lahan yang luas dapat dimanfaatkan dengan baik. Dengan ditanami berbagai macam tanaman. Dimana hasil pertanian tersebut dapat diolah agar meningkatkan nilai jual barang tersebut. Sehingga UMKM yang berdiri juga hasil dan bahan yang dihasilkan oleh masyarakat sendiri.

Kesadaran masyarakat sebagai modal Pemberdayaan

Sebenarnya pendekatan pemberdayaan masyarakat ini didasari oleh adanya kesadaran bahwa masyarakat memiliki kapasitas diri yang berbeda-beda, dimana dengan kapasitas itu masyarakat dapat meningkatkan kemandirian dan kekuatan-kekuatan lokal yang pada akhirnya akan membawa pada suatu perubahan sosial ekonomi masyarakat yang baik pula.

Dengan asumsi bahwa masyarakatlah yang lebih memahami kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi, maka pendekatan pemberdayaan masyarakat ini diarahkan untuk mendorong kreatifitas masyarakat dalam menjawab permasalahan dan kebutuhan mereka sendiri.

Hal itu dapat dilihat dari tingkat partisipasi masyarakat untuk terlibat langsung mulai tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi dari setiap program pemberdayaan. Dengan dijadikannya masyarakat sebagai partisipan pemberdayaan masyarakat, maka diharapkan akan adanya pembangunan yang real, berkesinambungan, dan tepat sasaran.

Selain itu, pemberdayaan masyarakat juga merupakan inti dan sekaligus tujuan dalam setiap proses pengembangan masyarakat (community development) yang dibangun diatas pondasi khusus yaitu gabungan antara teori keilmuan dengan keadaan kondisi realitas masyarakat.

3 Tahapan dalam proses pemberdayaan

Pemberdayaan sendiri juga bukan merupakan hal yang bersifat instan. Dalam prosesnya, “pemberdayaan mempunyai tiga tahapan yaitu penyadaran, peningkatan kapasitas, dan pendayaan” (Wrihatnolo dan Dwijowijoto, 2007).

Tahap pertama adalah penyadaran, yaitu dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat miskin bahwa mereka mempunyai hak untuk menjadi lebih sejahtera. Disamping itu juga diberikan penyadaran bahwa mereka mempunyai kemampuan untuk keluar dari kemiskinan yang sedang dialaminya.

Pada tahap ini masyarakat miskin yang ada didesa tersebut akan diberikan pengertian bahwa proses pemberdayaanan itu harus berasal dari diri mereka sendiri. Melalui informasi aktual dan akurat terjadi proses penyadaran secara alamiah. Dan dari proses ini juga dapat dipercepat hasilnya dengan upaya pendampingan dari pihak yang lebih paham.

Tahap kedua adalah peningkatan kapasitas yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat miskin, sehingga mereka memiliki keterampilan untuk mengelola peluang yang akan diberikan. Tahap ini dilakukan dengan memberikan pelatihan-pelatihan, lokakarya dan kegiatan sejenis yang bertujuan untuk meningkatkan life skill dari masyarakat miskin.

Pada tahap ini diperkenalkan dan dibukakan akses terhadap sumber daya kunci yang berada di luar komunitasnya sebagai jalan mewujudkan harapan dan kemampuan diri setiap individu yang ada disana.

Selain meningkatkan kemampuan masyarakat miskin baik secara individu maupun kelompok, proses ini juga menyangkut organisasi dengan sistem nilai. Peningkatan kapasitas organisasi melalui restrukturisasi organisasi pelaksana sedangkan Peningkatan kapasitas sistem nilai terkait dengan aturan main yang akan digunakan dalam mengelola peluang yang ada.

Selain itu juga sangat diperlukannya generasi yang berpendidikan untuk merubah cara pandang, serta pemikiran masyarakat desa. Dengan adanya masyarakat yang banyak mementingkan pendidikan dan meningkatkan life skill sehingga dapat menjadi agem perubahan dan mendorong semangat serta membagikan pengalaman dan ilmu yang mereka dapatkan untuk masyarakat desa terutama masyarakat desa yang miskin.

Sedangkan tahap ketiga adalah tahap pendayaan. Pada tahap ini masyarakat miskin diberikan peluang yang disesuaikan dengan kemampuan yang mereka miliki melalui partisipasi aktif dan berkelanjutan yang ditempuh dengan memberikan peran yang lebih besar secara bertahap sesuai dengan kapasitas dan kapabilitasnya, diakomodasikannya aspirasinya serta dituntun untuk melakukan evaluasi diri terhadap pilihan dan hasil pelaksanaan atas pilihan yang sudah mereka buat dan mereka jalankan.

Aspek Pendukung Pemberdayaan

Dalam pemberdayaan juga sangat diperlukan lingkungan serta infrastruktur yang mendukung. Oleh karena itu pentingnya akses jalan yang layak serta fasilitas kemasyarakatan. Misalnya pentingnya polindes di setiap desa dengan satu bidan yang menetap.

Akses jalan yang mudah juga sangat mempengaruhi cepat lambatnya pemberdayaan dalam masyarakat desa. Todaro dan Sthepen dalam Hamid. H (2018) mengatakan salah satu generalisasi yang terbilang paling valid tentang penduduk miskin adalah bahwasanya mereka tinggal di daerah – daerah pedesaan, dengan mata pencaharian pokok dalam bidang pertanian dan kegiatan lainnya yang berkaitan erat dengan sector ekonomi tradisional.

Dan dalam pemberdayaan perlu dilakukan secara berkesinambungan melalui tahapan – tahapan sistematis dalam mengubah perilaku dan kebiasaan masyarakat kea rah yang lebih baik (Anwas dalam Hamid. H, 2018).

Oleh karena itu sangat diperluaknnya pemberdayaan dalam bidang pertanian melalui organisasi kelompok tani. Agar masyarakat desa lebih produktif dan tidak hanya menggantungkan hidupnya pada pola pertanian yang subsisten, baik petani kecil maupun buruh tani yang berpenghasilan rendah.

Bahwa masih banyak metode pertanian dan cara bertani dengan lahan yang minim serta perawatan tanah agar tetap subur. Agar menghasilkan hasil pertanian yang berkualitas dan hasil produktifitas yang tinggi. Dengan cara sosialisasi menenai masalah pertanian dan cara penangan serta pembasmian hama.

Jika kelompok tani berjalan dengan efisien setiap anggota kelompok tani juga akan mendapatkan kartu tani. Dimana sangat bermanfaat bagi para petani dan mempunyai banyak manfaat, salah satunya dapat menjadi solusi mengenai kesulitan modal saat bertani yang dikeluhkan oleh masyarakat pedesaan terutama masyarakat bawah atau miskin.

Konteks pemberdayaan di Masa Pandemi COVID-19

Lalu, ketika berbicara tentang pemberdayaan masyarakat desa dimasa pandemi covid seperti ini, kita harus mengingat kembali semua yang terjadi. Mulai dari mengapa pandemi ini bisa ada, mengapa virus corona ini bisa menjangkit semua kalangan dan lain-lain.

Hal ini harus diingat kembali karena agar bisa memberikan penanganan lebih lanjut terhadap masyarakat desa yang mana hal seperti ini jelas masih awam dibenak mereka. Okeh karena itu langkah yang tepat yang bisa dilakukan adalah sosialisasi serentak kepada masyarakat desa mengenai apa itu pandemi covid-19, apa itu virus corona, bagaimana penularannya, bagaimana cara pencegahannya, lalu bagaimana ciri-ciri orang yang terkena virus corona ini.

Langkah selanjutnya yaitu mulai mendata kesehatan seluruh warga desa menggunakan formulir pendataan yang mana nantinya bisa melihat dan men tracking para warga yang sudah mengalami gejala-gejala nya sehingga bisa segera diberikan penanganan medis. Lalu mulai juga mendata orang yang keluar masuk wilayah desa, orang asing/ orang luar yang sedang berkunjung ke desa. Selanjutnya yaitu mulai mencari hal yang menyebabkan bisa terjangkitnya virus corona ini, seperti faktor lingkungan, fisik, dan lainnya.

Mulai melakukan musyawarah desa guna membuat kesepakatan tentang bagaimana program ini bisa berjalan, lalu kegiatan desa apa yang bisa berjalan walaupun ditengah-tengah kondisi seperti ini.

Oleh karena itu, hal seperti ini dibutuhkan partisipasi banyak pihak masyarakat desa sehingga nantinya program pemberdayaan desa ditengan pandemi covid-19 ini bisa terus berjalan dan berhasil dilaksanakan sehingga bisa terbebas dari virus corona yang ada ditengah masyarakat walaupun tidak terlihat.

Pembagian peran mulai dari pemerintah desa yang melakukan sosialisasi terhadap seluruh kalangan masyarakat mengenai apa itu tadi virus corona, bagaimana cara pencegahannya jika belum terjangkit/ ketika sudah terjangkit, bagaimana melakukan isolasi mandiri, bahkan juga mensosialisasikan bahwa orang yang terjangkit virus corona ini bukanlah hal yang menakutkan sehingga perlu dijauhi (stigma buruk seperti itu harus dhilangkan dari pikiran masyarakat desa).

Lalu masyarakat juga ikut ambil bagian dalam menjaga diri agar jangan sampai terjangkit virus corona ini, seperti mulai membatasi diri pergi keluar rumah, menggunakan masker dimanapun berada, selalu menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan dengan sabun sampai bersih , menggunakan hand sanitizer, serta tidak berkerumun/ berkumpul.

Tokoh agama juga berperan besar disini, karena biasanya masyarakat lebih mendengar suara dari tokoh agama yang mereka hormati dari pada pemerintahan desa oleh karena itu tokoh agama disini ikut ambil bagian dalam menyampaikan informasi pencegahan COVID-19 kepada  warga melalui pendekatan budaya/agama serta mengajak warga berpartisipasi dalam upaya pencegahan  COVID-19 bahkan  juga membantu Ketua RT/RW/Kepala Dusun dalam mengedukasi  warganya agar tidak memberi stigma buruk kepada ODP, PDP atau   positif COVID-19 dan jika ada jenazah warga positif COVID-19 yang pulang dari  RS sudah sesuai  dengan SOP dan masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan.

Jadi, jika semua pihak sudah melakukan tugasnya dengan baik maka didesa tersebut akan menciptakan masyarakat yang tetap berdaya walaupun dimasa pandemi seperti sekarang ini. Disamping keadaan ekonomi masyarakat tetap berjalan karena bisa mengolah dan memanfaatkan potensi yang sudah dimiliki oleh alam dan masyarakat desa, kesehatan masyarakat pun juga menjadi prioritas utama perhatian masyarakat desa.

Karena kehidupan yang lebih baik adalah tujuan masyarakat desa dalam menjalankan roda kehidupan ini. Oleh karena itu terciptanya atmosfir lingkungan yang ramah terhadap masyarakat harus selalu dijaga serta agar program pemberdayaan masyarakat bisa selalu terlaksana dan tercapai seperti tujuan yang diharapkan.

Tanti Indriani ( 190521100115 )

Khoirotun Nisa Syafi’i ( 190521100118 )

Daftar Pustaka

Noor, M. (2011). Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Ilmiah CIVIS, Volume I (No. 2).

Bancin, Hasiholan M. (2011). Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Volume 22, 3, 179-194.

Nuryasin, SSTP, MH. (2011) Pemberdayaan Masyarakat dalam Pembangunan Desa.

Hasan, M., dan Muhammad Azis. 2019. Pembangunan Ekonomi & Pemberdayaan masyarakat: Strategi Pembangunan Manusia dalam Perspektif Ekonomi Lokal. Makasar: Pustaka Taman Ilmu.

Handini, S., Sukesi., dan Kanty Astuti, H. 2019. Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Pengembangan UMKM Wilayah Pesisir. Surabaya: Scopindo Media Pustaka.

Sutrisni. 2019. Pemberdayaan Pemuda dalam Ekonomi Desa. Temanggung: Desa Pustaka Indonesia.

Ir. Hamid. H, M.Si. 2018. Manajemen Pemberdayaan Masyarakat. Makassar : De La Macca

Trikarya Pembangunan Dalam Perspektif Pemberdayaan Masyarakat https://www.qureta.com/post/trikarya-pembangunan-dalam-perspektif-pemberdayaan-masyarakat

Lembaga Pemberdayaan Masyarakat https://www.batukandik.desa.id/opensid/first/artikel/62

Pembinaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Sebagai Mitra Kerja Kepala Desa

Pemberdayaan Masyarakat Miskin Di Pedesaan Melalui UKM http://repository.unpas.ac.id/6120/1/Artikel%20rio1.pdf

Leave a Reply