New: Memahami Perkembangan Ilmu Pengetahuan

  • February 9, 2022
  • 173 Views
New: Memahami Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Perkembangan ilmu pengetahuan dibelahan dunia manapun  tidak dapat terlepas dari peran filsafat. perkembangan filsafat selalu beriringan dengan sifat metafisika dan religius. Di Yunani Filsafat di barengi dengan Mitosnya, di India dengan kitab Weda-nya di Cina dengan Confusiusnya.

Periodesasi filsafat di Yunani, barat, cina maupun india mempunyai latar belakang yang berbeda. Filsafat di Cina ditekankan pada masalah perkemanusiaan (jen). Sedangkan di India bagaimana manusia bersahabat dengan dunia bukan untuk menguasai dunia.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan dalam artikel ini adalah masa zaman Pra Yunani Kuno, Zaman Yunani kuno, abad pertengahan, zaman renaissaince dan zaman modern.

Zaman Pra Yunani kuno

Perkembangan ilmu pengetahuan yang hasilnya saat ini kita nikmati dalam berbagai bentuk ini tidaklah terjadi begitu saja, melainkan melalui proses yang panjang, bertahap, dan evolutif. Zaman pra yunani kuno ini di tengarai sebagai masa antara empat juta sampai 20000 tahun sebelum masehi.

Dikatakan demikian didasarkan pada temuan-temuan sisa peradaban masa lalu. Antara lain Surajiyo (2008):

  1. Alat-alat dari batu
  2. Tulang-tulang hewan
  3. Sisa beberapa tanaman
  4. Gambar di gua-gua
  5. Tempat penguburan
  6. Tulang belulang manusia purba

Pada perkembangan selanjutnya, sekitar abad 15 – 6 SM manusia telah menemukan besi, tembaga dan perak. Peralatan dari besi pertama kali digunakan pada abad 15 SM di Irak.

Peradaban masyarakat Yunani waktu itu terus mengalami perkembangan. Berbagai temuan dan pemikiran seakan mempersiapkan lahirnya filsafat pada masa Yunani kuno yaitu abad 6 SM.

3 faktor yang “dipersiapkan” menyambut kehadiran filsafat

Perkembangan ilmu pengetahuan

K. Bertens dalam Surajiyo menyebutkan tiga faktor yang seakan dipersiapkan untuk menyambut kelahiran Filsafat. yaitu;

Mitologi Yunani yang luas.

 Mitologi ini merupakan pendahuluan bagi filsafat. melalui mitos-mitos ini masyarakat berpikir mencari hukum-hukum alam yang mendasari pemikiran rasional.

Pada perkembangannya, terjadilah perbandingan mitologi dimana mitos-mitos yang tidak sesuai dengan mitos lainnya akan dieliminasi. Proses ini selanjutnya menyederhanakan mitos-mitos yang beredar dan akhirnya digantikan oleh rasionalitas.

Kesusasteraan Yunani;

Karya Homeros dikenal sebagai puisi edukatif masa itu. Plato menyatakan dalam karyanya Politea bahwasanya Homeros telah mendidik seluruh rakyat Hellas melalui puisinya yang berjudul Ilia dan Odissey.

Pengaruh Ilmu pengetahuan dari timur tengah yang mendahuluinya.

Tidak dapat dipungkiri, perkembangan Ilmu pengetahuan di Yunani juga mendapat sumbangan dari bangsa lain. Akan tetapi selanjutnya Yunani mempunyai cara tersendiri dalam mengembangkan ilmu pengetahuan hingga akhirnya mewarnai ilmu pengetahuan dunia.

Pada masa pra Yunani Kuno Ilmu pengetahuan di cirikan berdasarkan know how (learning by doing) mempelajari sesuatu secara praktis yang dilandasi pengalaman empiris.

Disamping itu, bangsa Yunani masa itu juga mulai memperhatikan keadaan alam dan prosesnya. Lambat laun mereka memperhatikan dan menemukan;

  1. Gugusan Bintang
  2. Kalender, yang mencakup hari dalam satu bulan dan satu tahun
  3. ketika matahari terbit dan tenggelam sebanyak 365 kali, bulan juga mengalami perubahan sebanyak 12 kali
  4. Gerhana, walaupun masa itu masih dikaitkan dengan mitologi-mitologi
  5. Kemampuan meramalkan peristiwa dengan kejadian peristiwa sebelumnya, dll. (Surajiyo, 2008:84)
BACA JUGA  Pengertian Silogisme - jenis dan contohnya

baca juga: Pengertian Filsafat: seni berfikir dan kebijakan

Zaman Yunani kuno

Masa ini diyakini sebagai masa keemasan Filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan mengungkapkan ide-ide dan pendapatnya. Bangsa yunani masa itu dianggap sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan karena bangsa yunani tidak lagi percaya pada mitologi dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada receptive attitude (sikap menerima begitu saja), akan tetapi didasarkan pada an inquiring attitude (sikap menyediki sesuatu secara kritis).

Sikap kritis bangsa Yunani kuno ini pada akhirnya menjadi benih pertumbuhan Filsafat sebagai dasar ilmu pengetahuan. Beberapa filsuf pada masa itu antara lain Thales, Phytagoras, Socrates, Plato, aristoteles dll.

Periodesasinya didasarkan pada masa Pra-Socrates yang dikenal dengan filsafat alam (kosmologi) dengan Filsufnya yang terkenal Thales yang menganggap asal usul segala sesuatu (Arche) adalah Air. Anaximenes (Anaximander) menganggap Arche adalah Udara. Phytagoras Arche adalah Bilangan, Heraklitos arche adalah api.

Perkembangan selanjutnya, pemikiran Yunani kuno didominasi oleh kaum Sofis yang memulai penyelidikannya pada manusia (bukan pada alam lagi) diantaranya Protaghoras yang menyatakan bahwa manusia adalah utusan segala-galanya.

Pendapat ini ditentang oleh Socrates, menurutnya bahwa kebaikan dan kebenaranlah yang harus dijunjung tinggi dan dihormati oleh manusia. Demi mempertahankan pendapatnya, Socrates dihukum mati.

Filsafat pada masa ini membicarakan tentang realitas dunia, yang menurut plato terbagi menjadi dua, yaitu ralitas alam panca indera/ jasmani dan realitas rasio/alam ide. Sedangkan menurut Aristoteles manusialah yang termasuk realita yang konkret, sedangkan ide manusia bukan realitas kehidupan ini.

Sumbangan terbesar Aristoteles adalah mengenai Abstraksi dimana aktivitas rasional manusia untuk memperoleh pengetahuan dibagi tiga, yaitu abstraksi Fisis, Abstraksi Matematis dan abstraksi metafisis.

Proses berpikir dengan membuang unsur-unsur individual untuk mendapat kualitas adalah abstraksi fisis. Sedangkan Abstraksi matematis berusaha menemukan unsur kuantitatif dengan menafikan unsur kualitatif. Dan abstraksi metafisis merupakan usaha menemukan unsur-unsur hakiki dengan menafikan unsur-unsur lain.

Masa selanjutnya dikenal dengan masa Helinistis dan Romawi dimana ekspansi yang dilakukan Alexander Agung meluas hingga wilayah Yunani. Pada masa ini perkembangan ilmu pengetahuan justeru semakin meluas karena kekaisan Romawi tidak menutup pintu untuk meneriwa warisan filsafat Yunani.

Aliran Filsafat masa Yunani Kuno

Pada masa ini filsafat tetap berkembang walaupun tidak ada yang benar-benar besar kecuali Plotinus. Aliran-aliran yang muncul masa itu adalah:

Stoisisme

Menurut aliran ini, alam raya ini ditentukan oleh hukum-hukum kuasa logos dan keniscayaannya tidak dapat dihindari dan menuntut adanya kepasrahan (tawakkal). Tokoh aliran ini adalah Zeno (108 SM) dari Citium Athena dan berpengaruh pada kekaisaran Romawi (Lorenz Bagus, 2005: 1037).

BACA JUGA  New: Ilmu pengetahuan dan Prinsip Metodologis

Epikurisme

Aliran ini didirikan oleh Epikuros pada 306 SM menurut aliran ini segala sesuatu itu bergerak, manusia akan bahagia apabila mengakui susunan dunia dan tidak takut pada dewa. Selanjutnya ajaran ini dikembangkan oleh Hermachus dengan menambahkan ajaran nilai bahwasanya kesenangan adalah kebaikan tertinggi (Lorenz Bagus, 2005:211-212).

Skeptisisme

Secara etimologi berarti pertimbangan atau keraguan. Yaitu aliran filsafat yang meyakini kemampuan berpikir teoritis manusia tidak akan mampu menemukan kebenaran (Surajiyo, 2008: 84).

Eklektisisme

Aliran filsafat yang mempunyai kecenderungan memasukkan berbagai unsur dari aliran-aliran filsafat lain. Aliran ini identik dengan Sinkretisme. Kelemahan aliran ini adalah kekurang selektifan dalam mengambil potongan ide aliran lain yang kemudian digabungkan dengan ide lainnya dan pada akhirnya diyakini sebagai kebenaran (Surajiyo, 2008:181-182).

Neo-Platonisme,

Didirikan oleh Ammonius Saccas (175-242) yang kemudian disebarluaskan oleh Plotinus (203-269). Yaitu aliran yang berdasarkan pada ajaran Plato dengan ajaran utamanya tentang transendensi Allah, menurutnya realitas ini tersusun atas beberapa tingkatan dan Allah merupakan tingkatan tertinggi dalam realitas(Lorenz Bagus, 2005: 701-702).

Masa abad Pertengahan

Masa ini ditandai dengan dominasi para teolog dalam ilmu pengetahuan. Terutama Filsafat, pada masa Abad pertengahan ini banyak mendapatkan pengaruh dari para Teolog. Ajaran Agama kristen yang dibawa Nabi Isa pada awal Masehi diyakini sebagai pengaruh utama dalam perkembangan filsafat abad pertengahan.

 Ajaran agama kristen membawa perubahan besar dalam pola pikir manusia saat itu dalam memandang kebenaran. Menurut ajaran kristen bahwasanya Wahyu Tuhan adalah kebenaran tunggal yang tidak dapat dipengaruhi oleh kebenaran temuan akal. Pandangan ini mengubah pandangan sebelumnya bahwasannya kebenaran dapat dicapai dengan akal manusia.

Periode Filsafat abad pertengahan terbagi menjadai dua periode;

Periode Patristik,

berasal dari kata Patres (yunani) yang berarti bapak, yang kemudian diterminologikan sebagai bapak-bapak gereja agama kristen. Periode ini terbagi menjadi dua tahap, yaitu;

  1. Permulaan agama kristen, setelah mengalami kesukaran-kesukaran dengan filsafat Yunani, agama kristen mulai ikut terjun dalam dogma-dogma filsafat.
    1. Filsafat Agustinus, dogma-dogma dianggap sebagai suatu keseluruhan

Periode Skolastik

berlangsung antara tahun 800-1500 M. Periode ini dibagi menjadi tiga, yaitu;

  • Periode Skolastik awal (abad 9 – 12 M) ditandai oleh lahirnya metode-metode sebagai akibat hubungan yang erat antara filsafat dengan agama.
    • Periode puncak Skolastik (abad ke 13) puncak perkembangnnya pada masa Thomas Aquinas
    • Periode Skolastik Akhir (Abad 14-15), ditandai dengan adanya pergeseran filsafat dari yang bersifat dogmatis-universal kearah nominalisme.

Baca juga: Metode Dalam Filsafat: Kritis, Intuitif – dialektis , Neo Positivis

Zaman Renaissance

Renaissance merupakan sebuah istilah untuk menunjuk suatu zaman dimulainya kelahiran kembali umat manusia dengan otonomi dan kedaulatan berpikir, eksperimen, eksplorasi dan mengembangkan seni, sastra dan ilmu pengetahuan yang terlepas dari pengaruh gereja di Eropa. Renaissance terjadi sekitar abad 14 – 16.

istilah ini populer setelah Michellet (1855) dan Burckhardt (1860) menggunakan istilah renaissance dalam karya sejarah tentang Yunani dan Romawi. Renaissance juga diartikan sebagai kelahiran kembali semangat Yunani dan Romawi serta semangat belajar ilmiah (Lorenz Bagus, 2005: 953-954).

BACA JUGA  Filsafat Ilmu : Definisi, Objek dan permasalahan

 Masa renaissance ini melahirkan banyak filsuf yang sama sekali berbeda dengan filsuf abad pertengahan. Filsuf era renaissance cenderung berpikir kritis, rasionalis, empiris, positiv di bandingkan filsuf abad pertengahan yang cenderung dogmatis. Diantara filsuf-filsuf tersebut adalah:

  1. Roger Bacon, Seorang empirisme yang berpandangan bahwasannya pengalaman merupakan landasan awal dan evaluasi akhir dari sebuah ilmu pengetahuan. Matematika merupakan syarat mutlak untuk mengolah ilmu pengetahuan.
  2. Copernicus, menurutnya bumi dan seluruh planet mengelilingi matahari, matahari sebagai pusat peredaran planet-planet di angkasa (heliosentrisisme). Pandangan ini bertentangan dengan pemhaman umum dari Hipparchus bahwasannya bumilah pusat peredaran tersebut (Geosentrisme).
  3. Johannes Keppler, yang menenmukan tiga hukum sebagai penyempurnaan dari penyelidikan Brahe sebelumnya;
    1. Bahwa gerak benda angkasa itu mengikuti lintasan elips bukan circle seperti yang diyakini sebelumnya.
    1. Dalam waktu yang sama, garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi bidang yang luasnya sama
    1. Secara matematis, apabila jarak rata-rata dua planet A dan B dengan matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk melintasi orbit masing-masing adalah P dan Q, maka P2:Q2 = X3:Y3
  4. Galileo Galilei, Meneukan teropong bintang terbesar pada masa itu dan mampu mengamati peristiwa angkasa secara langsung (Surajiyo, 2008: 86-87).

Perwujudan mendasar dari renaissance adalah:

  1. Gerakan Humanisme, selain berusaha menterjemahkan karya-karya Yunani-Romawi, juga berusaha mencari nilai-nilai atau gaya hidup manusia yang terkandung didalamnya. Gerakan ini diwakili diantaranya Petrach dan Erasmus.
  2. Kebangkitan Platonisme serta penolakan tradisi aristotelian abad pertengahan.
  3. Keterbukaan bagi ilmu-ilmu baru
  4. Muncul reformasi agama (Protestan) sebagai perwujudan ketidakpuasan terhadap kemapan agama sebelumnya (Lorenz Bagus, 2005:954).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri renaissance adalah Humanisme, individualisme, terlepas dari dogma gereja (agama), perkembanga sains dan penelitian empiris.

Zaman Modern

Berasal dari istilah latin Moderna yang berarti sekarang, baru atau saat ini. Akan tetapi dalam pengertian yang lebih luas, istilah modern tidak hanya digunakan untuk menyebut periode/masa akan tetapi juga semangat yang terkandung didalamnya. Semangat yang terkandung dalam masa Modern adalah semangat perubahan, kemajuan, revolusi pertumbuhan dan kemajuan yang merupakan bentuk kesadaran modern.semangat dan kesadaran zaman modern ini bercirikan subyektivitas[1], kritik dan kemajuan.

Dengan semangat dan kesadaran modern ini banyak lahir ilmu pengtahuan dan berkembang sangat pesat hingga saat ini. Awal masa Modern disepakati sekitar tahun 1500M (Budi Hardiman, 2004: 2-3).

Penentuan zaman modern selain dari semangat dan kesadaran masyarakat, juga di cirikan dengan penemuan-penemuan ilmiah yang sesungguhnya sudah dimulai sejak masa renaissance. Peletakan dasar zaman modern sudah dilakukan oleh descartes sejak masa renaissance yang kemudian disebut sebagai bapak filsafat modern (Surajiyo, 2008:87).

Tokoh-tokoh filsafat modern adalah Rene Descartes, Isaac Newton, Charles Darwin, Fiche, Schelling, Hegel, Pascal, Imanuel Kant, Wiliam James, Kierkegaard dan sartre dan masih banyak lagi.


[1] Artinya kesadaran bahwa manusia sebagai subjectum, yaitu sebagai pusat realitas

All Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

x