Misteri makam tua, tradisi dan mitos Desa Pagerwojo

Setiap desa memiliki cerita unik tersendiri. dalam artikel ini akan uraikan sedikit tentang misteri makam tua, tradisi dan mitos desa pagerwojo kecamatan Perak kabupaten Jombang

Hampir setiap desa di Nusantara memiliki lokalitas yang unik. Termasuk desa Pagerwojo dengan misteri makam tua, mitos dan tradisinya yang unik. Berikut ini uraian mengenai lokalitas desa pagerwojo. Tujuan penulisan ini adalah mengangkat dan memperkenalkan lokalitas Desa. Seperti pada artikel artikel lain di web ini, juga menyajikan berbagai lokalitas dari beberapa daerah, meskipun belum banyak, tapi semoga bermanfaat dalam pelestarian tradisi dan lokalitas nusantara.

Gambaran umum dan akses menuju desa pagerwojo

Sejauh ini terdapat beberapa desa di jawa timur yang memiliki nama Pagerwojo, yaitu di Sidoarjo, Jombang dan Kecamatan di tulungung. Dalam artikel ini yang dimaksud adalah desa Pagerwojo Kecamatan Perak Jombang.

Merupakan sebuah desa di kecamatan Perak kabupaten Jombang. Pagerwojo terletak sebelah utara pasar kecamatan. Desa terbagi menjadi dua dusun, yaitu dusun pagerwojo dan dusun Ngemplak. Ulasan ini fokus pada Dusun Pagerwojo. Desa ini berbatasan dengan desa Gading mangu sebelah timur, sementara sebelah selatan berbatasan dengan desa Perak, sebelah barat berbatasan dengan desa Semelo dan utara berbatasan dengan desa Bacek. Desa ini dikelilingi persawahan dibelah timur, utara dan barat.

Mata pencaharian warga desa pagerwojo bervariasi, mulai dari Petani, pedagang, meubel hingga pendidik. Desa pagerwojo memiliki yayasan pendidikan yang cukup tua, yaitu yayasan pendidikan maarif Sayyid Abdurrahman. Yayasan ini membawahi beberapa unit pendidikan, mulai dari TK, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

Uniknya di desa ini terdapat puluhan surau (langgar) di satu dusun Pagerwojo, satu Masjid yang cukup megah yang direnovasi sekitar tahun 1998 dan selelsai dalam beberapa tahun. Masjid ini menurut sejarah parang tetua desa, merupakan Masjid Tiban (ada dengan sendirinya) meskipun cerita ini belum ada otentifikasi / penelitian ilmiah, akn tetapi hal ini diyakini dan sudah pengetahuan umum bahkan hingga diluar desa pagerwojo.

Di belakang Masjid terdapat komplek pemakaman tua yang hingga sekarang belum diketahui secara pasti sejarahnya. Makam ini diyakini sebagai makam Wali yang dikeramatkan dan dikenal dengan gelar Mbah Sayyid Abdurrahman.

Jika anda berminat berkunjung ke desa ini, rutenya cukup mudah. Jika anda menggunakan kendaraan umum, silahkan turun di pasar perak, untuk selanjutnya anda bisa memanfaatkan ojek ataupun becak. Cukup menyebutkan desa pagerwojo anda akan diantar ketujuan.

Misteri makam tua, tradisi dan Mitos desa Pagerwojo

Hampir setiap desa di Nusantara ini menyimpan misteri, memiliki tradisi dan mitos mitos tertentu. Bahkan dalam banyak hal, mitos dalam satu desa di sosialisasikan sebagai pendidikan kepada generasi muda. Beberapa mitos dan keyakinan ditujukan untuk mengendalikan perilaku warga masyarakat. Misalnya jangan meludah ke sumur, jangan duduk didepan pintu khususnya bagi perempuan lajang dan banyak lagi.

Berikut ini uraian mengenai makam tua di desa Pagerwojo, tradisi dan mitos.

Misteri makam Tua

Sebagaimana di singgung diatas, desa pagerwojo ini memiliki satu situs pemakaman tua (sebenarnya ada dua yang satunya penulis masih minim informasi), yaitu makam Sayyid Abdurrahman. Tidak diketahui secara pasti, tahun berapa sejarah makam ini.

misteri makam tua

Warga desa pagerwojo meyakini makam tersebut adalah makam Wali Allah yang memiliki karomah. Berdasarkan penuturan dari sesepuh (Tahun 1990-an), bahwa tahun 70 warga desa yang tertua dan masih hidup saat itu adalah “Mbah Simin” saat itu usianya sudah lebih dari 100 tahun. menurut mbah Simin makam tersebut sudah ada sejak beliau masih kecil, dan orang semasanya juga tidak ada yang tahu secara pasti.

Tidak ketahui juga, bagaimana Nama Mbah Sayyid Abdurrahman dinisbatkan pada makam tersebut. Beberapa ahli spiritual memang sering terlihat berziarah kesana. Dan diyakini bahwa di makam tersebut terdapat beberapa pusaka dan yang paling dikenal adalah Merah Delima.

Penulis, pada tahun 2000 an pernah sowan kepada KH. Jamaludin Ahmad (ALM) Tambak beras Jombang beliau termasuk sesepuh Toriqot Syadiliyah daerah jombang dengan sanad dari KH. Djalil tulungagung. Saat itu beliau menyampaikan pengalaman spiritualnya ketika berziarah ke makam Mbah Sayyid Abdurrahman.

Suatu saat beliau berziarah bersama gurunya (penulis lupa namanya, kalau tidak salah KH. Wahab tapi dari daerah mana lupa). Menurut penuturan Gurunya Makam tersebut adalah saudara dari mbah Sayyid Sulaiman Mojoagung Jombang yang sangat terkenal itu. Menurut beliau, makam tersebut adalah keturunan dari Sunan gunung jati dari jalur Syarifah Khodijah. Sekali lagi, hal ini didasarkan pada pengalaman spiritual bukan hasil penelitian ilmiah. Wallahu A’lam

makam Sayyid Abdurrahman pagerwojo - misteri makam tua

Makam sayyid Abdurahman ini direnovasi seiring dengan renovasi Masjid pada tahun 2000 an yang diprakarsai oleh K. Abdul Mujib yang saat ini menjabat sebagai ketua takmir masjid Sayyid Abdurrahman. Sekarang sudah dilengkapi dengan fasilitas yang memadai.

Bahkan saat renovasi dilakukan, juga dibangun beberapa makam lain yang diyakini sebagai makam keramat di lingkungan makam tersebut. Yaitu makam Khidril Muzawwali dan makam mbah Muhyiddin. Kedua nama ini juga didapatkan dari istikhoroh pada saat itu.

Menurut cerita sesepuh desa, makam tersebut memiliki kelebihan, termasuk dalam cerita masa perang penjajahan belanda. Pesawat yang terbang diatas makam tersebut akan jatuh. Bahkan burung burung yang terbang diatas makam tersebut juga jatuh. kisah ini dituturkan salah satu sesepuh yang baru saja meninggal tahun 2022, menurut beliau, kejadian burung jatuh itu berlangsung hingga tahun 60an. Dan beliau melihat sendiri dan sering membersihkan bangkainya.

tradisi dan mitos Desa Pagerwojo, makam sayyid Abdurrahman pagerwojo

Tradisi

Desa pagerwojo memiliki beberapa tradisi, tradisi yang akan diulas dalam artikel ini adalah tradisi Nyadranan atau selamatan Desa. Nyadranan adalah salah satu tradisi ritual desa yang dilakukan setelah masa Panen. Acara ini merupakan ungkapan rasa syukur warga desa dalam panen raya dan limpahan rizqi, kesehatan dan keselamatan.

Acara nyadranan desa Pagerwojo ini dilakukan pada Hari Jumat pahing pada bulan Selo (tahun ini bertepatan dengan bulan Juni) acara dilakukan pada pagi hari sebelum sholat jumat sekitar pukul 09.00 pagi. Beberapa point acara nyadranan ini adalah:

  1. Setiap warga desa pagerwojo hadir ke Masjid, biasanya hingga ke pelataran masjid. Karena yang dipakai hanya serambi masjid saja, meskipun ukuran serambi masjid ini cukup luas sekitar 17 x 29 Meter. Karena tingginya antusiasme warga untuk hadir, maka serambi masjid tidak mampu menampung para hadirin dan meluber hingga ke halaman masjid.
  2. Satu keluar yang hadir (perwakilan) membawa berkat (ambeng) seperangkat nasi dan lauk pauk. Biasanya ada membawa lebih dari satu. Beberapa warga yang masuk ekonomi menengah keatas, biasanya membawa berkat/ambeng besar. Ambeng besar ini biasanya dikhususkan untuk sesepuh dan para kiai.
  3. Pertukaran ambeng / berkat. Para warga yang hadir dengan membawa berkat atau ambeng tersebut saling bertukar dengan warga lainnya
  4. Acara diisi dengan doa bersama. Rangkaian acara dalam nyadranan di desa Pagerwojo ini cukup singkat, biasanya pukul 10.00 sudah selesai. Acara dimulai / dibuka oleh pembawa acara. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan kepala desa, Tahlil (kirim doa) dan diakhiri dengan Doa. Tidak ada acara ritual lain.

Setelah rangkain acara selesai, warga pun membubarkan diri. Demikian uraian mengenai Nyadranan di desa Pagerwojo ini.

Mitos larangan berjualan nasi

Mitos adalah penuturan kisah masa lampau yang biasanya berisi mengenai alam semesta dan dimensi lain yang diyakini benar benar terjadi pada masa lampau. Meskipun secara ilmiah mitos banyak dipertanyakan, namun secara faktual hal ini terjadi dan beredar luas dikalangan masyarakat. Bahkan realitanya mitos tersebut banyak yang merasa dan menilai benar benar terbukti.

Beberapa desa memiliki mitos terkait dengan larangan larangan. Termasuk desa Pagerwojo ini. Di desa ini terdapat satu mitos yang diyakini hingga saat ini tidak berani dilanggar. Mitos tersebut adalah larangan berjualan Nasi bagi warga Asli desa Pagerwojo. Dampaknya adalah sakit-sakitan, kerugian hingga gulung tikar. Dan hartanya pun habis entah kemana.

Dengan adanya mitos tersebut, hingga saat ini tidak ada satupun warung yang menjual nasi di desa pagerwojo. Menurut sesepuh desa, mitos tersebut berawal dari “sabda” wali jaman dulu, bahwa nasi bukan untuk dijual melainkan untuk dibagikan kepada yang lapar.

Faktanya beberapa cerita menyebutkan kisaran tahun 70 an ada warga desa yang menjual nasi. Pada awalnya berjualan lontong gulai kambing. Namun selalu kehabisan lontong dan pelanggan masih banyak. Akhir ada warga yang minta nasi sebagai pengganti lontong. Lama kelamaan akhirnya juga berjualan nasi. Entah bagaimana ceritanya, tiba tiba usahanya yang sudah lama itu menjadi bangkrut gulung tikar, rumahnya pun terjual hingga akhirnya karena malu, mereka pindah keluar desa hingga meninggalnya.

Hingga sekrang tidak ada yang berani mencoba berjualan nasi meskipun berada diluar daerah. Karena setiap anak yang merantau pasti diingatkan oleh orang tuanya untuk tidak berjualan nasi.

Demikian sedikit ulasan mengenai lokalitas desa pagerwojo Perak Jombang. Semoga bermanfaat. Dan next time akan diupdate.

Leave a Reply