Metode Dalam Filsafat: Kritis, Intuitif – dialektis , Neo Positivis

  • December 9, 2021
  • 521 Views
cropped literasi

Metode Dalam Filsafat

Merupakan serangkaian cara dengan mengikuti aturan tertentu. Dengan demikian metode Filsafat merupakan serangkaian cara/sistem bertindak dengan mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh para Filsuf guna mencapai pengetahuan yang mendalam sebagaimana dirumuskan dalam Filsafat.

Metode Filsafat, sepanjang sejarah perkembangannya sangat beragam. Anton Bekker dalam Surajiyo (2008) menjelaskan setidaknya terdapat sepuluh metode Filsafat yang merupakan penyederhanaan dari beberapa metode yang komplek.

metode dalam filsafat
rdk.fidkom.uinjkt.ac.id/

Metode Kritis : Socrates, Plato

          Metode kritis ini dikembangkan untuk mendapatkan pengetahuan hakekat dengan jalan analitis istilah dan pendapat. Penjelasan keyakinan dan pertentangan serta dialog, diferensiasi, menyisihkan dan penolakan merupakan langkah-langkah dalam metode ini untuk mencapai hakekat yang sesungguhnya.

Metode Intuitif: Plotinus, Bergson

          Metode intuitif cukup unik, karena dalam metode ini menggunakan akal yang disertai dengan kebersihan hati dan pensucian moral. Metode ini dalam epistemologi akan menghasilkan pengetahuan yang sempurna menurut aliran intuisionisme atau Iluminasianisme.

Metode Skolastik: Aristoteles, Aquinas dan Filsafat Abad Pertengahan

          Metode skolastik menggunakan penarikan kesimpulan dari sintesis – deduktif dengan bertolak dari definisi-definisi yang kemudian dengan kaidah tertentu diambil kesimpulan.

Metode Empiris: Locke, Hobbes, Berkeley dan Hume

          Pengalaman merupakan sumber kebenaran. Ide-ide dalam pikiran di dibandingkan secara impresif yang kemudian disusun untuk mendapatkan kebenaran secara geometris

Metode Dialektis: Hegel, Marx

          Dengan menggunakan dinamika berpikir, pada umumnya metode menggunada Triade tesis – antitesis – sintetis yang kemudian dapat diperoleh kebenaran yang hakiki.

Metode Neo-Positivistik

          Realitas dipahami dengan menggunakan kaidah-kaidah dalam ilmu pengetahuan positif (eksakta).

Pada dasarnya masih banyak metode Filsafat yang lain. Setidaknya metode diatas menggambarkan kaidah filsafat secara umum[1].

Pembagian Filsafat

          Sebagaimana disiplin-disiplin ilmu lainya, Filsafat juga mempunyai cabang/pembagian yang secara spesifik mempunyai objek kajiannya masing-masing. Secara garis besarnya Filsafat terbagi menjadi tiga cabang. Pertama filsafat pengetahuan (Epistemologi), kedua Filsafat hakekat (ontologi) dan ketiga filsafat nilai (axiologi)[2].

Dalam kelompok pembagian yang lebih besar, filsafat dibedakan menjadi dua, yaitu Filsafat sistematis dan sejarah filsafat. Dalam sejarah perkembanganya terdapat beberapa Filsuf yang memberikan batasan berkaitan dengan cabang/pembagian filsafat. The Liang Gie membagi filsafat menjadi tujuh cabang. Yaitu; Metafisika, epistemologi, metodologi, logika, etika, estetika dan sejarah. Aristoteles merumuskannya menjadi empat cabang besar yang berisi sub-sub bagian. pembagian filsafat menurut aristoteles adalah:

  1. Logika, pendahuluan bagi filsafat
  2. Filsafat teoritis, termasuk didalamnya ilmu fisika, matematika dan ilmu metafisika
  3. Filsafat Praktis, ilmu etika, Ilmu ekonomi dan ilmu politik
  4. Filsafat Poetika (kesenian)

Pembagian Filsafat setidaknya mengarah pada lima cabang umum, yaitu Logika, Epistemologi, Etika, estetika dan metafisika[3].

Pembagian Filsafat berdasarkan Pokok Kajiannya

Dilihat dari pokok kajiannya filsafat dibedakan menjadi kosmologi, antropologi, theodicea, filsafat agama dan filsafat Pendidikan.

Pembagian Filsafat berdsarkan pokok kajiannya:

Filsafat Kosmologi adalah cabang Filsafat yang membicarakan tentang hakekat asal, susunan, tujuan alam besar (kosmos). Misalnya apa hakekat kosmos, susunannya, tujuannya dan bagaimana proses evolusinya dsb. Tentang asal kosmos ini terdapat spekulasi teori kabut, teori pasang dan teori ledakan besar. Sedangkan tentang susunan kosmos terdapat teori geosentris, heliosentris.

Filsafat Antropologi yang dimaksud adalah antropologi filsafat bukan antropologi sain. Antropologi filsafat membicarakan manusia dari perspektif filsafat. Misalnya apa manusia itu?, apa dan dari mana asalnya? Apa tujuan akhirnya?.

Materialisme menjawab bahwa yang hakekat dari manusia adalah materi/jasadnya. Roh memang ada, akan tetapi bukan hakekatnya. Ketika jasad manusia itu rusak/binasa maka rohnya pun ikut binasa bersama jasadnya. Dengan demikian menurut materialisme yang hakekat dari manusia adalah jasadnya. Sedang menurut spiritualisme sebaliknya.

Filsafat Theodicea atau teologi membicarakan tentang tuhan dari segi akal bukan dari segi wahyu. Disebut juga teologi naturalis. Pertanyaan mendasar dalam teologi ini adalah apakah tuhan itu ada? Buktinya apa? Hakekat dan susunanya bagaimana? Dsb.

Dalam teologi ini muncul dua aliran yaitu, teisme, ateisme. Teisme meyakini bahwa tuhan itu ada. Teisme melahirkan aliran monoteisme yang meyakini tuhan itu esa, triniteisme meyakini bahwa tuhan itu satu tetapi beroknum tiga, dan politeisme yang meyakini tuhan itu banyak dan bisa bertambah atau berkurang sesuai dengan kebutuhan.

Ateisme meyakini bahwa tuhan itu tidak ada. Keyakinan ini didasarkan penemuan akal dan logika rasional yang mereka ajukan. Bagi orang yang meyakini tuhan tidak ada karena ketidaktahuannya bukan termasuk dalam golongan atheisme. Atheisme ini erat kaitannya dengan aliran materialime.

Filsafat agama membahas tentang hakekat agama secara umum. Biasanya filsafat ini membicarakan apa agama itu sebenarnya? Apa tujuannya dan dari mana agama itu. Konsep-konsep specifik agama tertentu tidak dibicarakan dalam filsafat agama, tetapi dibicarakan dalam filsafat agama teretentu pula. Misalnya filsafat agama islam, filsafat agama kristen dll.

Filsafat pendidikan membahas hakekat pendidikan, guru, kurikulum dan permasalahan yang tidak terjawab oleh sains pendidikan(science education). Park menyatakan bahwa flsafat pendidikan adalah attempting to answer some ultimate question concerning education[4].


[1] Surajiyo., Op.cit, h. 10

[2] Ahmad Tafsir, op.cit., 23

[3] Surajiyo, op.cit., h. 20-23

[4] Ahmad Tafsir, op.cit., h. 30-33

Leave a Reply