Membangun Bangkalan Melalui Optimalisasi wisata religi dalam rangka sustainable development

  • November 14, 2021
  • 91 Views

Pembangunan berkelanjutan

Konsep pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) lahir karena adanya eksploitasi Sumber Daya Alam yang tidak terkendali. Konsep ini terdiri dari tiga pilar utama yakni sosial, ekonomi dan lingkungan. Ketiga pilar tersebut harus berjalan secara harmonis. Pembangunan sosial tidak boleh mengorbankan pembangunan ekonomi dan lingkungan. Termasuk pembangunan ekonomi, diharapkan tidak mengorbankan aspek-aspek sosial dan juga tidak menimbulkan gradasi lingkungan (Enviromental Gradient).

urgensi lokalitas

Pembangunan berkelanjutan selain bertolak dari aspek lingkungan, juga berfokus pada Sosial dan Ekonomi. Oleh karena itu, dalam lokalitas pembangunan yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan yang ada di Madura, terutama di Daerah Bangkalan, adalah bagaimana pemerintah mengupayakan pembangunan dimana yang paling fundamental dalam proses penguatan pembangunan Madura berkelanjutan melalui kearifan lokal yaitu ada pada sejauh mana pembangunan di Madura dapat menjalin sinergitas dengan konstruksi nilai lokal setempat. Setiap pembangunan Madura harus dapat membangun keselerasan dan keintiman dengan realitas kebudayaan setempat.

Untuk mengetahui lokalitas yang berkaitan dengan 3 pilar pembangunan, ada dua aspek yang hukumnya wajib diperhatikan dalam proses pembanguan Madura, Yakni aspek religiusitas dan moral. Aspek religiusitas mensyaratkan bahwa agenda pembangunan Madura tidak saja dapat mengusung nilai-nilai religiusitas. Lebih dari itu harus melibatkan para tokoh keagamaan, khususnya Kiai, baik kiai pesantren maupun kiai langgar. Kiai, dalam sistem dan struktur sosial masyarakat Madura memiliki fungsi dan peran sosial strategis dalam mengawal dan mengontrol perubahan sosial masyarakat Madura. Adapun aspek moral mensyaratkan bahwa program penbangunan Madura harus menjunjung tinggi nilai etik, atau paling minimal adalah memuat nilai keseragaman dengan tradisi, kebudayaan, ataupun adat masyarakat setempat.

BACA JUGA  Sektor industri pilihan substitusi Import: sebuah strategi pembangunan Industrialisasi

contoh lokalitas bangkalan

Contoh lokalitas dalam pembangunan berkelanjutan yang ada di Bangkalan yang berkaitan dengan 3 pilar pembangunan yaitu. Adanya makam Syaikhona Kholil atau lebih dikenal sebagai Martajasah  yang menjadi tempat ziarah atau wisata religi bagi masyarakat Bangkalan dan masyarakat sekitar yang berada diruang lingkup Madura. Pengembangan wisata religi seperti ini sangat sesuai dengan masyarakat Madura yang dikenal religius. mengacu pada 3 pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan, maka setiap aspek memiliki peran yang strategis dalam program pembangunan.

Aspek Ekonomi

Dalam aspek ekonomi, adanya wisata religi Martajasah ini diharapkan bisa menjadi sektor penggerak ekonomi daerah dengan adanya wisatawan yang datang baik dari dalam Madura maupun luar Madura. Pengembangan ekonomi juga diusahakan dengan memanfaatkan sumber air besar Martajasah yakni dengan membuat air kemasan Martajasah yang banyak dikenal dan digunakan oleh wisatawan untuk air doa dan air barokah. Selain itu, masyarakat sekitar Bangkalan juga disediakan tempat untuk berjualan dalam hal ini selain untuk mengangkat ekonomi daerah juga bagaimana agar Martajasah juga bisa mengangkat ekonomi masyarakat.

Aspek Lingkungan

Dalam aspek lingkungan, yaitu dengan membangun kawasan Martajasah yang lebih indah lagi, misalnya dengan membuat penyerapan air dengan menanam pohon, membuat taman-taman, dan perluasan-perluasan yang terjadi seiring berjalannya waktu. Selain Martajasah, ada juga Makam Aer Mata Ibu, atau dikenal dengan sebutan makam Ratoh Ebuh oleh masyarakat lokal Madura. Ratoh Ebuh adalah sebuah kompleks pemakaman bangsawan Madura yang terletak di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, di Pulau Madura, diperkirakan dibangun sejak abad ke-15. Di kompleks ini dimakamkan para bangsawan dari Wangsa Cakraningrat, beserta kerabat dan abdi dalem istana lainnya. Kompleks ini dibangun di atas perbukitan kapur, dengan ketinggian + 30 m di atas permukaan laut.

BACA JUGA  Analisis Program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (Pugar) Dalam Peningkatan Kesejahteraan Petan Garam Di Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep

Tidak banyak yang tahu tentang makam Ratoh Ebuh ini, namun makam Ratoh Ebuh ini juga menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat Madura maupun masyarakat luat Madura, selain Martajasah atau makam Syaikhona Kholil. Ratoh Ebuh menjadi salah satu tempat wisata religi di Kecamatan Arosbaya. Meskipun banyak masyarakat yang belum tahu akan hal ini namun, eksistensinya sangat dikenal oleh para penziarah. Tempat ini menjadi tujuan wajib para peziarah saat datang ke Bangkalan.

Oleh karena itu dalam aspek 3 pilar pembangunan adanya ratoh ebuh ini menjadi tempat masyarakat Madura maupun luar Madura untuk berziarah. Dalam aspek ekonomi makam Ratoh Ebuh juga diharapkan mampu membangkitkan pendapatan ekonomi daerah serta masyarakat sekitar Ratoh Ebuh atau masyarakat Arosbaya yang terbukti dengan banyaknya toko makanan dan oleh-oleh disekitar makam Ratoh Ebuh. Makam Ratoh Ebuh memiliki ciri khas seni yang tinggi juga kental dengan agama islam terbukti dari adanya seni dekoratif pada pemakaman yang berupa ukiran sulur, motif bunga, dan kaligrafi.

Ukiran pada makam (jirat) yang dibuat lebih halus dan indah berbentuk motif bunga dan kaligrafi. Bentuk makam yang menyerupai bentuk susunan candi, yaitu susunan kaki, badan, dan atap berupa dua buah nisan. Makam-makam dibangun di atas alas bangunan (batur) setinggi 75 cm dari permukaan tanah, yang terbuat dari batu putih, kayu, dan genting. Pada batur tersebut terdapat tangga, yang pada sisinya terdapat dekorasi berbentuk sulur-sulur dan dedaunan. Letak makam Ratoh Ebuh yang berada di atas bukit kapur membuat makam ini lebih indah dan unik juga asri dengan pemandangan bukit yang masih hijau yang dapat dilihat dari sisi dan belakang makam. Didukung oleh arsitektur yang unik membuat makam ini menjadi favorit para peziarah lokal maupun luar Madura

BACA JUGA  NYADRAN: BUDAYA DAN PENGARUH EKONOMI DAERAH BOJONEGORO

BY: ULFATULLAILA

Leave a Reply

Your email address will not be published.

x