Memahami Stigma menurut Erving Goffman

Stigma menurut Erving Goffman adalah atribut yang disematkan kepada Individu yang berbeda dari orang-orang yang berada dalam kategori yang sama dengan dia.

Untuk memahami Stigma, Erving Goffman memberikan beberapa uraian yang mengantarkan bagaimana memahami Stigma dalam kehidupan sosial.

Memahami Stigma menurut Erving Goffman

Stigama secara umum diartikan sebagai “label negatif”. Stigma dalam kehidupan dramaturgis ini, erat kaitannya dengan identitas social. Identitas ini kemudian terbagi identitas virtual dan identitas actual (Virtual social identity & actual social identity).

baca Juga: Teori Dekonstruksi Jacques Derrida (1930 – 2004)

A. Identitas Sosial

Goffman membagi identitas berdasarkan dua pandangan yang kemudian diberi istilah virtual social identity dan actual social identity. Virtual social identity merupakan identitas yang terbentuk dari karakter-karakter yang kita asumsikan atau kita pikirkan terhadap seseorang yang disebut dengan karakterisasi.

Sedangkan actual social identity adalah identitas yang terbentuk dari karakter-karakter yang telah terbukti. Setiap orang yang mempunyai celah diantara dua identitas tersebut, kemudian distigmatisasi. Virtual identity dan actual identity merupakan dua hal yang berbeda. Bila perbedaan diantara itu diketahui oleh publik, orang yang terstigmatisasi akan merasa terkucil.

Stigma menurut Erving Goffman

Stigma berfokus pada interaksi dramaturgis antara orang yang terstigmatisasi dan orang-orang normal. Hakikat interaksi tersebut bergantung dari kedua tipe stigma yang dimiliki seorang individu (George Ritzer, 2012). Didalam kasus stigma yang didiskredit, aktor menganggap bahwa perbedaan-perbedaan diketahui oleh anggota audiens atau nyata bagi mereka, salah satu contohnya adalah orang yang lumpuh di bagian bawah tubuhnya atau seseorang yang kehilangan anggota tubuhnya).

baca juga Memahami Teori Mekanisme Survival (Strategi Bertahan Hidup)

Suatu stigma yang dapat didiskredit adalah stigma yang didalamnya terdapat perbedaan-perbedaan yang tidak dikenal oleh para anggota audiens dan juga tidak dapat mereka rasakan misalnya, seseorang yang mempunyai anus buatan atau nafsu homoseksual (George Ritzer, 2012). Untuk seseorang dengan stigma yang didiskredit, masalah dramatugis mendasar ialah mengelola ketegangan yang dihasilkan oleh fakta bahwa orang-orang mengetahui masalah itu. Untuk seseorang dengan stigma yang dapat didiskredit, masalah dramatugis ialah mengelola informasi sehingga masalah-masalah itu tetap tidak diketahui oleh para audiens.

B. Stigma

Menurut Erving Goffman, ia menyebutkan apabila seseorang mempunyai atribut yang membuatnya berbeda dari orang-orang yang berada dalam kategori yang sama dengan dia (seperti menjadi lebih buruk, berbahaya atau lemah), maka dia akan diasumsikan sebagai orang yang ternodai.

Atribut inilah yang disebut dengan stigma. Jadi istilah stigma tersebut mengacu kepada atribut-atribut yang sangat memperburuk citra seseorang. Stigma adalah segala bentuk atribut fisik dan sosial yang mengurangi identitas sosial seseorang, mendiskualifikasi orang tersebut dari penerimaan seseorang (Erving goffman, 1963). 

Jenis Stigma Menurut Goffman

Goffman membedakan stigma menjadi tiga jenis yaitu:

  1. Abominations of the body (ketimpangan fisik)

Stigma yang berhubungan dengan cacat fisik seseorang, seperti: pincang, tuli, atau bisu.

  • Blemishes of Individual Character.

Stigma yang berhubungan dengan kerusakan karakter individu, seperti: homoseksualitas, pemabuk, pemerkosa, pecandu.

  • Tribal Stigma

Stigma yang berhubungan dengan suku, agama, dan bangsa

Penyebab terjadinya Stigma

Menurut Erving Goffman ada beberapa hal penyebab terjadinya stigma, antara lain :

Takut

Ketakutan merupakan penyebab umum, dalam kasus kusta misalnya, muncul takut akan konsekuensi yang didapat jika tertular, bahkan pendertita cenderung takut terhadap konsekuensi sosial dari pengungkapan kondisi sebenarnya. Takut dapat menyebabkan stigma diantara anggota masyarakat atau di kalangan pekerja kesehatan.

Tidak Menarik

Beberapa kondisi dapat menyebabkan orang dianggap tidak menarik, terutama dalam budaya keindahan lahiriah yang sangat dihargai. Dalam hal ini, gangguan di wajah, alis hilang, hidung runtuh, seperti terjadi dalam kasus-kasus lanjutan dari kusta akan ditolak masyarakat karena terlihat berbeda.

 Kegelisahan

 Kecacatan karena kusta membuat penderita tidak nyaman, mereka mungkin tidak tahu bagaimana berperilaku di hadapan orang dengan kondisi yang dialaminya sehingga cenderung menghindar.

Asosiasi

 Stigma oleh asosiasi juga dikenal sebagai stigma simbolik, hal ini terjadi ketika kondisi kesehatan dikaitkan dengan kondisi yang tidak menyenangkan seperti pekerja seks komersial, pengguna narkoba, orientasi seksual tertentu, kemiskinan, atau kehilangan pekerjaan. Nilai dan keyakinan dapat memanikan peran yang kuat dalam menciptakan atau mempertahankan stigma, misalnya keyakinan tentang penyebab kondisi seperti keyakinan bahwa kusta adalah kutukan Tuhan atau disebabkan oleh dosa dalam kehidupan sebelumnya.

Kebijakan atau Undang-Undang

 Hal ini biasa terlihat ketika penderita dirawat di tempat yang terpisah dan waktu yang khusus dari Rumah Sakit, seperti klinik kusta, klinik  untuk penyakit seksual menular.

 Kurangnya Kerahasiaan

Pengungkapan yang tidak diinginkan dari kondisi seseorang dapat disebabkan cara penanganan hasil tes yang sengaja dilakukan oleh tenaga kesehatan, ini mungkin benar-benar tidak diinginkan seperti pengiriman dari pengingat surat atau kunjungan pekerja kesehatan di kendaraan yang ditandai dengan pro logo gram (Erving Goffman, 1963).

Yang Normal dan Yang terstigma

The normals (Orang yang normal)

Erving Goffman juga memberikan sebuah istilah the normals (normal) bagi orang-orang yang tidak terkena isu-isu negatif tentang stigma. Orang-orang normal menganggap bahwa seseorang yang mempunyai sebuah stigma adalah bukan manusia normal. Berdasarkan asumsi ini, maka terjadi berbagai macam bentuk diskriminasi dengan efektifnya dapat memperburuk kehidupan orang yang terstigma

The stigmatized (Orang yang terstigma)

Menurut Goffman, orang yang terstigma berpikir bahwa dirinya adalah orang yang normal seperti manusia yang lain, berhak memperoleh keadilan dalam memperoleh setiap kesempatan. Tetapi sebenarnya orang-orang lain belum siap untuk menerima dia dan belum siap untuk menganggap dia sama. Orang yang terstigma dapat merespon situasi tersebut (kondisinya) dengan mengkorekasi apa yang dianggap sebagai penyebab stigma yang dia miliki. Orang yang punya stigma akan berusaha untuk menghindari kontak langsung dengan orang normal. Biasanya orang yang punya stigma akan menjauh atau menghindari kontak sosial dan bisa juga merespon orang lain (kontak sosial) dengan sangat kasar (Erving Goffman, 1963)

baca juga: Teori Interaksionisme Simbolik (G. Herbert Mead)

Ada dua tipe individu yang simpati dan memberikan dukungan kepada orang yang terstigma. Tipe yang pertama yaitu orang yang mempunyai stigma yang sama. Orang-orang seperti ini dapat memberikan saran karena mereka pernah mengalami hal yg sama. Tipe yang kedua merupakan orang-orang yang karena situasi tertentu menjadi dekat dengan orang yang terstigma.Goffman memberi istilah “wise” bagi orang-orang yang termasuk pada tipe kedua. Sebelum menjadi seorang “wise”, seseorang harus menunggu agar diterima oleh orang yang terstigma. Selanjutnya, Goffman membagi orang-orang yang termasuk istilah “wise” ke dalam dua tipe, yaitu orang yang dekat dengan individu yang terstigma dikarenakan pekerjaan (polisi, perawat, dll.) dan orang yang terhubung secara sosial dengan individu yang terstigma (keluarga, teman dll).

Leave a Reply