Memahami Perkembangan Sosial dan Emosi

Perkembangan Sosial dan Emosi – Merupakan Proses pembentukan Self social dimana individu belajar menjadi bagian dari masyarakat dengan memahami posisi “saya” sebagai anggota masyarakat, bukan “saya” sebagai Pribadi.

Memahami Perkembangan Sosial dan Emosi

Perkembangan Sosial

Menurut Plato By Default atau secara fitrah manusia terlahir sebagai mahluk sosial. artinya manusia membutuhkan manusia lainnya untuk saling melengkapi dalam proses kehidupannya. dalam konteks sosiologi hal ini disebut dengan Gregariousness manusia tidak bisa hidup tanpa berdampingan dan berinteraksi dengan manusia lainnya.

Syamsuddin (1995:105) mengungkapkan bahwa untuk menjadi mahluk sosial, manusia melalui proses belajar “sosialisasi” “sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluk sosial”. Sosialisasi adalah proses dimana individu belajar dari lingkungan sekitarnya, dalam prosesnya ada yang memberikan contoh dan ada yang menerima contoh dalam proses sosialisasi tersebut.

Menurut Loree (1970:86) “sosialisasi merupakan suatu proses di mana individu (terutama) anak melatih kepekaan dirinya terhadap rangsangan-rangsangan sosial terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan (kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku, seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya”.

Proses berikutnya adalah perkembangan, dalam konteks ini, perkembangan dimaksud adalah perkembangan Sosial. Muhibin (1999:35) mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. artinya, individu dibentuk sebagai “Dia” dalam posisinya sebagai bagian dari Masyarakat. itulah yang membedakan seseorang sebagai dirinya dan sebagai “saya” bagian dari masyarakat.

Adapun Hurlock (1978:250) mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. “Sosialisasi adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma, nilai atau harapan sosial”. dalam konteks sosiologi hal ini disebut sebagai Peran sosial. dimana harapan yang dilekatkan pasa statusnya dalam masyarakat. misalnya: seorang guru oleh masyarakat diharapkan memiliki peran demikian.

ketika Si A berposisi sebagai Guru maka harapan masyarakat tersebut berlaku atas statusnya sebagai Guru. hal ini akan berbeda, ketika si A berposisi sebagai Suami atau sebagai orang tua. harapan perannya juga akan berbeda. tentu saja peran dari satu status dengan peran status lainya bersifat interdependen atau saling tergantung dan saling mempengaruhi sebagaimana konsep sistem sosial. 

BACA JUGA  Budaya Politik - Orientasi politik masyarakat

Perkembangan Emosi

Membahas emosi, maka setiap orang akan mengatakan bahwa ia pernah merasakannya, setiap orang bereaksi terhadap keberadaannya dan menerima reaksi atas keberadaan orang lain. Hidup manusia penuh akan pengalaman emosional. Hanya saja intensitasnya berbeda. ada yang sangat kuat dorongannya, adapula yang sangat samar sehingga ekspresinya tidak tampak.

kita bisa mengenali Ekspresi emosi pada setiap jenjang usia mulai dari bayi hingga orang dewasa, dan tidak dipisahkan oleh jenis kelamin, baik laki laki maupun perempuan. Sebagai contoh, seorang anak tertawa ketika diajak bercanda, dengan cara apapun, dimana candaannya akan membangkitkan emosinya yang kemudian diwujudkan dalam bentuk tertawa sebagai ungkapan emosional kebahagiaan. Begitu juga sebaliknya, anak berusia satu tahun sedang menangis karena mainannya direbut oleh kakaknya. Menangis, adalah luapan emosinya sebagai akibat dari adanya perebutan mainan oleh kakaknya.

Emosi adalah perasaan yang ada dalam diri kita, dan tidak terbatas pada satu bentuk. Emosi dapat berupa perasaan senang atau tidak senang, perasaan baik atau buruk. terkadang kita sering menemui salah kaprah pemahaman akan Emosi. Emosi terkadang hanya dipahami sebagai bentuk kemarahan. luapan bahagia tidak lagi dipahami sebagai Emosi. padahal hal itu juga bagian dari emosi seseorang. 

Dalam World Book Dictionary emosi didefinisikan sebagai “berbagai perasaan yang kuat”. Perasaan benci, takut, marah, cinta, senang, dan kesedihan. Berbagai macam representasi perasaan tersebut adalah gambaran dari emosi.

Goleman  menyatakan bahwa “emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak”.Syamsuddin mengemukakan bahwa “emosi merupakan suatu suasana yang kompleks (a complex feeling state) dan getaran jiwa (stid up state) yang menyertai atau muncul sebelum atau sesudah terjadinya suatu perilaku”.

Berdasarkan Pemparan diatas, dapat kita pahami bahwa Emosi merupakan suatu kompleksitas keadaan yang merupakan integrasi dari perubahan biologis, psikologis yang dapat berupa perasaan (bahagia, sedih, senang, marah dan lain sebagainya) yang muncul menyertai perubahan perilaku sebagai reaksi atas satu keadaan / peristiwa.

BACA JUGA  Bagaimana Cara Melakukan Donasi Online Bersama UNICEF?

ü  Proses Perkembangan Sosial Anak Usia Dini

Manusia menjadi bagian dari masyarakat melalui proses sosialisasi, Setidaknya mereka akan melalui tiga poses sosialisasi.  Meskipun Proses sosialisasi ini tampaknya terpisah, akan tetapi sebenarnya saling berhubungan , sebagaimana yang dikemukakan oleh Hurlock (1978), yaitu sebagai berikut.

1.    Belajar bertingkah laku sesuai yang diharapkan oleh masyarakat. artinya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakatnya. sehingga perilakunya dapat diterima oleh masyarakat.

2.      Belajar menjalankan Peran sosial sesuai harapan yang dilekatkan pada statusnya.
3.      Mengembangkan Perilaku sebagai respon atas Individu lainnya dalam Masyarakat.

Pada perkembangannya, individu akan terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok individu sosial dan individu nonsosial. Kelompok individu sosial adalah mereka yang tingkah lakunya mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka mampu untuk mengikuti kelompok yang diinginkan dan diterima sebagai anggota kelompok. Adakalanya mereka selalu menginginkan adanya orang lain dan merasa kesepian apabila berada seorang diri. Selain itu mereka juga merasa puas dan bahagia jika selalu berada dengan orang lain.

Adapun kelompok individu nonsosial, mereka adalah orang-orang yang tidak berhasil mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka adalah individu yang tidak tahu apa yang diharapkan kelompok sosial sehingga tingkah laku mereka tidak sesuai dengan harapan sosial. Kadang-kadang mereka tumbuh menjadi individu antisosial, yaitu individu yang mengetahui harapan kelompok sosial, tetapi dengan sengaja melawan hal tersebut. Akibatnya individu antisosial ini ditolak atau dikucilkan oleh kelompok sosial.

Selain kedua kelompok tadi, dalam perkembangan sosial ini adapula istilah individu yang introvert dan extrovert. Introvert adalah kecenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Minat, sikap ataupun keputusan-keputusan yang diambil selalu didasarkan pada perasaan, pemikiran, dan pengalamannya sendiri.

Orang-orang dengan kecenderungan introvert, biasanya pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala kebutuhannya bisa dipenuhi sendiri. Sedangkan extrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian ke luar dirinya sehingga segala minat, sikap, dan keputusan-keputusan yang diambilnya lebih ditentukan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Orang-orang extrovert biasanya cenderung aktif, suka berteman, dan ramah-tamah. Seorang ahli menyatakan introvert dan extrovert hanya merupakan suatu tipe dari reaksi yang ditunjukkan seseorang. 

baca juga: Pentingnya Kesehatan Mental Dan Tips Menjaganya

Jika seseorang menunjukkan reaksi yang terus-menerus seperti itu atau sudah menjadi kebiasaan barulah bisa dianggap sebagai tipe kepribadiannya. Sementara ahli lain menyatakan bahwa suatu kepribadian yang sehat atau seimbang haruslah memiliki kedua kecenderungan ini. Dengan demikian, kebutuhan untuk berhubungan dengan lingkungan sosialnya serta kebutuhan akan prestasi dan refleksi diri keduanya bisa terpuaskan.

20 karakter Individu dalam Penyesuaian diri

perkembangan sosial dan emosi
  1. Dapat menerima tanggung jawab sesuai dengan usianya.
  2. Menikmati pengalamannya.
  3. Mau menerima tanggung jawab sesuai dengan perannya. Apakah itu peran sebagai anggota kelompok, murid di sekolah atau sekadar peran kakak terhadap adiknya.
  4. Mampu memecahkan masalah dengan segera.
  5.  Dapat melawan dan mengatasi hambatan untuk merasa bahagia.
  6.  Mampu membuat keputusan dengan kekhawatiran dan konflik yang minimum.
  7. Tetap pada pilihannya sehingga ia menemukan bahwa pilihannya itu salah.
  8.  Merasa puas dengan kenyataan.
  9.  Dapat menggunakan pikiran sebagai dasar untuk bertindak, tidak untuk melarikan diri.
  10. Belajar dari kegagalan tidak mencari alasan untuk kegagalannya.
  11. Tahu bagaimana harus bekerja pada saat kerja dan bermain pada saat main.
  12.  Dapat berkata tidak pada situasi yang mengganggunya.
  13.  Dapat berkata ya pada situasi yang membantunya.
  14. Dapat menunjukkan kemarahan ketika merasa terluka atau merasa haknya terganggu.
  15. Dapat menunjukkan kasih sayang.
  16. Dapat menahan sakit dan frustrasi bila diperlukan.
  17.  Dapat berkompromi ketika mengalami kesulitan.
  18. Dapat mengonsentrasikan energinya pada tujuan.
  19.   Menerima kenyataan bahwa hidup adalah perjuangan yang tak ada habisnya.
  20.  Untuk menjadi individu dengan penyesuaian diri yang baik, seorang anak harus merasa bahagia dan mampu menerima dirinya. Untuk itu, sejak dini anak perlu diajak bersikap realistis terhadap diri dan kemampuannya.

Leave a Reply