Media Pembelajaran Masa Depan – Guru Vs Teknologi!

  • April 11, 2022
  • 112 Views
media pembelajaran masa depan

Media pembelajaran masa depan antara dominasi guru dan teknologi sebagai solusi serta pendekatan pendidikan yang dapat digunakan di Era Modern 5.0

Pendidikan menjadi suatu isu yang sangat krusial untuk diperbincangkan. Sebagai salah satu rumpun keilmuan yang secara giat terus berkembang, studi mengenai kependidikan dan pedagogis (berhubungan dengan aktivitas belajar-mengajar) tidak pernah sepi akan munculnya berbagai pembaharuan. Seakan tidak pernah kehabisan bahasan, berbagai hal dapat dijadikan sebagai topik penelitian mengenai dunia kependidikan. Salah satu yang saat ini sangat digandrungi oleh para praktisi dan peneliti adalah tema-tema media pembelajaran masa depan.

Media pembelajaran menjadi suatu isu yang begitu hangat di era modern ini. Seperti yang kita tahu, dengan semakin canggihnya perkembangan teknologi sekarang, banyak pihak seakan menuntut dunia pendidikan untuk turut mengikuti tren yang ada. Berbagai peralatan di kelas yang dianggap “kuno”, seperti papan tulis, kapur/spidol, poster diagram, atau alat peraga lainnya, mulai digantikan dengan keberadaan slide proyektor presentatif yang dibuat menggunakan program komputasi.

Adapun peran papan tulis yang dianggap “tidak dapat tergantikan”, mendapat pembaharuan dengan adanya smartboard interaktif berbasis layar sentuh (touchscreen). Tentu gambaran kemajuan ini sudah seperti layaknya sekolah-sekolah di film fiksi ilmiah dan media pembelajaran masa depan.

Tak hanya itu, yang menjadi pemantik sesungguhnya dalam kebangkitan pemberdayaan teknologi sebagai pendekatan media pembelajaran mutakhir sendiri adalah dengan munculnya pandemi COVID-19. Semua orang tentu ingat momen di mana berbagai tempat umum ditutup, aktivitas kolektif dilarang, bepergian menjadi hal yang ditabukan, serta kegiatan-kegiatan keramaian dihentikan – semua dilakukan demi memutus rantai penyebaran COVID-19. Maka tentu saja, aktivitas pembelajaran di sekolah dan khususnya di kelas, menjadi salah satu yang ikut terdampak: aktivitas sekolah dihilangkan, semua pelaku pendidikan diliburkan, serta, semua beralih secara online. Yap, Era Pendidikan 5.0-pun dimulai!

baca juga: 5 Tempat Media Pembelajaran Interaktif

Guru dan Teknologi, Siapa Yang Lebih Mendominasi?

media pembelajaran

Pada era kemajuan pendidikan ini, banyak ahli merumuskan berbagai pendekatan yang paling tepat dalam memanfaatkan media pembelajaran masa depan. Beberapa pendekatan yang mereka tawarkan dapat bersifat penguatan (enhancement) dari metode serta teknik yang sudah ada sebelumnya, namun ada juga yang bersifat sangat radikal dan dapat merevolusi dunia pendidikan secara keseluruhan. Dari metode pembelajaran interaktif menuju futuristik.

Beberapa pendekatan tersebut akan sedikit dibahas berikut ini.

TPACK, ketika guru dibantu teknologi (guru + teknologi)

Pendekatan yang pertama memiliki sebutan Technology, Pedagogy, and ContentKnowledge (Teknologi, Pedagogis, dan Konten Keilmuan) atau yang lebih dikenal dengan singkatan TPACK. Secara singkat, pendekatan ini merupakan konsep penggabungan aktivitas guru dalam misinya (unsur pedagogy) menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa (unsur contentknowledge) dengan dibantu oleh teknologi masa kini sebagai suatu bentuk media pembelajaran masa depan (unsur technology).

Sebagai contoh, seorang guru olahraga yang memberdayakan fitur video streaming milik YouTube dalam mengajarkan teknik gaya renang, merupakan suatu bentuk pengaplikasian pendekatan TPACK.

Di sini, guru-guru dituntut untuk dapat menguasai berbagai kemampuan yang berhubungan dengan penggunaan teknologi, yang nantinya dapat digunakan untuk menunjang aktivitas mengajar yang mereka lakukan. Maka dari itu, pendekatan ini sendiri lebih mendukung peran teknologi sebagai sebuah alat bantu yang dapat meringankan pekerjaan para guru, serta meningkatkan performa serta kinerja yang dilakukan oleh mereka

IDLE, saat guru digantikan teknologi (guru vs teknologi)

Untuk selanjutnya terdapat pendekatan Informal Digital Learning Environment (Lingkungan Pembelajaran Informal Berbasis Digital) atau yang juga sering disingkat menjadi IDLE. Pada dasarnya, pendekatan IDLE sendiri berangkat dari suatu keyakinan bahwa setiap orang dapat menjadi seorang pembelajar otonom (autonomous learner).

Para pakar yang mendukung IDLE lantas percaya bahwa semua orang mampu mempelajari segala sesuatunya secara autodidak/mandiri tanpa perlu dibantu atau diajarkan oleh orang lain. Ini semua dapat dilakukan oleh siapa saja asal mereka sudah menemukan metode yang paling tepat untuk belajar.

BACA JUGA  New: Memahami Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Lantas terciptalah pendekatan ini: di mana “metode yang (dianggap) paling tepat” adalah melalui penggunaan berbagai media digital yang dapat diakses tanpa harus berada di sekolah/kelas (karakter informal). Sebagai contoh pengaplikasian IDLE: seorang pelajar mencari video tutorial di kanal-kanal YouTube mengenai cara menulis puisi Bahasa Indonesia.

Karena itulah apabila dilandaskan pada pendekatan ini, media pembelajaran masa depan sendiri dapat menggantikan peran guru bagi para pelajar. Dengan kata lain, apabila “universe” ini terjadi di masa depan, terdapat kemungkinan profesi guru suatu saat dapat menemui kepunahan…

Media Pembelajaran Masa Depan, Seperti Apa?

media pembelajaran masa depan

Kecanggihan teknologi sendiri sudah begitu jauh mendorong karakter futuristik yang dimiliki media pembelajaran, ke titik di luar batas imajinasi. Umumnya media pembelajaran masa depan ini banyak dipergunakan pada pendidikan tinggi, dimaksudkan guna menyokong kegiatan pengembangan cabang keilmuan ataupun penelitian.

Berbagai media pembelajaran ini kebanyakan masih dalam bentuk prototipe yang nantinya akan dicanangkan menjadi suatu pembaharuan maupun sebuah pionir teknologi. Berikut di antaranya:

Kuantum Komputer

Media pembelajran kuantum komputer – Teknologi komputasi tentu telah banyak membantu para akademisi dalam menanggapi tantangan dunia profesional. Misalnya, seorang mahasiswa jurusan arsitek sudah tidak perlu lagi secara repot-repot menggambar suatu bentuk model arsitektur yang rumit dan mendetail menggunakan tangan – Ia sudah dapat memberdayakan program komputasi rendering tiga dimensi yang lebih akurat dan presisi untuk bisa menggambarkan rancangan yang diinginkan.

Lantas bagaimana jika yang ingin digambarkan adalah suatu yang masih bersifat teori dengan skala yang jauh lebih luas: Model Arsitektur ‘Alam Semesta’, misalnya? Maka di situlah Kuantum Komputer mengambil peran.

Kuantum komputer bisa dikatakan sebagai bentuk lanjutan dari komputer ‘klasik’ yang kita banyak gunakan sekarang pada umumnya. Apabila komputer sekarang menemui kesulitan dalam menyelesaikan suatu bentuk operasi komputasi dari model-model yang terlampau rumit.

BACA JUGA  7 Macam Media Pembelajaran, Prinsip dan Contohnya

Kuantum komputer dengan kemampuan komputasi yang dimilikinya relatif dapat melakukan apa yang tidak mampu dilakukan komputer klasik. Dikarenakan kemampuannya yang terbilang sangat lanjut dan belum praktis, kuantum komputer ini sendiri masih sedikit digunakan pada tingkat sipil serta komersil – banyak dikembangkan sebagai alat bantu penelitian di berbagai universitas.

Google Glass

Google glass sebagai media pembelajaran masa depan – Jika sudah pernah menonton film “Iron Man” ataupun anime Detective Conan”, tentu saja media pembelajaran masa depan yang satu ini akan sangat relevan. Bayangkan suatu tampilan holografik selayaknya ruang kerja milik oleh Tony Stark, dipadukan dengan kacamata super yang dapat menampilkan suatu display pada lensanya milik Conan Edogawa: lantas hadirlah Google Glass!

Ya, kacamata ini memungkinkan para penggunanya untuk dapat secara interaktif menggabungkan tampilan digital dengan dunia nyata. Berbasis pada fitur yang masih terbilang anyar, Google Glass memadukan teknologi realitas berimbuh (augmented reality) yang dikemas dalam suatu bentuk kacamata pintar (smartglasses).

Ini dapat digunakan sebagai alat bantu citra tingkat lanjut, memaksimalkan pengalaman visual sang pemakainya, serta memberikan sensasi optis interaktif. Teknologi ini sendiri sudah mulai banyak digunakan oleh berbagai universitas-universitas kenamaan dunia sebagai suatu media pembelajaran masa depan dan alat bantu di dunia profesional.

Implikasi Media Pembelajaran Masa Depan

Kemajuan teknologi tentu sangat relevan dengan perkembangan dunia pendidikan. Manusia sudah tidak lagi dapat bertumpu pada moda pendidikan klasik yang hanya mengandalkan peran dari guru saja. Harus ada perbedaan yang signifikan antara pendidikan di Era 5.0 ini, yang mana memberdayakan media pembelajaran masa depan secara optimal, dengan era pendidikan di Zaman Socrates sang Filsuf yang menganggap tabu pemberdayaan media pembelajaran dalam bentuk apapun. Maka, antara guru dan teknologi, yang paling mampu beradaptasilah yang akan dapat bertahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

x