Manfaat sosіologі dаlаm pembangunan

Manfaat sosіologі dаlаm pembangunan –  meskipun dianggap sebagai pure science, namun secara praktis, sosiologi memiliki manfaat dalam pembangunan. yaitu hasil kajiannya dijadikan dasar pelaksanaan pembangunan

Secara sosiologis, konsentrasi utama yang menjadi prioritas dalam pembangunan adalah usaha untuk mencapai Peningkatan ekonomi, yang tidak hanya terbatas pada kelompok elite, namun juga secara

menyeluruh dan merata hingga pada lapisan terbawah. Dengan kata lain, pembangunan dalam arti kata sosiologi ditujukan pada penurunan terhadap angka kemiskinan. Kepekaan dan kemajuan pemikiran sosiologi inilah yang menjadikan pengetahuan sosiologi diaplikasikan dalam pembangunan.

selain itu, prosedur penelitian kuantitatif dan kualitatif dalam sosiologi yakni pemikiran gabungan yang paling maju sehingga cara ini tak jarang digunakan unutk mengarahkan pelaksanaan pembangunan dapat lebih objektif dan efisien.

Manfaat sosіologі dаlаm pembangunan

Menurut Soerjono Soekanto (2004: 412-413), manfaat sosiologi bagi pembangunan bisa diidentifikasikan didasarkan pada beberapa tahap sebagai berikut.

  1. Tahap Perencanaan

Sebelum pembangunan dilakukan, pemerintah mengabsorpsi aspirasi masyarakat yang menghendaki peningkatan taraf hidup menjadi lebih baik.  Selain meresap aspirasi tersebut, pemerintah juga patut memiliki visi jauh ke depan untuk memajukan masyarakat. Perpaduan aspirasi masyarakat dan visi pemerintah inilah yang kemudian dituangkan dalam agenda pembangunan nasional.

Lembaga yang bertugas merumuskan rencana pembangunan adalah Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas). Pada institusi ini banyak pakar sosiologi berkumpul dan memberikan pemikiran

dan pengetahuan sosiologinya untuk merumuskan agenda pembangunan yang bagus. Mereka bekerja sama dengan para spesialis dari pelbagai bidang sehingga agenda yang dibuat bersifat menyeluruh. Di institusi Bappenas inilah pengetahuan sosiologi benar-benar diaplikasikan dalam proses pembangunan.

Bappenas merencakan agenda pembangunan secara nasional, mencakup rencana jangka pendek (satu tahun), jangka menengah (lima tahun), dan jangka panjang (25 tahun). Pada pemerintah Orde Lama program pembangunan yang dilakukan adalah Agenda Pembangunan Lima Tahun (1956) sampai (1961), yang dilanjutkan dengan Agenda Pembangunan Semesta (1961) sampai (1968).

BACA JUGA  Pesona Pariwisata Madura dari 4 Kabupaten

Pada pemerintah Orde Baru, pembangunan dirancang dalam format Rencana Pembangunan jangka Panjang (PJP) dengan periode 5 tahun; kemudian Rencana Pembangunan jangka Menengah dengan periode lima tahun (repelita); Agenda jangka Pendek Tahunan yang tertuang dalam Agenda Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN). Tahap-tahap pembangunan selama pemerintahan Orde Baru, adalah : (a) Pelita I (1969-1974), (b) Pelita II (1974-1976), (c) Pelita III (1979-1984), (d) Pelita IV (1984-1989), dan (e) Pelita V (1989-1994).

Sementara itu, rencana pembangunan pada masa Reformasi (1999-2004) dituangkan dalam Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. Dalam Propenas termuat sembilan sektor

kehidupan masyarakat yang direncanakan untuk dibangun, adalah politik, pertahanan dan keamanan, undang-undang, ekonomi, pengajaran, kesehatan, kehutanan, kelautan, dan industri.

Leave a Reply