Lahirnya Sosiologi Di Andalanisia: sebuah Cerpen Sosiologis

Sosiologi adalah cabang ilmu sosial yang mempelajari manusia sebagai mahluk sosial. Bagaimana sejarah lahirnya? Berikut ini ilustrasi lahirnya sosiologi!

Ilustrasi alur cerita Pra- lahirnya sosiologi

Hidup ini tak akan lengkap rasanya jika belum bermanfaat bagi orang lain, begitu pula keahlian kita, tidak ada guna tanpa menebar manfaat bagi sesama. Ini cerita tiga pemuda, yang saat ini sedang duduk dibangku kuliah S1 jurusan Sosiologi. Andi, Ali, dan Zahra. Begitu, sapaan akrabnya. Mereka berkuliah di kampus favorit yang menjadi dambaan orang-orang disekitar tempat tinggal mereka, mereka adalah tiga dari ribuan mahasiswa yang kuliah di Universitas Pratama Jaya, kampus ternama dikota mereka.

“Pagi semua, hari ini adalah apel pertama. Maka, akan ada sesuatu yang ingin disampaikan Bapak Koorprodi nantinya” bunyi suara berat Pak Andar, salah satu Dosen Prodi Sosiologi di Universitas Pratama Jaya.

Setelah Pak Andar mengatakan itu, tak lama Pak Hisnuddin datang, dengan gagahnya naik ke podium, yang telah disediakan sedari tadi.

“Pagi semua, saya akan menyampaikan. Bahwasannya prodi kita akan mengadakan program pengabdiaan masyarakat, program ini akan diadakan disalah satu desa terpencil, di Kecamatan Andalanisia. Disana mutu pendidikannya sangat rendah, maka dengan adanya kalian sebagai agent of change diharap mampu memberikan sumbangsih ilmu dan wawasan kalian, tentang apa yang selama ini kalian dapatkan.”

Andi, Ali, dan Zahra saling melempar lirikan. Andi dan Ali terlihat merencanakan sesuatu, sedangkan Zahra yang berbeda barisan seperti penasaran apa yang mereka bicarakan. Apel, selesai. Semua mahasiswa yang saat itu ada mata kuliah pagi bergegas ke ruangan kelasnya masing-masing. Andi, Ali, dan Zahra berjalan beriringan, melanjutkan tentang rencana mengenai pengumuman pak Hisnuddin tadi.

“Semoga, nanti kita satu tim ya” harap Andi, dengan kedua kawannya beriringan.

“Aamiin” jawab Zahra

Mereka masuk ruang kelas untuk melangsungkan mata kuliah pagi itu, dengan begitu konsentrasi Andi, Ali, dan Zahra mendengarkan penjelasan Bu Afi tentang analisis sosial di dalam masyarakat. Bahwa, darisana Andi menyimpulkan, saat seorang penganalisis ingin menemukan titik permasalahan sekelompok masyarakat maka ia harus menganalisis, pun saat para analisis sosial telah menemukan permasalahan itu, mereka harus cerdas mencari penyebab dan memberikan solusi untuk memecahkannya. Rupanya, mata kuliah itu begitu dihayati oleh Andi dan dua kawannya, hingga waktu berakhir seakan tidak terasa.

Mata kuliah hari ini selesai, mereka bernafas lega. Berjalan melenggang, beriringan. Sesekali mereka melirik setiap ruang kelas yang dilaluinya. Pada akhir lirikan itu sampai dipapan pengumuman, papan pengumuman itu tertulis tentang pembagian kelompok pengabdian masyarakat. Tinta hitam tebal, menambah hasrat mereka bertiga untuk semakin mendekat.

Senyum mereka terlihat merekah, rupanya ada satu kebahagiaan yang mereka dapatkan dari pengumuman itu.

“Hore, kita satu tim” sorak Zahra sambil loncat-loncat kegirangan

“Alhamdulillah” sahut Ali

Mereka merayakan itu dengan sorak gembira, sekadar membeli boba dipinggir jalan dengan senyuman yang sama-sama lebar. Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 17.00 WIB, mereka bergegas pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap besok, melakukan pengabdian masyarakat. Mereka akan memberikan yang terbaik untuk masyarakat Andalanisia.

Perjalanan menuju Mimpi lahirnya Sosiologi “Andalanisia”

Pagi menyambut, memberikan senyum simpulnya. Terlihat Ali sedang menyiapkan tas ransel dan bersiap pamitan kepada sang Ibu, untuk pergi mengabdi, memberi yang terbaik bagi masyarakat Andalanisia. Sebelum itu, Ali mengeluarkan ponsel hitamnya, mengabari kawannya, Andi dan Zahra.

“Aku tunggu dititik kumpul ya, kita ketemuan disana” bunyi chat Ali pada dinding grup whatsapp bersama Andi dan Zahra.

Ali segera berpamitan kepada sang Ibu, meminta restu wanita yang melahirkannya.

“Bu, Ali berangkat dulu ya. Do’akan selamat sampai kembali lagi ke rumah”

“Aamiin, hati-hati nak. Ibu selalu berdo’a yang terbaik buat kamu” jawab Ibu lirih

Sedangkan disana, Zahra dan Andi sudah berdiri didepan bus yang bertuliskan “Mahkota Emas” bus itu terlihat gagah, siap mengantarkan mereka melakukan pengabdian di Andalanisia.

“Hallo, sudah siap?” tanya Ali

“Sudah dong” jawab Zahra dan Andi serentak

sosiologi, perjalanan menuju kelahiran sosiologi

Rombongan bergegas untuk masuk bus, supir bus terdengar memanasi mesin dan tanda-tanda akan diberangkatkan. Kami bertiga duduk bersebelahan, terlihat Zahra mulutnya komat-kamit, berdo’a. Perjalanan begitu panjang, hampir memakan waktu tiga setengah jam. Tak berselang setelah itu, kami tiba, kami tiba disebuah desa kecil, namun masih asri dan sejuk udaranya. Terpampang tulisan besar, ucapan selamat datang di Kecamatan Andalanisia.

Kami turun dari bus, disambut rentetan staff desa beserta bapak Kepala Desa. Andi sedikit mendongakkan kepalanya, bak seperti orang penting. Padahal, Andi bukan siapa-siapa. Ah, sepertinya Andi yang terlalu berlebihan, toh bukan hanya Andi saja yang disambut.

Mereka duduk diatas kursi hijau, di area tanah yang lapang. Rupanya tempat itu sudah disediakan. Sebelum memulai kegiatan, mereka mendengarkan arahan dari pihak setempat, kepala desa, dan staff, serta masyarakat yang dijadikan panutan. Beberapa kali, ada anak kecil melirik tajam ke arah Ali, Ali membalasnya dengan senyum simpul yang menampakan lesung pipinya itu.

Tak berselang lama, pembekalan selesai. Mereka diutus untuk pergi ke suatu tempat, tempat yang luas, sudah dilengkapi dengan papan tulis lusuh, dan puluhan anak duduk bersila diatas tikar warna merah.

“Hallo kak” sapa mereka, gemuruh

“Iya, hallo semua” jawab Zahra

Jika digambarkan, mereka seusia anak SMA namun, karena di Andalanisia minim Pendidikan jadi mereka adalah anak-anak yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Ali, Andi, dan Zahra bersama dua kawan lainnya segera memeprsiapkan diri, membantu adik-adiknya di Andalanisia untuk belajar.

“Kak kuliah itu rasanya gimana sih?” cletuk anak yang duduk dipojok belakang

“Hehe, biasa saja tapi menyenangkan juga, kalian bisa eksplor kemampuan sebanyak-banyaknya disana. Oh ya, kalian juga bebas memilih jurusan apapun sesuai kemampuan dan kemauan kalian loh”

“Wah, menyenangkan. Kalau kakak jurusannya apa?” tanya salah satu anak berperawakan tinggi semampai

“Namanya siapa dek, perkenalan diri dulu dong biar kita tahu dan lebih dekat gitu loh”

“Namaku Zahwa kak”

“Oke Zahwa, kami dari jurusan Sosiologi”

“Apa itu Sosiologi kak?”

“Sosiologi itu adalah ilmu yang lebih banyak memepelajari tentang masyarakat, dan segala yang terkait dengan kehidupannya. Bisa juga interaksinya.”

Dibarisan paling belakang, terlihat anak tertawa kecil bersama kawan disampingnya.

“Kenapa kamu tertawa?” tanya Ali

“Enggak apa-apa kak, emang ada ya ilmu yang memeplajari tentang masyarakat? kan masyarakat bukan pelajaran”

“Yaa ada, Sosiologi ini” jawab Zahra sembari tersenyum lebar

“Kak, boleh enggak ceritakan sejarah hingga ada ilmu Sosiologi. Aku penasaran nih kak”

“Oke, kakak akan jelaskan dengan singkat. Jadi, ilmu Sosiologi itu lahir Ketika ada revolusi Prancis dan Revolusi industri di Inggris, nah pada revolusi yang disebut revolusi Prancis itu masyarakat Prancis mengalami kesewenang-wenangan dalam suatu pemerintahan di Prancis. Sehingga mereka mengalami pemberontakan sebagai upaya membebaskan diri, dengan cara berpikir rasional untuk kesejahteraan bersama.

Sedangkan pada revolusi industri, hal itu ditandai dengan adanya peningkatan ekonomi, tapi hanya bagi mereka yang berdekatan dengan lokasi industri saja, lainnya masih kekurangan. Lalu ada seorang tokoh Sosiologi yang kemudian menjadi bapak Sosiologi, dia yang melahirkan ilmu itu, namanya Auguste Comte. Biasa dipanggil Comte.

Dia berpikir bagaimana mengatasi hal-hal tersebut dan tindakan apa yang harus dilakukan. Ahirnya ia memutuskan, ada ilmu yang mempelajari masyarakat dan mengarahkannya, karena ilmu itu memepelajari segala yang ada dalam kehidupan masyarakat, termasuk interaksinya. Harapannya kehidupan itu dapat lebih baik dan mencapai kesejahteraan bersama dengan berpedoman pada ilmu Sosiologi ini.” perlu kalian catat ya, bahwa yang melembagakan Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan atau disiplin ilmu adalah Emile Durkheim

“Wah, menarik kak ceritanya. Aku jadi pengen belajar Sosiologi juga”

“Gimana, udah paham?” tanya Andi, menegaskan

“Sudah kak” jawab mereka serentak

Setelah berlagsung beberapa jam, akhirnya pembelajaran itu dikahiri, tugas Andi dan tim telah selesai disesi pertama. Setelah itu adalah giliran tim lainnya. Mereka berpamitan dan mengucapkan salam.

“Terimakasih ya semuanya, kami mohon pamit. Maaf jika ada salah kata dan perbuatan. Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam kak, sampai bertemu lagi” jawab mereka, serentak

“Lahirnya Sosiologi di Andalanisia”

Malam tiba, di Andalanisia. Udara asri nan sejuk menghiasi malam kala itu. Zahwa, seorang anak perempuan yang tadi bertanya kepada tim Andi, saat diberi materi. Ia tertidur diatas Kasur busa dengan hiasan bunga-bunga, lengkap boneka hello kitty dirangkulnya. Tiba-tiba Zahwa bermimpi, Zahwa bermimpi ada krisis besar-besaran di Andalanisia, Zahwa bermimpi hanya Pak Jagad pemilik industri sepatu, yang sejahtera.

sosiologi, sejarah lahirnya sosiologi

Sedangkan masyarakat yang jauh dari industri itu biasa-biasa saja. Zahwa menghela nafas panjang. Dalam mimpinya, ia berjalan disekitar toko Bu Ama, ekspresinya terus berpikir, bagaimana mengatasi itu. Sedangkan tidak hanya pak Jagad saja yang perlu kehidupan, masyarakat yang jauh dari tempat tinggalnya juga perlu kehidupan. Ah, rasanya dalam mimpi itu Zahwa berpikir begitu keras.

Zahwa duduk sebentar, diatas kursi bambu didepan rumahnya, ia termenung. Tiba-tiba pikirannya trebelalak pada penjelasan Andi dan kawan-kawannya. Tentang, Sosiologi.

“Oh ya, kenapa peristiwa ini hampir mirip dengan penjelasan kakak tadi ya” gumamnya dalam hati

Setelah itu ia berkeinginan menjadikan Sosiologi sebagai dasarnya untuk mengupas permasalahan yang ada disekitarnya, dia jatuh cinta pada Sosiologi pada saat itu juga. Sosiologi, akan menjadi ilmu yang di lahirkan untuk pertama kalinya di Andalanisia.

Tak lama, Ibu Zahwa menghampirinya di kamar Zahwa

“Zahwa bangun nak, sudah siang”

Seketika mimpi Zahwa terhenti, tapi ia ingat betul isi dari mimpinya. Sosiologi lahir di Andalanisia.

Pagi menyambut Zahwa, meski sedikit kesiangan, karena terlalu menikmati mimpinya. Tiba-tiba Zahwa memberhentikan Ali, Andi, dan Zahra yang terlihat memanggul tas ransel, lewat didepan rumahnya.

“Kak” sapa Zahwa

“Iya, Zahwa”

“Kak, aku mau kuliah tapi jurusan Sosiologi seperti kakak”

seketika Andi dan kawan-kawannya terbelalak, terdiam

“Kenapa tiba-tiba kamu bicara begitu?”

“Aku tadi bermimpi kak, ada peristiwa yang hampir mirip dengan sejarah lahirnya ilmu Sosiologi tadi, tapi bedanya ini terjadi di Andalanisia. Aku berpikir, aku harus mempelajari Sosiologi sebelum terlambat.”

Andi, Ali, dan Zahwa tersenyum bersamaan. Ada-ada saja, katanya.

“Kalau mau kuliah, belajar yang rajin ya” ucap Zahra

“Iya kak, aku bakalan belajar yang rajin terutama pada ilmu Sosiologi”

“Siap, yasudah kami pamit dulu, bus sudah menunggu kami. Sampai jumpa Zahwa”

Rombongan Andi berjalan menuju bus dengan memanggul tas ransel sembari menghadap belakang, menghadap Zahwa, dan Zahwa terlihat melambaikan tangannya ke arah mereka bertiga.

By Sugiati, mahasiswa Sosiologi Universitas Trunojoyo

Leave a Reply