Industri substitusi import, Komoditas apa yang tepat untuk indonesia?

  • November 14, 2021
  • 112 Views

Daftar Isi

industri substitusi import

dunialiterasi.com – Dalam pandangan industry substitusi: Raul Presbisch berpendapat bahwa negara dengan komoditas pertanian selalu mengalami keterbelakangan hal terjadi karena adanya hubungan eksploitasi antara negara pusat (industri) dengan negara pinggiran (pertanian), adanya penurunan nilai tukar komoditas pertanian terhadap barang industry, adanya proteksi negara maju pada pertaniannya, misal subsidi petani, jadi harga komoditas pertanian lebih murah. Dalam pandangannya Raul Presbisch memberikan solusi yaitu dengan kebijakan industry substitisi import dimana industry dibangun untuk menggantikan barang import mayoritas, sehingga import dipertimbangkan untuk barang modal contohnya seperti mesin  produksi. Menurut Prebish keterbelakangan di negara negara Amerika Latin akibat dari terlalu mengandalkan ekspor barang-barang primer. Dan Negara-negara yang terbelakang harus melakukan  industrialisasi yang dimulai dari industri substitusi impor. Prebish tidak  menganjurkan system ekonomi di pimpin oleh Negara seperti yang dilakukan Negara sosialis.

Negara agraris: komoditas pertanian

Negara Indonesia sebagai salah satu negara agraris, berdasarkan Badan Pusat Statistik pertanian meruapakan sector lapangan pekerjaan yang masih mendominasi sebesar 27, 33 persen disbanding ddengan sector perdagngan 18,81 persen dan industry pengolahan sebesar 14, 96 persen. Hal ini seharusnya dapat menjadi harapan untuk dapat memenuhi selurih kebutuhan pokok masyarkat Indonesia. dengan julukan Indonesia sebagai negara agraris seharusnya dapat menghasilan bahan pangan sendiri.

            Namun dalam beberapa komoditas seperti beras, kentang, the dan jagung  Indonesia masih harus mengimport karena belum bisa memenuhi kebutuhan pasar. Setiap tahun Indonesia masih mengimport beras dari Vietnam dan Thailand untuk memenuhi kebutuhan pangan Indonesia. Berdasarkan perbulan Oktober 2019 import beras dari Vietnam sebesar 767.180,9 ton naik dadri tahun 2017 yang berjumlah 16.599,9 ton dari negara Thailand juga mengalami peningkatan menjadi 108.944,8 ton dari tahun 2017 sebesar 795.600,1 ton. Dalam kebijakan import ini pemerintah Indonesia ingin dapat memenuhi kubutuhan pasar, dan juga dapat menanggulangi kenaikan harga beras. Namun disayangkan apabila negara pertanian tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar, hal ini juga berdampak pada harga beras local yang lebih mahal daripada beras import, sehingga persaingan para petani untuk menurunkan harga agar beras dapat terjual memborbardir harga beras local. Menurut teori industry substitusi import sector bahwa harga barang pertanian lebih murah dari pada harga jual barang komoditas sejalan dengan komoditas beras yang mengalami penurunan harga. Indonesia sebagai negara agraris menjadi komoditas indistri seperti motor, dan mobil dengan harga yang mahal.

BACA JUGA  Sosial Kapital, potensi dan Strategi aktualisasi untuk pembangunan dan pemberdayaan

            Dalam komoditas lain seperti karet dimana Indonesia memiliki sumber daya karet yang melimpah. Karet menjadi salah satu komoditas perkebunan Indonesia yang mempunyai peranan sangat penting. Komoditas karet alam Indonesia berkontribusi sebagai sumber devisa non migas sekaligus mampu mendorong perekonomian baru di daerah sentra karet Indonesia. Karet alam benar-benar tumbuh baik di tanah Indonesia. Wajar saja jika hal ini membuat peluang ekspor karet ke luar negeri kian terbuka lebar. Adapun karet alam yang diproduksi di Indonesia dapat dikategorikan menjadi tiga bagian perkebunan yaitu milik negara, swasta dan rakyat. Dari tiga perkebunan tersebut, Anda harus tahu bahwa perkebunan milik rakyat menjadi yang terbesar. Data terakhir menyebutkan bahwa luas perkebunan karet milik rakyat adalah 3,113 juta hektar. Kemudian, disusul oleh perkebunan swasta yaitu 246,05 hektar dan perkebunan negara seluas 189,58 hektar.

            sumber daya karet yang melimpah sehingga dapat mengeskport karet ke luar negeri, tetapi ketika karet ini sudah menjadi barang industry harganya yang ditawarkan lebih naik, dan negara agraris dengan sumber daya manusia yang banyak menjadi pasar untuk memnjual barang industry tersebut.  Dalam teori ini solusi yang diberikan yaitu Indonesia tidak hanya mengimport sumber daya alam mentah tetapi dalam mengikmport komoditas pertanian seperti mesin pengering padi, mesin penggilingan padi. Sedangkan komoditas yang diperlukan dalam peningkatan karet yaitu dengan peremajaan karet menggunakan teknologi. Provinsi Jambi merupakan penghasil karet terbesar ketiga di Indonesia. Komoditas ini  memainkan sebuah peran penting dalam perekonomian disemua kabupaten di Provinsi Jambi. Areal perkebunan karet di Provinsi Jambi luasnya mencapai 567.042 ha, dengan hasil olahan karet sebanyak 312.292 ton. Kondisi luas areal perkebunan karet terdiri dari 105.666 ha merupakan hasil panen (TM), 330.820 ha adalah tanaman belum menghasilkan dan 130. 656 ha merupakan tanaman tua dan rusak (TR). Kondisi ini menyebabkan rendahnya tingkat produktivitas tanaman karet rata-rata hanya 714 kg / ha / th, oleh karena itu perlu adanya Peremajaan karet di Jambi menjadi prioritas utama pemerintah dan masyarakat. Beberapa masalah peremajaan ditemukan pada petani karet yang kurang pengetahuan dan teknologi, kurangnya kesiapan petani dan kelompok tani, kesiapan dana, masih kurangnya dukungan pemerintah dalam memberikan semacam kredit lunak kepada petani khususnya petani karet Penerapan teknologi budidaya karet yang baik dan benar merupakan saran yang akan meningkatkan produktivitas perkebunan karet dalam jangka panjang, serta kerjasama yang diperlukan antara Dinas Perkebunan, Lembaga Penelitian, BPN, Perbankan, dan Bapelluh Bakorluh, serta seluruh pemangku kepentingan fasilitas terkait sebagai penyedia transfer teknologi, lembaga pembiayaan, dan lembaga terkait lainnya sehingga selanjutnya diharapkan penyedia sarana produksi karet di Jambi bisa dijalankan sesuai dengan program peremajaan.

BACA JUGA  Manfaat Lingkungan hidup dalam kehidupan Manusia

            Maka perlu adanya peranan pemerintah untuk dapat membantu peremajaan masayaralat dengan mengimport teknologi dari negara lain agar bisa meningkatkan komoditas karet. sektor industri pilihan substitusi import jangan sampai salah ambil kebijakan

BY: Luvita Dewi

Daftar Pustaka:

Suharyon, Suharyon. “Potensi, Kendala dan Solusi Peremajaan Karet Dalam Mewujudkan Pertanian Maju Mandiri-Modern di Tengah Perubahan Iklim dan Pandemi Covid 19 Di Provinsi Jambi.” Jurnal Ilmiah Ilmu Terapan Universitas Jambi| JIITUJ| 5.1 (2021): 48-56.

Abidin, M. Zainul. “Dampak kebijakan impor beras dan ketahanan pangan dalam perspektif kesejahteraan sosial.” Sosio Informa 1.3 (2015).

Leave a Reply

x