Dukungan Menyusui Dan Tantangannya, 2022

Dukungan menyusui dan Tantangannya – Belakangan, menyusui seringkali dianggap bagian dari ketidakadilan gender. Sejarah membuktikan, regulasi tentang menyusui melalui perjuangan panjang para aktivis kesehatan yang mendukung menyusui sebagai praktik yang harus dilindungi dari promosi susu formula. implementasi praktik menyusui masih seringkali diperdebatkan dan tidak mudah.

Prolog

Sejarah menyusui di Amerika menunjakkan trend penurunan sejak tahun 1600. Angka terendah pada tahun 1970-an. Meski setelah itu menunjukkan trend peningkatan pada tahun 2009, 76,9%, bayi disusui setelah persalinan, namun angka itu menurun 25,5% setelah bayi berusia 1 tahun.

Situasi tersebut menunjukkan, ada berbagai faktor yang memengaruhi keputusan perempuan untuk tetap melanjutkan praktik menyusui pada bayinya sesuai dengan rekomendasi kesehatan. Dinamika sosial dan kebudayaan adalah salah satunya. Pandangan gender selama ini seringkali mengabaikan, menyusui sebagai salah satu pokok bahasan. Para pemikir gender terjebak pada pemikiran neutral gender sebagai dasar perjuangan kesetaraan gender. Dalam konteks ini, maka menyusui merupakan hambatan untuk mencapai kesetaraan gender.

Di satu sisi, para ibu yang memutuskan menyusui, nampaknya menjadikan keputusan ini sebagai peluang untuk mendapatkan kesempatan menghilangkan hambatan-hambatan menyusui yang diproduksi oleh patriarki, masyarakat kapitalis dan pandangan neutral gender itu sendiri. Melawan pandangan seksualitas payudara, menyuarakan praktik menyusui di tingkat privat dan publik, menghilangkan hambatan ekonomi dan kurangnya dukungan professional kesehatan serta kurangnya dukungan keluarga dan tempat kerja. Emansipasi ini diperluas dalam bentuk aktivisme perempuan sebagai gerakan sosial bersama untuk memperoleh dukungan masyarakat yang lebih luas (Pemberton & Harrisburg, 2014)

Lalu, mengapa menyusui perlu diperjuangkan dan membutuhkan dukungan?

Sejarah membuktikan, regulasi tentang menyusui melalui perjuangan panjang para aktivis kesehatan yang mendukung menyusui sebagai praktik yang harus dilindungi dari promosi susu formula, yang dikenal sebagai Nestle Boycott. Gerakan tersebut terjadi pada rentang tahun 1970an-1980an dan melibatkan aksi berbagai negara di Amerika, Eropa dan Australia yang pada akhirnya melahirkan KODE WHO. Sekarang, setelah beberapa dekade sejak dimunculkannya KODE WHO, implementasi praktik menyusui masih seringkali diperdebatkan dan tidak mudah.

Berbagai bukti ilmiah membuktikan bahwa ASI memberi manfaat luar biasa bagi kesehatan ibu dan bayi. Namun di luar perkara biologis dan fisiologis tersebut, berbagai masalah sosial, budaya, regulasi yang lemah dsb terdapat situasi yang menghambat dukungan menyusui.

Dalam perspektif keluarga, ibu dihadapkan dengan konflik peran, sebagai ibu, istri  dan pekerja. Harapan yang tinggi terhadap peran ganda perempuan tersebut berpotensi membuat dirinya pada posisi yang tertindas. Budaya patriarkhi dan beroperasinya kapitalisme dalam kehidupan sehari-hari menyulitkan akses ibu untuk menyusui bayinya. Dalam perkpektif gender, masalah sulitnya akses ibu untuk menyusui bayinya bersumber pada ideology neutral gender yang cenderung abai pada perbedaan biologis, di mana pengalaman menyusui hanya dapat dilakukan oleh ibu dan tidak dapat dibagikan secara setara dengan pria. Hal ini akan tampak ekstrim pada perempuan pekerja dimana pekerjaan merupakan bagian dari ideology neutral gender. Benturan-benturan ideology inilah yang menjadi asumsi dasar mengapa praktik menyusui perlu diperjuangkan dan membutuhkan dukungan sosial secara luas.

BACA JUGA  Bagaimana Syarat Pengajuan Kartu Keluarga Buat Pasangan Nikah Siri Tulungagung

Para aktivis kesehatan mengakui bahwa dukungan menyusui bukan hanya perkara kesehatan saja, melainkan melainkan melibatkan faktor sosial, politik, dan ekonomi dengan kata lain adalah masalah struktural (sosiologi kesehatan). Mengapa faktor struktural? Karena melalui perubahan struktural diharapkan menciptakan kondisi yang memungkinkan ibu menyusui secara nyaman secara sosial, ekonomi, dan menempatkannya sebagai praktik yang bernilai bagi semua orang. Untuk itu, dibutuhkan kebijakan tentang praktik menyusui di semua sektor kehidupan masyarakat. 

Kebijakan tersebut dapat mengejawantah dalam kebijakan pelayanan menyusui di fasilitas kesehatan, cuti melahirkan yang memadai, jam kerja yang fleksibel, pemberian cuti bagi ayah atau anggota keluarga lainnya yang membantu ibu menyusui, penyediaan day care di tempat kerja, penyediaan fasilitas ruang menyusui dan penyimpanan ASI, ruang menyusui di tempat public, dsb. Selain itu, perlunya pandangaan untuk pembagian kerja yang adil bagi perempuan dalam rumah tangganya masing-masing (McCarter-Spaulding, 2008).

Menyusui dan Budaya

Menyusui di dada dan membutuhkan waktu yang panjang untuk menyusui adalah ciri khas ordo mamalia. Pada banyak spesies proses menyusui adalah naluriah, dimana bayi yang baru lahir dapat secara aktif bergerak dan mencari puting induknya. Namun pada spesies primata menunjukkan sifat yang berbeda.

Suatu penelitian menunjukkan bayi gorilla yang baru dilahirkan nampak tidak berdaya sehingga penunjang kehidupan selanjutnya sangat tergantung pada peran induknya. Stimulus peran naluriah keibuan nampaknya dipelajari dan diturunkan oleh kelompok sosialnya. Hal ini Nampak pada gorilla yang dibesarkan di kebun binatang melahirkan, induk terlihat bingung dan tidak menunjukkan kecenderungan menyusui. padahal kesempatan hidup bayi gorilla tersebut sangat tergantung dari peran pengasuhan induknya.

Induk gorilla yang kebingungan mengasuh dan menyusui bayinya diprediksi berasal dari ketiadaan pengalaman induk tersebut melihat betina lain menyusui bayinya. Hal ini membuktikan bahwa besarnya peran induk primata dalam menunjang kehidupan anaknya sangat dipengaruhi oleh kelompok sosial. Lalu bagaimana dengan manusia?

Manusia adalah mamalia paling rumit diantara mamalia lainnya. Menengok kembali apa yang sudah dipelajari pada primata gorilla setidaknya bisa menjadi gambaran menyusui pada manusia. Bila gorilla membutuhkan kelompok sosialnya untuk belajar menyusui, hal ini juga terjadi pada manusia. Sifat alamiah menyusui memungkinkan bila ibu belajar dari lingkungan sekitarnya. Dalam konteks manusia, maka budaya memiliki peran penting.

BACA JUGA  Simak Panduan lengkap Cara membuat lamaran kerja Berikut ini

Budaya berkontribusi pada “way of life” setiap individu yang ada di dalam kelompok  budayanya. Budaya mengkatalisasi gagasan tentang nilai-nilai kehidupan dan norma-norma yang menunjangnya. Budaya berfungsi sebagai sistem informasi “genetika cara hidup dan cara hidup bersama”  yang diturunkan lintas generasi. Budaya memiliki efek statis dan dinamis. Di era global, budaya lebih mudah mempengaruhi dan dipengaruhi oleh gagasan dari luar.

Gambaran di atas menunjukkan, bahwa informasi non genetik mempengaruhi tindakan dan aktivitas ibu. Ibu mempelajarinya dari keturunannya dan juga dari kelompok sosialnya. Dengan demikian, kapasitas anak perempuan tentang pengasuhan anak ditularkan secara budaya antar generasi. Pengetahuan dan harapan tentang menyusui kemungkinan sudah berkembang sebelum pengalaman langsung diperoleh. Dalam konteks ini, menyusui lebih bersifat artifisial ketimbang alamiah.

Lalu bagaimana ini terjadi?

Atribusi alamiah laktasi rentan pada manusia. Keragaman budaya pada kehidupan manusia menunjukkan pola yang berbeda tentang laktasi dan pengasuhan pada anak.  Oleh karena itu, laktasi pada manusia merupakan manifestasi biologis dengan tingkat fleksibilitas sangat tinggi. Banyak hal yang bisa memanipulasi hubungan ibu dengan anaknya, entah itu mendukung maupun menjauhkan ibu untuk menyusui bayinya.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas. Praktik menyusui menunjukkan angka yang menurun. Di satu sisi ada peningkatan setelah diimplementasikannya KODE WHO, namun kecenderungan menurun juga terjadi menurut deret usia bayi. Kerentanan dan ketidakkonsistenan ibu menyusi menunjukkan kerentanan yang mendukung aktivitas menyusui.

Dalam konteks ini, secara sosial menyusui bisa jadi “tidak normal” dan dalam konteks ini, maka untuk dukungan menyusui perlu “biopower dan normalisasi praktik menyusui’’ di tengah kerentanan praktik ini. Normalisasi yang diperlukan tdaklah bersifat represif, melainkan normalisasi yang halus yang mendefinisikan perilaku yang terlembaga melalui pengetahuan sehari-hari. Dalam konteks ini, medikalisasi memegang peran kunci dalam normalisasi menyusui. medikalisasi adalah penerapan argumentasi medis dalam kehidupan sehari-hari.

Rekomendasi internasional tentang praktik menyusui sarat asumsi medikalisasi. Namun dalam konteks keragaman kultur dan silang sengkarut informasi tentang menyusui, seharusnya praktik medikalisasi menyusui memperhatikan kondisi setiap individu, kelompok, dan sosial budaya yang lebih kompehensif dengan mempertimbangkan aspek lokalitas, dan sifat hegemonik prosedur yang kaku yang berpotensi menghilangkan nasihat ortodoks yang sebenarnya berperan dalam dukungan menyusui (Wells, 2006).

Intervensi Kesehatan, Medikalisasi dan Dukungan Menyusui

Dukungan Menyusui

Suatu penelitian di US, US Preventive Sevices Task Force (USPSTF) tahun 2008 menunjukkan bahwa intervensi dukungan menyusui dapat meningkatkan durasi ibu untuk menyusui bayinya (Bibbins-Domingo, 2016). Penelitian lain menunjukkan, intervensi kesehatan dengan atribusi sosial tertentu lebih berhasil. Di US, intervensi kesehatan relatif dapat diterima dengan atribut sosial ras kulit putih, tingkat pendidikan tinggi, status menikah, usia dewasa dan pemilikan jaminan kesehatan (Kuan et al., 1999).  

BACA JUGA  ANALISIS WILAYAH PESISIR DAN LAUT DI KABUPATEN LAMONGAN DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Di Norwegia dan Kanada, salah satu negara percontohan WHO di mana tingkat pemberian ASI yang tinggi, menunjukkan fenomena medikalisasi. Cara merasa, berpikir dan berbicara tentang keputusan menyusui ibu sangat dipengaruhi oleh logika wacana medis yang meluas pada wacana orang tua kontemporer. Temuan ini mengonfirmasi bahwa meluasnya wacana medis dalam kehidupan sehari-hari dan meningkatnya peran professional kesehatan memiliki  peran otoritatif dalam menjaga gerbang moral manusia kontemporer, termasuk praktik menyusui (Andrews & Knaak, 2013).

Lalu, bagaimana medikalisasi ini diterima pada masyarakat tersebut? Dan apakah ini bisa diberlakukan pada masyarakat yang lain?

Jawaban pertama dari pertanyaan di atas sangat bersifat historis. Hadirnya masyarat medis tidak terlepas dari sejarah kesehatan manusia Eropa. Oleh karena itu argumentasi medis akan lebih diterima oleh masyarakat Eropa yang memiliki riwayat lebih panjang dalam pergulatannya terkait pengetahuan medis. Jawaban ini mempengaruhi jawaban pertanyaan kedua, karena sifat historis maka tidak serta merta menjadikannya memiliki sifat ahistoris. Dimana pola yang sama juga berlaku untuk semua masyarakat tanpa memandang perbedaan.

Oleh karena itu, potensi diterimanya argumentasi medis di luar masyarakat Eropa tentu saja jauh lebih banyak tantangan. Karena setiap kelompok sosial budaya masyarakat sebenarnya telah mengembangkan sistem yang adaptif bagi kehidupannya sendiri. Oleh karena itu, dukungan menyusui harus melibatkan wacana lokal yang dapat menjadi katalisator yang tepat bagi ibu, keluarga, dan keseluhan masyarakat.

Di era globalisasi, dukungan dapat berupa macam dan bentuk. Komunitas-komunitas hadir dalam berbagai cara. Tantangan ke depan bagi praktik menyusui adalah bagaimana membuat sistem atau struktur sosial yang memudahkan semua ibu untuk menyusui bayinya kapan saja dan dimana saja baik dalam aspek lokalitas dan global.

Referensi

Andrews, T., & Knaak, S. (2013). Medicalized mothering: Experiences with breastfeeding in Canada and Norway. Sociological Review, 61(1), 88–110. https://doi.org/10.1111/1467-954X.12006

Bibbins-Domingo, K. (2016). Primary care interventions to support breastfe          eding US preventive services task force recommendation statement. JAMA – Journal of the American Medical Association, 316(16), 1688–1693. https://doi.org/10.1001/jama.2016.14697

Kuan, L. W., Britto, M., Decolongon, J., Schoettker, P. J., Atherton, H. D., & Kotagal, U. R. (1999). Health system factors contributing to breastfeeding success. Pediatrics, 104(3). https://doi.org/10.1542/peds.104.3.e28

McCarter-Spaulding, D. (2008). Is breastfeeding fair? Tensions in feminist perspectives on breastfeeding and the family. Journal of Human Lactation, 24(2), 206–212. https://doi.org/10.1177/0890334408316076

Pemberton, J. L., & Harrisburg, P. S. (2014). Breastfeeding as activism: Moving from oppression to emancipation. Adult Education Research Conference, 0–2.

Wells, J. (2006). The role of cultural factors in human breastfeeding: Adaptive behaviour or biopower? In: Bose, K, (Ed.) Ecology, Culture, Nutrition, Health and Disease. (Pp. 39-47). Kamla-Raj Enterprises, Delhi, India (2006), (6), 39–47.

Leave a Reply