Aku Bisa Karena Aku Percaya: Motivasi Kehidupan

Pandangan Mereka

Aku Bisa Karena Aku Percaya: Tatapan-tatapan itu selalu membuatku tertunduk saat berjalan. Tatapan yang selalu membuatku merasa bahwa aku tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Mereka memang tidak berkata secara langsung, tetapi sikap mereka yang selalu menganggap aku tidak ada sudah menunjukkan, bahwa aku tidak pantas bergaul dengan mereka.

Hanya satu, orang yang dengan bodohnya menjadikanku sahabat sejatinya, Hanum namanya. Kadang, karena terbiasa diacuhkan, aku menjadi bingung saat ada orang yang perhatian denganku, tapi, Hanum benar-benar sosok teman idaman. Dia punya segalanya, pintar, dan banyak teman, tetapi masih mau berteman denganku. Kadang aku berpikir, apakah Hanum hanya kasihan, tapi intinya, aku bersyukur memilikinya.

“Pagi, Nirmaku.” Seseorang merangkulku dari belakang, siapa lagi kalau bukan Hanum. Aku bahkan hampir tidak pernah mengobrol dengan siapapun selain dia, jadi tidak mungkin kalau itu bukan Hanum.

Aku yang tertunduk langsung tersenyum melihatnya. Aku selalu merasa lebih aman jika jalan berdampingan dengan Hanum, dibandingkan harus berjalan sendirian. Aku bisa lebih fokus mengobrol bersama Hanum. Beda kalau sendiri, aku malah lebih fokus memikirkan pikiran-pikiran orang yang menatapku dengan tatapan merendahkan.

“Jadinya kamu mau daftar kemana?”

Aku menghela nafas sambil mengangkat bahu. Jangankan memikirkan kemana tujuanku mendaftar ke universitas, memikirkan kuliah saja aku tidak bisa. Aku terlalu takut dan pesimis, aku tidak akan mungkin lolos di universitas negeri, dan kalaupun lolos, Ibuku tidak mungkin mampu membiayainya.

“Udah cari-cari beasiswa?”

Aku menatap Hanum, “Beasiswa mana yang mau terima aku, Num.”

Aku sama sekali tidak berpikir untuk daftar beasiswa. Nilaiku saja selama ini pas-pasan. Ya, walaupun aku tidak sebodoh itu, tapi aku juga tidak sepintar itu untuk bisa ikut program beasiswa.

baca juga: Sebuah inspirasi dan motivasi: Trik dan strategi sukses dalam mengelola karir dan bisnis

Peluang

Nirma tersenyum sambil memberikanku selembaran. Aku menerimanya dengan bingung, ternyata brosur pendaftaran beasiswa. Aku membacanya, jika aku bisa lolos beasiswa ini, aku tidak perlu membayar biaya kuliah sepeserpun, ditambah aku akan mendapatkan uang saku. Menggiurkan, pasti orang-orang pintar akan mendaftar juga, aku pasti tersingkir dengan cepat.

“Gak ah, gak akan lolos.” Kataku sambil mengembalikan selembaran itu kepada Hanum. “Aku kayaknya mau bantu Ibu aja di toko.” Lanjutku.

BACA JUGA  Ingin Hajad terkabul? amalkan Surat Alfathehah!

Ibuku punya usaha kecil-kecilan. Jualan kue-kue kecil. Ibuku buat sendiri, rasanya enak sekali. Hanya saja, untungnya tidak banyak. Jadi, penghasilan ibuku tidak akan cukup untuk membiayai kuliahku.

“Dicoba dulu kan gak ada salahnya, Nir. Kamu emang mau selalu dianggap rendah sama yang lain? Mau sampai kapan, Nir?” tanya Hanum, sedikit menusuk hatiku.

Selama hidup, aku tidak pernah merasakan rasanya dipuji oleh orang lain selain ibuku sendiri. Jangankan dipuji, dianggap ada saja aku tidak merasakannya. Seolah-olah aku hidup hanya untuk menjadi benalu.

“Sini-sini.” Hanum mengajakku duduk di koridor kelas. Ia memberikan kembali brosur itu kepadaku, lalu ia tambahkan beberapa brosur lagi. “Ini semua program beasiswa yang bisa kamu coba, semuanya beasiswa full, kamu gak perlu mikirin biaya kuliah dan uang jajan kalau kamu lolos.”

Aku masih terdiam memandangi brosur-brosur itu. Lalu Hanum membuka tasnya dan memberikanku beberapa Buku, “Ini buat kamu belajar, kamu pelajarin yang serius. Aku yakin kamu bisa. Nir, semua tergantung diri kamu, kalau kamu percaya kamu bisa, kamu pasti bakal bisa. Aku juga akan daftar beasiswa-beasiswa itu, aku mau kita berjuang bareng-bareng. Kita buktiin sama semua orang, kalau kita lebih keren daripada pemikiran mereka tentang kita.” Katanya sambil menatapku serius.

Tanpa aku sadari, mataku berkaca-kaca. Aku sangat terharu dan bersyukur, memiliki Hanum di hidupku, teman yang selalu membangkitkanku saat aku benar-benar terjatuh, teman yang selalu menganggapku berlian di saat yang lain menganggapku benalu. Aku memeluk Hanum sambil berkata, “Makasih ya, Num. Aku percaya aku bisa. Aku bakal coba untuk daftar beasiswa.”

Hanum mengelus-elus punggungku. “Kamu pasti bisa.”

Berusaha

aku bisa karena aku percaya

Sepulang dari sekolah, aku langsung membuka buku yang diberikan oleh Hanum. Aku mulai membuka halaman pertama. Jujur, kepalaku agak sedikit pusing membacanya. Materinya sangat jauh lebih sulit dibandingkan materi di sekolah, selama ini saja aku hanya dapat nilai yang pas-pasan, apalagi materinya lebih sulit seperti ini. Aku berusaha terus membaca dan mempelajarinya, aku membuka youtube setiap membutuhkan penjelasan dari materi yang kubaca. Tanpa ku sadari, hari ternyata sudah mulai gelap. Ibu menghampiriku di kamar karena aku sama sekali tak keluar kamar sejak pulang sekolah tadi.

“Lagi apa, Nak?” tanya Ibu sambil duduk di sampingku.

“Belajar Bu.” Aku tersenyum sambil menunjukkan brosur-brosur yang diberikan Hanum, “Aku mau daftar beasiswa Bu, diajak Hanum. Tapi, menurut Ibu aku bisa gak ya?”

BACA JUGA  8 Hikmah kisah Hatim Al Ashom yang inspiratif

Ibu tersenyum sambil mengelus rambutku, “Kalau kamu berusaha, pasti selalu ada jalan. Ibu sangat percaya kamu bisa, apalagi Ibu lihat semangat kamu belajar sampai lupa waktu begini.” Kata Ibu sambil tertawa kecil.

Aku tersenyum, namun dua detik kemudian aku memasang raut sedih. “Tapi, nilai aku di sekolah kan pas-pasan Bu, sedangkan, sainganku nanti pasti jauh-jauh lebih pintar.”

“Bisa jadi nanti kamu yang lebih pintar setelah kamu belajar setiap hari, bisa jadi keberuntungan datang kepada kamu. Nak, gak ada yang sia-sia untuk belajar, kalaupun gak lolos, yang penting kamu kan sudah menambah ilmu baru dari persiapan belajar kamu ini. Gak ada salahnya untuk mencoba. Ibu support seratus persen.”

Aku tersenyum dan memeluk Ibu.

Hari terus berganti, aku menghabiskan waktuku untuk belajar mempersiapkan pendaftaran beasiswa. Begitupun dengan Hanum. Sampai tidak terasa, besok adalah hari tes beasiswaku yang pertama. Aku akan ujian bersama dengan Hanum.  Jadi, hari ini aku belajar bersama Hanum di rumahnya.

Aku menghela nafas berat. Hanum si perhatian menyadarinya.

“Kenapa?” tanyanya.

“Takut.”

“Normal. Aku juga, tapi jangan jadi pesimis. Kamu tahu ‘nggak, kamu keren banget, peningkatan belajar kamu pesat banget. Kamu harus percaya diri.”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

Gagal

Hingga akhirnya, hari tes pun tiba. Aku sudah duduk di sebuah ruangan dan berhadapan dengan komputer diiringi kertas dan pulpen. Aku mengerjakan tes dengan sangat serius. Tanpa ada waktu menoleh sedikitpun, hingga akhirnya waktu pengerjaan sudah selesai. Aku tidak menjawab beberapa soal. Cukup sulit, tapi aku merasa bisa mengerjakan cukup banyak. Hari terus berlalu, aku dan Hanum menjalani beberapa tes untuk beasiswa, lima tes totalnya. Aku tidak bisa berandai-andai dengan hasilnya, tidak tahu, tapi aku sudah mengerjakan semaksimal mungkin.

Pengumuman hasil tes beasiswa yang pertama sudah keluar. Aku bersama-sama dengan Hanum melihat hasil pengumumannya di kamar Hanum. Jantungku benar-benar berdebar tidak karuan, tanganku keringat dingin.

Hanum Salinda. Nama Hanum terpampang di layar laptopnya. Tapi, tidak dengan namaku. Aku tidak berhasil.

“Selamat Hanum, aku tahu kamu pasti lolos.”

Hanum merangkulku, “Masih ada empat tes yang belum keluar pengumumannya. Jangan putus asa ya.”

“Aku udah duga kok kalau aku gak akan bisa lolos. Aku gak bisa, Num. Aku payah.”

BACA JUGA  Misteri makam tua, tradisi dan mitos Desa Pagerwojo

Hanum memelukku, “Jangan ngomong gitu, aku percaya kamu bisa dapat beasiswa juga. Kamu jangan pesimis, berdoa ya. Aku akan selalu nemenin kamu buat liat hasil tesnya.”

Aku menangis dipelukan Hanum, entahlah, padahal aku memang merasa akan gagal, tapi hatiku sangat sakit, rasanya hasilnya berbanding terbalik dengan waktu yang sudah ku korbankan untuk belajar. Nak, gak ada yang sia-sia untuk belajar, kalaupun gak lolos, yang penting kamu kan sudah menambah ilmu baru dari persiapan belajar kamu ini. Gak ada salahnya untuk mencoba. Kata-kata Ibu terngiang-ngiang menguatkanku.

baca juga 5 life mapping

Berhasil

aku bisa karena aku percaya

Waktu berjalan dengan cepat. Satu-satu pengumuman beasiswa sudah keluar. Tidak lolos. Tidak lolos. Tidak lolos. Aku tidak berhasil lolos empat beasiswa. Tinggal satu lagi, hari ini, dan aku sudah yakin hasilnya akan sama saja.

“Aku gak mau buka.” Kataku pada Hanum.

“Kok gitu?”

Aku menangis kesal, “Buat apa, Num? Hasilnya pasti akan sama. Aku gak pernah bisa buat Ibu benar-benar bangga. Aku gak bisa, Num.”

Hanum mengelus pundakku, “Hei, jangan pernah kalah sebelum berperang. Jangan pernah lari dari apa yang harus kamu hadapin. Kita liat sama-sama, dan aku yakin, kamu pasti lolos.”

“Kamu gak perlu hibur aku terus, Num.”

“Aku gak hibur kamu, aku cuma kasih tahu, aku percaya kamu bisa. Kamu juga harus percaya sama diri kamu sendiri.”

Aku terdiam sambil menghela nafas. Membangkitkan diriku dari rasa putus asa. Aku harus percaya pada diriku sendiri. Kalaupun gagal, ini bukan akhir dari segalanya. Masih banyak jalan yang bisa aku coba.

Aku bersama-sama dengan Hanum melihat hasil pengumuman. Hasilnya….

LULUS

Aku berteriak sekencang yang ku bisa. Aku dan Hanum berpelukan sambil melompat di atas kasur.

“Apa ku bilang.” Kata Hanum.

Aku buru-buru pulang ke rumah diantar Hanum. Memberi tahu Ibu kabar yang membahagiakan. Baru kali ini aku merasa benar-benar membuat Ibu bangga. Ibu menangis haru, aku juga ikut menangis melihat Ibu menangis bahagia. Aku memeluk Ibu dan Hanum. Aku bersyukur memiliki orang-orang yang sangat support dalam hidupku. Tidak ada yang tidak mungkin, selama kita berusaha. Satu hal yang paling penting, percaya pada diri sendiri.

Selesai.

baca juga Self Improvement

Leave a Reply