8 Hikmah kisah Hatim Al Ashom yang inspiratif

Hikmah kisah Hatim Al Ashom – Adalah dialog antara Hatim Al Ashom dan Gurunya terkait apa saja yang sudah pelajari oleh Hatim Al Ashom selama berguru kepada Syeh Saqiq Al Balkhi.

Tudzkaru al Qissoh lil mawaidz kisah dituturkan untuk diambil pelajaran. Demikian ungkapan spirit dari pentingnya kita membaca kisah dan mengambil palajaran darinya. Bahkan metode cerita menjadi salah satu metode pembelajaran untuk meningkatkan minat belajar sekaligus memudahkan siswa dalam memahami substansi pelajaran

Untuk mendapatkan update dan memudahkan membaca artikel dari web ini tanpa membuka browser internet, anda dapat mengunduh Aplikasi dunialiterasi.com di Play Store.

Dalam kehidupan ini hakekatnya kita adalah belajar, ya kita harus belajar secara kontinyu dalam kehidupan ini. Dan kehidupan ini adalah sumber belajar bagi kita umat manusia yang memang di desain untuk selalu belajar. Nabi Muhammad menyampaikan dalam sabdanya :

Tholabul ilmi faridhotun Ala kulli muslimin wa muslimatin artinya mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi muslim laki-laki dan muslimah (perempuan). Kapan kita wajib mencari ilmu? Dalam hadits yang lain dijelaskan أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ artinya: tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat. Artinya sejak kita dalam ayunan dan dekapan ibu (balita, masa kecil) hingga meninggal. Tentu saja ini tidak tekstual begitu bayi lahir terus harus sekolah.

baca juga: New: Makna literasi, Dialektika Peradaban Manusia

Belajar adalah proses berkelanjutan dalam kehidupan ini. Adakalanya diformalkan dalam jenjang sekolah, mulai dari playgroup hingga pasca sarjana. Namun substansi belajar atau mencari ilmu yang sesungguhnya adalah dalam perjalanan hidup kita umat manusia itu sendiri.

Membaca lingkungan sekitar sebagai proses belajar dalam kehidupan

Kapanpun dan dimanapun kita bisa belajar. Dari apapun kita juga kita bisa belajar. Ayat pertama yang diturunkan adalah perintah membaca, sementara Nabi muhammad adalah tidak bisa baca tulis. Artinya membaca tidak terbatas pada teks, namun konteks juga tidak kalah pentingnya.

BACA JUGA  Aku Bisa Karena Aku Percaya: Motivasi Kehidupan

Membaca lingkungan sekitar, mengamati apa yang terjadi, kemudian kita menjadikannya pelajaran dalam kehidupan adalah salah satu hal penting yang harus kita lakukan.

baca juga: Dunia literasi : mewujudkan kemudahan hidup

Ketika kita hendak melakukan penelitian, yang kita baca adalah membandingkan idealitas dan realitas, caranya? Tentu saja dengan mengamati dan mengkaji melalui media literatur dan realitas lapangan. Hal ini juga merupakan implementasi dari belajar – proses membaca lingkungan sekitar.

Secara teroritis, manusia lahir dalam kondisi “kosong”. Apa yang mewarnai nya kemudian? Lingkungan sekitarnya. Melalui proses sosialisasi, identifikasi, imitasi dan seterusnya. Dalam konteks agama, yang memberikan warna dalam kehidupan adalah orang tua, terutama dalam hal Aqidah dan keimanan.

Selain realitas disekitar kita, salah satu sumber belajar yang cukup penting adalah belajar dari kisah inspiratif. Sebagaimana disinggung diatas, tudzkaru al qissoh lil mawaaidz, kisah sengaja dituturkan untuk diambil pelajaran.

Terlebih dalam konteks spiritual, membaca dan memahami sebuah kisah hikmah inspiratif sangat penting dalam meningkatkan motivasi kita. berikut ini akan diulas, kisah hikmah dibalik dialog Hatim Al Ashom dan Gurunya

Hikmah kisah Hatim Al Ashom dan Gurunya

Dituturkan Oleh Iman Al Ghozali (Abi Hamid, muhammad bin Muhammad Al Ghozali) penting untuk mengambil pelajaran bagi kita dalam kehidupan ini. Beliau mencontohkan Hikmah dibalik kisah Hatim Al Ashom dan gurunya.

Hikmah kisah Hatim Al Ashom

Wahai anak ku (murid), ketika kalian mengetahui dan memhami cerita ini, niscaya engkau tidak membutuhkan ilmu yang banyak dalam kehidupanmu. Maka renungkanlah kisah Hatim Al Ashom berikut ini.

Suatu Hari Syeh Syaqiq Al Balkhi Bertanya kepada Hatim Al Ashom , “engkau telah belajar bersamaku selama tidak kurang dari 3o tahun? apa yang engkau dapatkan selama itu?

Bagiku ada 8 Faedah utama yang selama ini aku pelajari darimu wahai guruku, dan 8 hikmah itu telah cukup bagiku.

Yuk simak apa saja 8 faedah ini.

8 Faedah penting Hatim Al Ashom selama 30 Tahun berguru

Hikmah kisah Hatim Al Ashom

1. Aku telah mengamati kebanyakan manusia saling mencintai, saling merindukan diantara mereka. Sebagian kekasihnya menemaninya ketika sakit, dan mengantar jenazah kekasihnya sampai ke liang lahat, dan kemudian pulang meninggalkannya.

Tidak ada satupun yang menemaninya hingga ke dalam kubur. Lalu aku berfikir,”sebaik baiknya kekasih adalah yang menemani dan menghibur didalam liang kubur”. Dan aku tidak menemukannya kecuali Amal Kebaikan, maka akun menjadikan amal kebaikan sebagai kekasihku.

Dengan menebar amal kebaikan niscaya akan banyak kekasih yang menemani kelak di alam kubur. Maka perbanyaklah “kekasih sejati” yang akan menemani kelak di alam kubur.

2. Aku telah mengamati manusia dalam menjalani kehidupannya sebagian besar mengikuti hawa nafsunya, mereka memenuhi keinginan hawa nafsunya dalam menjalani kehidupannya. Maka aku teringat akan Firman AllAh

Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggalnya” maka aku bergegas melawan nafsuku, dan selalu mempersiapkan diri untuk “memerangi” nya.

3. Aku mengamati dan melihat manusia dalam kehidupannya mengumpulkan harta dan menyimpannya untuk dirinya. Bahkan saat ini realita kontemporer manusia mengumpulkan harta yang tidak habis sampai ratusan generasi. Maka aku teringat akan firman Allah

Apapun yang ada disisimu akan lenyap, dan apa yang ada disisi Allah adalah kekal” maka aku bergegas menyerahkan hartaku untuk orang orang miskin dan yang membutuhkan sebagai simpananku disisi Allah, dan tidak akan habis, kekal selamanya

4. Aku telah mengamati dan melihat manusia beranggapan bahwa kemuliaan, dan keluhuran derajad adalah dari banyaknya pengikut dan suku. Sebagian yang lain beranggapan dari banyaknya keturunan, sebagian yang lain beranggapan dari berlaku dholim dengan mengusai harta orang lain, sabagian yang lain beranggapan dari gaya hidup mewah dan berfoya foya.

Maka aku merenungkan firman Allah “sesungguhnya orang paling mulia dari kalian disisi Allah Adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian” maka meyakini bahwa Alqur an inilah yang hak dan benar, sementara anggapan kebanyakan manusia tadi adalah tertipu dan akan sirna dan cepat berlalu dalam kehidupan ini.

5. Aku mengamati dan menemukan bahwa manusia saling mencela, menghina, memfitnah disebabkan karena kedengkian dalam harta, ilmu, dan jabatan. Maka aku teringat akan Firman Allah “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia” .

aku tahu dan memahami bahwa pembagian kehidupan ini sudah ditentukan oleh Allah sejak zaman Azali. Manusia  mendapatkan bagiannya sendiri sendiri dalam kehidupannya. Maka aku tidak dengki pada satu orangpun atas pembagian yang telah Allah tentukan dalam kehidupan ini

6. Aku melihat permusuhan diantara manusia karena suatu sebab dan tujuan. Padahal Allah telah berfirman “Sesungguhnya Setan Adalah musuh yang nyata Bagimu” maka aku tahu, tidak boleh memusuhi siapapun kecuali setan

7. Aku mengamati kebanyak manusia, bekerja dengan sungguh sungguh dan sangat bersemangat dalam mengumpulkan harta. Hingga mereka terjerumus dalam perkara subhat bahkan haram. Padahal kehidupan dunia ini sudah dijamin Oleh Allah, dan kita tidak perlu begitu menggebu gebu hingga melupakan batas halal dan haram. Allah Telah Berfirman” dan tidak satupun makhluk bernyawa di bumi melainkan telah dijamin oleh Allah rizki nya”.

8. Aku melihat manusia sebagian bergantung dan mengandalkan manusia lainnya, sebagian bergantung pada Dirham (Harta), sebagian bergantung pada  kekuasan dan sebagian mengandalkan pekerjaan. Lalu aku merenungi Firman Allah “Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, NIscaya Allah Akan mencukupinya. Maka aku berserah diri kepada Allah dan dialah Kecukupanku.

Kemudian, syeh Syaqiq berkata “ semoga Allah memberimu pertolongan, sesungguhnya aku telah mempelajari kitab Taurat, Zabur, Injil dan Al qur-an, dan aku menemukan substansi dari ke-empatnya adalah 8 hal yang baru saja engkau sampaikan”

BACA JUGA  Misteri makam tua, tradisi dan mitos Desa Pagerwojo

Demikian 8 hikmah kehidupan dari hikayat Hatim Al Ashom dan Gurunya Syeh Syaqiq Al Balkhi. Semoga kita bisa menjadikannya hikmah dalam menjalani kehidupan ini. Semoga menginspirasi kita untuk selalu menjadi lebih baik seiring bertambah umur kita.

sebaik baiknya manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya, dan sebaliknya, seburuk buruknya manusia adalah yang panjang umurnya dan buruk amal perbuatannya” .

selain itu kita harus memegang prinsip untuk menjadi lebih baik, dengan spirit “beruntunglah orang-orang yang harinya (saat ini) adalah lebih baik dari hari kemarin”. Salam literasi.

Leave a Reply